PPDB Berbasis Usia Jadi Polemik, Ini Jawaban Disdik DKI Jakarta

News | Selasa, 30 Juni 2020 19:52
PPDB Berbasis Usia Jadi Polemik, Ini Jawaban Disdik DKI Jakarta

Reporter : Ahmad Baiquni

Usia menjadi prasyarat yang diterapkan Disdik DKI untuk mengurangi jumlah peserta didik yang melebihi daya tampung sekolah.

Dream - Seleksi Penerimaan Siswa Didik Baru (PPDB) yang diterapkan di DKI Jakarta menuai beragam protes. Sistem yang diberlakukan pada tahun ini dianggap diskriminatif lantaran menerapkan standar usia sebagai syarat masuk.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, menegaskan faktor usia idel tidak sepenuhnya menjadi syarat mutrak diterimanya seorang peserta didik. Seleksi PPDB sampai saat ini masih tetap menggunakan sistem zonasi.

" Zonasi sekolah diterapkan pada kelurahan di sekitar sekolah," ujar Nahdiana dalam webinar Konferensi Pers Bersama Kemendikbud dan Disdik DKI Jakarta, Selasa, 30 Juni 2020.

Nahdiana mengakui pihaknya menerapkan usia sebagai prasyarat anak diterima di sebuah sekolah pada tahun ini. Di tahun-tahun sebelumnya, pengelola sekolah menggunakan acuan nilai Ujian Nasional (UN).

 

2 dari 3 halaman

Tujuan Penggunaan Syarat Usia

Menurut Nahdiana, selain zonasi diperlukan syarat tambahan untuk menyeleksi siswa. Hal ini mengingat daya tampung sekolah negeri di seluruh DKI Jakarta terbatas.

" Kami tetap menerapkan zonasi. Lagi-lagi karena daya tampung, tentunya anak-anak yang ada dalam zonasi lebih banyak dari daya tampung. Sehungga untuk memotong daya tampung itu dengan menggunakan usia," kata dia.

 

3 dari 3 halaman

Perlindungan Kepada Kelas Bawah

Plt Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendididkan dan Kebudayaan, Hamid Muhammad, mengatakan sistem zonasi dalam PPDB sudah diterapkan sejak 2017. Tetapi, penerapannya dikembalikan kepada kemampuan daerah.

" Kita tahu peraturan ini tidak bisa langsung diadopsi daerah, sehingga daerah melakukan penyesuaian," kata dia.

Selanjutnya, Hamid mengatakan semangat yang diusung dalam sistem zonasi adalah pemerataan kesempatan bagi peserta didik, khususnya dari kalangan bawah. Sebab, anak-anak dari masyarakat kelas bawah kerap tersingkir akibat sistem yang lebih mengutamakan siswa berprestasi dari kalangan menengah ke atas.

" Kita berikan perlindungan kepada mereka (masyarakat kelas bawah) sebab mereka tidak ada yang memproteksi," kata Hamid.(sah)

Join Dream.co.id