Kisah Pilu Kakek 70 Tahun Mengemis Saat Idul Fitri

News | Senin, 25 Mei 2020 15:35
Kisah Pilu Kakek 70 Tahun Mengemis Saat Idul Fitri

Reporter : Annisa Mutiara Asharini

Ia terpaksa mengemis untuk menghindari pukulan sang istri.

Dream - Tak semua orang dapat beruntung merayakan Idul Fitri. Seorang kakek bernama Aslan Abdullah justru bernasib malang di Hari Raya.

Pria berusia 70 tahun itu tak bisa merayakan lebaran bersama keluarga. Abdullah yang tinggal di Tanah Kusir, Jakarta Selatan itu justru mengemis di atas kursi roda.

Perjuangan Abdullah terasa sia-sia lantaran uang tersebut kemudian dirampas oleh istri dan anaknya. Ia mengaku sering dipukuli sang istri apabila tak membawa pulang uang.

Uang tersebut biasanya dipakai untuk membayar kontrakan rumah Abdullah yang terletak di pinggir rel kereta. Tak hanya itu, ia juga kerap menerima cacian dari anaknya sendiri.

 Aslan Abdullah© Foto: Instagram @makassar_iinfo

Foto: Instagram @makassar_iinfo

" Ngatain saya tua, tol**. Saya gak kuat neng, gak kuat hidup. Jalan aja udah gak kuat saya," kata Aslan dalam video yang diunggah akun @makassar_iinfo.

Abdullah hanya punya satu permintaan di Hari Raya. Bukan uang atau pun baju baru, ia justru berharap agar malaikat maut segera mencabut nyawanya.

" Ya Allah, malaikat yang ada di atas langit turun lah, tolong saya malaikan Izrail," ujarnya pilu. (mut)

 

2 dari 6 halaman

Cerita di Balik Foto Gadis Yatim Piatu di Makam Ibunda

Dream - Peringatan Hari Ibu yang digelar setiap tahun justru membuat gadis Malaysia bernama Nurul NurHalilah Abdul Rahman merasa sedih.

Itu karena ibunya meninggal dunia karena kanker ovarium pada tahun 2015. Ayahnya juga sudah meninggal dunia sebelum dia dilahirkan lebih dari 20 tahun yang lalu.

 Cerita di Balik Foto Gadis Yatim Piatu di Makam Ibunda© Dream

NurHalilah yang lebih akrab dipanggil Lila merupakan anak tunggal. Sejak 2016 hingga 2019 dia tinggal bersama keluarga bibinya di Seri Kembangan, Selangor.

Kisah Lila menjadi viral setelah dia mengunggah foto lama. Di foto yang diunggah pada Minggu, 10 Mei 2020, Lila sedang berdoa di pusara ibunya.

3 dari 6 halaman

Sedih Setiap Peringati Hari Ibu

Lila mengaku sangat sedih setiap kali melihat kebersamaan teman-temannya dengan ibu mereka ketika memperingati Hari Ibu.

" Ketika melihat orang lain merayakan Hari Ibu, saya harus bersedih sebab teringat almarhumah. Tetapi apa daya, saya sudah ridho dan selalu berdoa untuk ibu saya," katanya.

4 dari 6 halaman

Doa dan Foto Jadi Penawar Rindu

Bagi Lila, hanya doa dan foto yang menjadi penawar rindunya kepada sang ibu. Meski separuh nyawanya hilang, Lila harus tegar dengan tantangan hidup di masa depan.

" Jika terlalu menuruti emosi memang sedih. Tapi Alhamdulillah pegangan agama saya masih kuat. Saya ingin meneruskan hidup," ujar Lila.

Dia bahkan berusaha memperbanyak amalan kebaikan agar bisa bertemu dengan ibunya kelak di akhirat.

5 dari 6 halaman

Tak Ada yang Bisa Gantikan Ibu

Menurut Lila, sebagian orang mungkin mudah mengatakan hilang satu, tumbuh seribu. Tapi bagi Lila ibunya tidak bisa digantikan oleh siapa pun.

" Meskipun orang lain suruh menganggap seperti ibu sendiri, tapi saya merasakan perbedaan dan tidak ada yang bisa menggantikan ibu saya," katanya.

6 dari 6 halaman

Hormati Orangtua Selagi Masih Hidup

Lila kemudian berpesan agar mereka yang berstatus anak untuk senantiasa menghargai kedua orangtua selagi mereka masih ada.

" Selagi orangtua masih ada, berbaktilah sebelum terlambat. Jika orangtua sudah menghadap-Nya, menyesal tidak ada gunanya, menangis air mata darah juga tidak akan mengembalikan mereka," ujar Lila.

Menurut Lila, sekarang dia telah kembali ke rumah asalnya di Alor Setar, Kedah, setelah menamatkan ujian akhir sekolah menengah Sijil Tinggi Pelajaran Malaysia (STPM).

Sumber: mStar.com.my

Terkait
Join Dream.co.id