Keteririsan Tempat Tidur 75%, RSD Wisma Atlet Sempat Tunda Terima Pasien

News | Selasa, 15 Juni 2021 16:01

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Kenaikan keterisian tempat tidur terjadi sejak pasca Idulfitri 2021.

Dream - Pengelola Rumah Sakir Darurat (RSD) Wisma Atlet, Jakarta memutuskan menunda dahulu penerimaan pasien COvid-19 yang akan dirawat. Tindakan ini dilakukan seiring dilakukannya pengaturan tempat tidur yang akan digunakan. 

Menurut Koordinator Humas dan Komandan Lapangan RSD Wisma Atlet Letnan Kolonel Laut M Arifin, sebelum terjadinya peningkatan kasus Covid-19, kondisi RSD Wisma Atlet memang hampir tak pernah mengalami antrean pasien.

Namun dalam beberapa pekan terakhir, antrean mulai muncul dan mengakibatkan beberapa pasien harus menunggu antrean di lantai RSD. Bangku bangku yang sediakan petugas ternyata tidak dapat menampung jumlah pengantre.

" Pagi ini saya kendalikan dulu enggak ada yang ngirim (pasien) dulu mau persiapan atur bed. Siang kayaknya baru pada mau ngirim (pasien)," kata Arifin saat dihubungi Liputan6.com, Selasa, 15 Juni 20210.

Arifin melaporkan antrean panjang hingga dini hari sempat terjadi kemarin (Senin, 14 Juni 2021). Di hari itu, sebanyak hampir 600 pasien masuk ke RSD Wisma Atlet. Sementara tingkat keterisian kamar diakui sudah hampir penuh. 

" Iya intinya untuk ketersediaan (kamar isolasi) sudah lampu kuning menjelang merah," jelas dia.

Sebelumnya, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah dalam Rapat Koordinasi Satgas Nasional menyatakan tingakt keterisian di RSD Wisma Atlet meningkat signifikan.

Keteririsan puncak BOR terjadi pada 1 Desember 2020 lalu mencapai 88,63 persen. Kemudian di Januari 2021, terjadi penurunan ke angka 84 persen dan turun kembali ke posisi 79 persen pada Februari 2021.

" Saat ini, kalau kita melihat data, ternyata ada kenaikan mulai naik pada tanggal 19 Mei 2021 atau sekitar satu pekan setelah libur Idulfitri," tutur Dewi.

Data terbaru pada 12 Juni 2021 kemarin mencatat tingkat keterisian di RSD Wisma Atlet sudah mencapai 75,19 persen.

(Sah, Sumber: liputan6.com)

Keteririsan Tempat Tidur 75%, RSD Wisma Atlet Sempat Tunda Terima Pasien
Nakes Wisma Atlet (Foto: Liputan6.com)
2 dari 4 halaman

RSD Wisma Atlet Siagakan 4 Tower Tambahan untuk Pasien Covid-19 Bergejala

Dream - Kasus Covid-19 di Indonesia, khususnya dalam sepekan terakhir, mengalami penambahan di level-level tertinggi. Kondisi ini berpengaruh pada tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit.

Koordinator Rumah Sakti Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Mayor Jenderal Tugas Ratmono, mengatakan per 25 Januari 2021, hunian RSD Wisma Atlet mencapai 77,63 persen. Dari 5.994 tempat tidur yang disiapkan telah diisi oleh 4.653 pasien.

Tugas mengatakan, pasien ini banyak dikirimkan dari puskesmas atau rumah sakit rujukan ke RSD Wisma Atlet. Sementara, lalu lintas pasien masuk dan keluar masih sangat fluktuatif.

" Fluktuasi pada Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet antara yang masuk dan keluar masih hampir sama, rata-rata 390-400 pasien per hari," ujar Tugas, disiarkan Channel YouTube BNPB.

Pada beberapa pekan ini, kata tugas, fluktuasi masih sangat dinamis. Sehingga tetap harus waspada.

" Bagaimana mengantisipasi untuk melakukan penanganan dengan baik dan bagaimana mencegah pasien gejala ringan menjadi berat," kata Tugas.

3 dari 4 halaman

Selanjutnya, Tugas menjelaskan pasien yang masuk RSD Wisma Atlet mulai banyak yang bergejala baik ringan, sedang maupun berat. Menggeser dominasi pasien yang tidak bergejala.

" Dengan keadaan ini kita harus lakukan suatu sikap atau antisipasi, dengan 4 tower Wisma Atlet yang ada dijadikan tempat untuk yang bergejala, untuk yang tanpa gejala dialihkan ke tower 8 dan 9 di Pademangan," kata Tugas.

Tugas menilai perlu ada strategi jitu untuk mencegah agar tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan DKI Jakarta tidak mencapai 80 persen. Selain itu, pelayanan diberikan dengan baik dan tenaga kesehatan tidak terbebani dengan angka keterpakaian tempat RS yang tinggi.

4 dari 4 halaman

Strategi tersebut seperti pengadaan tempat-tempat isolasi bagi pasien tanpa seperti di hotel atau tempat yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta. Strategi ini mendukung upaya pengaturan rumah sakit rujukan

" Khusus di Wisma Atlet kami mengoptimalkan adanya ICU transisi pada ICU, HCU dan ICCU, ini betul adalah sirkulasi pelayanan mulai dari ringan, sedang, berat yang kita persiapkan untuk rujukan ke rumah sakit. Bila tidak bisa, kita lakukan tingkat standar pelayanan ICU yang disiapkan untuk ICU transisi," ucap Tugas.

Sehingga, kata Tugas, pasien dengan gejala berat yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit untuk sementara dapat ditangani di ICU, HCU, ICCU Wisma Atlet sebagai transisi. Setelah itu pasien dapat dirujuk ke rumah sakit.

Laporan: Josephine Widya

Join Dream.co.id