Ketika `Sihir` Piala Dunia Ditaklukkan Tayangan Ramadan

News | Selasa, 15 Juli 2014 07:00
Ketika `Sihir` Piala Dunia Ditaklukkan Tayangan Ramadan

Reporter : Sandy Mahaputra

Siaran turnamen sepakbola terbesar di dunia itu telah gagal menggeser perhatian pemirsa muslim di negara ini dari tayangan bertema Ramadan.

Dream - Euforia Piala Dunia ternyata tidak berhasil menyihir pemirsa Mesir untuk mengalihkan tontonan dari acara-acara Ramadan.

Selama bertahun-tahun, Ramadan menjadi waktu puncak bagi saluran satelit dalam menggaet pemirsa untuk menyaksikan tayangan bertema Ramadan. Tapi tahun ini, Piala Dunia 2014 muncul sebagai pesaing kuat untuk dua minggu pertama bulan Ramadan.

Sebelum Ramadan, banyak yang memperkirakan bahwa perhatian penonton akan terbagi dengan Piala Dunia, di mana pemirsa laki-laki menonton sepakbola dan penonton perempuan menyaksikan sinetron Ramadan.

Namun hingga berakhirnya Piala Dunia, beberapa pengamat yakin bahwa siaran turnamen sepakbola terbesar di dunia itu telah gagal menggeser perhatian pemirsa muslim Mesir dari tayangan Ramadan.

Penulis skenario dan kritikus Mesir, Magda Khairallah berpendapat, pertandingan Piala Dunia ternyata tidak mampu menggeser pemirsa untuk menyaksikan sinetron.

Tidak seperti pertandingan sepakbola yang ditayangkan pada waktu tertentu dan hanya pada saluran tertentu, sinetron Ramadan memiliki keuntungan jadwal siaran yang lebih beragam dan ditayangkan di berbagai saluran satelit secara gratis.

" Jadwal pertandingan sepakbola tetap, dengan demikian para penggemarnya akan beralih dari menonton program Ramadan untuk beberapa waktu kemudian akan beralih ke sinetron favorit mereka pada waktu yang berbeda," kata Khairallah.

Pengamat olah raga Mahmoud Sabry setuju dengan Khairallah, dengan menambahkan serial Ramadan menang atas pertandingan Piala Dunia.

" Tidak semua orang mampu berlangganan saluran yang menayangkan siaran Piala Dunia 2014. Ini merupakan keuntungan bagi sinetron Ramadan yang disiarkan pada saluran free-to-air," katanya.

Sabry mengatakan kepada Al Arabiya News, Senin 14 Juli 2014, tarif berlangganan saluran Piala Dunia mahal sehingga berdampak pada jumlah penonton. Sehingga mereka akan menonton drama TV dan mengikuti hasil pertandingan nanti.

" Sebagian besar keluarga tidak mampu membayar tarif berlangganan saluran yang menayangkan Piala Dunia," kata Sabry.

Dengan demikian, kelompok pemirsa usia tertentu akan pergi ke warung-warung kopi yang memutar pertandingan, di mana sebagian besar waktunya berbarengan dengan jam berbuka.

Tapi bagi kebanyakan orang Mesir, menghabiskan Ramadan di pertemuan keluarga tetap merupakan cara terbaik untuk menjalani bulan suci.

" Saya lebih memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga di mana aku bisa merasakan semangat Ramadan atau berkumpul dengan teman-teman untuk buka," kata Sara Sabry, warga Mesir yang bekerja di Uni Emirat Arab. (Ism)

Join Dream.co.id