Kisah Ahed Tamimi, Remaja Palestina yang Berani Pukul dan Tampar Tentara Israel

News | Jumat, 14 Mei 2021 10:15

Reporter : Putu Monik Arindasari

Rakyat Palestina menyebut dia pahlawan karena berani melawan tentara Israel yang menduduki wilayah Tepi Barat, tempatnya bermukim.

Dream - Ahed Tamimi disebut sebagai 'Shirley si Pemarah' oleh Israel. Namun rakyat Palestina menyebut dia pahlawan karena berani melawan tentara Israel yang menduduki wilayah Tepi Barat, tempatnya bermukim.

Orang Israel juga mengatakan Tamimi merupakan bagian dari 'Pallywood' atau propaganda Palestina untuk menjelekkan Israel di media massa.

Remaja perempuan bernama asli Ahed Bassem al-Tamimi yang usianya kini menginjak 21 tahun itu sempat viral karena aksinya ketika memukul dan menampar tentara Israel saat masih berusia belasan tahun. Aksinya tersebut terekam dalam video lalu menyebar luas di media sosial.

Tamimi dikenal sebagai aktivis Palestina yang berasal dari keluarga yang juga aktivis. Dia tinggal di Desa Nabi Saleh, Tepi Barat. Di desa ini unjuk rasa sudah jadi pemandangan biasa sejak 2010.

Penduduk desa kerap melempari tentara Israel dengan batu karena tanah mereka dirampas untuk pembangunan pemukiman ilegal warga Yahudi, seperti dilansir the Washington Post, Desember 2016.

Kisah Ahed Tamimi, Remaja Palestina yang Berani Pukul dan Tampar Tentara Israel
Ahed Tamimi, Remaja Palestina Yang Berani Pukul Dan Tampar Tentara Israel Foto: Merdeka.com
2 dari 7 halaman

Tamimi Memukul dan Menendang Tentara Israel

Menurut militer Israel, pasukan mereka sedang menghadapi kerusuhan dari sekitar 200 warga Palestina, termasuk keluarga Tamimi. Israel mengaku sejumlah pendemo masuk ke dalam rumah-rumah warga dan terus melempari mereka dengan batu.

Dalam video yang menjadi viral, Tamimi tampak berusaha mengusir kedua tentara Israel sambil memukul, menendang, dan menampar tentara tersebut. Kedua tentara berpakaian lengkap dan bersenjata itu terlihat tidak membalas perbuatan Tamimi.

Ayah Tamimi menuturkan putrinya bereaksi ketika tentara Israel menembak sepupunya, Muhammad al-Tamimi, pada 15 Desember 2016. Aksi penembakan itu terjadi saat saat sang sepupu ikut berunjuk rasa menentang keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Beberapa hari kemudian sekitar pukul 04.00 tentara Israel mendatangi rumah Tamimi dan menangkapnya.

" Tentara mendatangi rumah dan menangkap putri saya Ahed Tamimi setelah media Israel menyerang dia karena menghentikan tentara di depan rumah kami ketika si tentara menembak kepala seorang anak," kata ayah Tamimi akun Facebooknya.

Ia juga mengatakan tentara Israel mengambil ponsel, kamera, laptop, menggeledah rumah dan memukuli istri dan anaknya.

3 dari 7 halaman

Mendapat Penghargaan Karena Keberaniannya

 Ahed Tamimi
© Merdeka.com

Nama Tamimi mulai sebenarnya mulai dikenal luas saat berani melawan tentara Israel pada 2012. Video ketika dia sedang berteriak di depan wajah tentara Israel sambil mengacungkan tinjunya juga beredar di Internet.

Pada 2015, foto ketika dia sedang menggigit lengan tentara Israel sewaktu ingin meringkus sepupunya, Muhammad Tamimi, juga menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina.

Pada 2012 dia mendapat penghargaan Handala Courage dari Turki karena keberaniannya melawan tentara Israel dan Recep Tayyip Erdogan, yang saat itu masih menjabat perdana menteri. Erdogan menjamunya sarapan dan mengajak berfoto. Media sosial menyebut Tamimi sosok yang berani dan cantik.

Ayahnya pernah ditangkap Israel lebih dari sembilan kali, ibunya lima kali, dan kakaknya dua kali. Kedua pamannya gugur sebagai martir saat melawan tentara Israel.

" Pelajaran favorit saya di sekolah adalah olah raga. Kalau saja tidak ada pendudukan (Israel) saya ingin jadi pemain sepak bola," kata Tamimi dalam sebuah film dokumenter pendek.

(Sumber: Merdeka.com)

4 dari 7 halaman

Keteguhan Muslim Palestina Lebih Kuat Daripada Peluru Zionis Israel

Dream - Jemaah Palestina di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem mengatakan mereka bertekad untuk menikmati bulan suci Ramadan di dalam halaman masjid walaupun ada serangan mengerikan dari Israel.

Banyak jemaah di dalam masjid terluka oleh pasukan Israel pada Jumat malam minggu lalu, namun sebanyak 90.000 orang tetap menuju Al-Aqsa pada Sabtu untuk beribadah pada malam Lailatul Qadar.

Banyak dari mereka datang dari jauh, dari Tepi Barat yang telah diduduki Israel meski dihuni mayoritas warga Palestina, walaupun bus-bus mereka dihalangi oleh polisi Israel. Banyak yang turun dan mulai jalan kaki menuju Yerusalem, kemudian dijemput orang Yerusalem Palestina dengan mobil mereka, mengangkut jemaah yang datang dari jauh menuju Al-Aqsa.

5 dari 7 halaman

Lebih Kuat Dari Peluru

Mohammed Atiq, dari kota Jenin di Tepi Barat, mengatakan serangan hari Jumat di Al-Aqsa tidak menyurutkan tekad pada jemaah.

“ Mereka mulai berusaha membersihkan Al-Aqsa, berusaha merusak ibadah malam,” ujarnya kepada Middle East Eye, dikutip Selasa 11 Mei 2021.

“ Tapi kehendak para jemaah lebih kuat daripada peluru.”

Biasanya pada 10 malam terakhir Ramadan, Al-Aqsa sangat ramai. Banyak jemaah beriktikaf di dalam masjid, baik perempuan dan laki-laki.

 

6 dari 7 halaman

Harus Terikat dengan Al-Aqsa

Suad Abu Eraim, dari kota Yatta di Tepi Barat selatan, mengatakan dia melalui perjalanan yang sulit untuk sampai di Yerusalem, mengabiskan waktu berjam-jam menunggu di pos pemeriksaan Israel.

Suad mengatakan dia pergi ke Al-Aqsa kapan pun dia punya kesempatan, yang biasanya terjadi ketika dia dapat memanfaatkan pelonggaran pembatasan untuk mengakses Yerusalem selama Ramadan.

“ Ini masjid Al-Aqsa, ini masjid kami, kami harus tetap terikat dengannya,” ujarnya kepada Middle East Eye.

“ Kami harus ada di sini, kaum tua atau muda, dari berbagai tempat.”

7 dari 7 halaman

Ketegangan di Perbatasan

Ketegangan di Yerusalem meningkat sepanjang bulan ini. Warga Palestina yang berkumpul pada malam hari di pintu masuk Gerbang Damaskus menuju Kota Tua, harus dihadapkan dengan pasukan Israel yang berusaha membubarkan paksa mereka pada pekan pertama Ramadan.

Baru-baru ini, situasinya mencapai titik didih di lingkungan Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur yang diduduki, di mana unjuk rasa berlangsung untuk menentang rencana penggusuran keluarga Palestina yang diserang polisi Israel.

Terlepas dari kekerasan tersebut, banyak warga Palestina tetap bersikeras melanjutkan ibadah malam mereka di Al-Aqsa.

Sumber: merdeka.com

Join Dream.co.id