Kisah Pilu Para Jurnalis Perempuan Afghanistan di Bawah Rezim Taliban

News | Kamis, 16 September 2021 11:00

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

“Ketakutan akan membunuhmu sebelum kematian”

Dream - Beberapa saat sebelum jatuhnya Kota Kabul ke tangan Taliban pada 15 Agustus 2021, Sama (nama samaran), seorang jurnalis perempuan berusia 27 tahun, berusaha tetap positif dengan berpikir Taliban akan berubah.

“ Saya telah mewawancarai mereka. Saya berinteraksi dengan mereka,” jelasnya mengawali kisah saat berpergian ke berbagai provinsi di Afghanistan.

Saat melakukan peliputan, Sama mengaku merasa nyaman dan diperlakukan sangat baik di perjalanan. Ia pun akhirnya memutuskan untuk membuat film tentang Taliban.

Dalam pengakuannya, kala itu dirinya meresa " tidak ada masalah" , Taliban menyabutnya dengan baik dan memanggilnya " Mor Jana" (Ibu sayang dalam bahasa Pashto).

Namun selang beberapa hari kemudian, semuanya berubah begitu cepat. Dimulai dari Sama menerima surel dan telepon ancaman yang meminta untuk tidak keluar dari tempat tinggalnya.

Lantaran tekadnya yang kuat untuk membuat dokumentasi tengang Taliban, Sama malah mendapatkan perlakuan yang berubah dari para pejuang Taliban.

“ Pulang, kenapa kamu malah keluar?,” kata salah satu pejuang Taliban kepadanya.

Bahkan pernah dalam suatu waktu, sopir yang mengantarkan Sama dan krunya dipukul.

“ Dia di dalam mobil yang penuh dengan peralatan kamera, dia memakai jeans dan dia seorang Hazara,” kata Sama, dikutip dari Al Jazeera, Kamis 16 Agustus 2021.

Selama berkuasa pada 1996-2001, Taliban melarang semua alat perekam, memaksa pria memakai pakaian tradisional, dan dituduh membantai minoritas Hazara.

Sama sedih karena pekerjaannya membuat sopirnya yang juga kawannya, dalam posisi seperti itu. Pada hari itulah dia memutuskan sudah waktunya untuk pergi.

“ Kalau saya tidak bisa melakukan pekerjaan saya, saya bukan siapa-siapa,” tutur Sama.

Kisah Pilu Para Jurnalis Perempuan Afghanistan di Bawah Rezim Taliban
Ilustrasi Taliban (Foto: Shutterstock)
2 dari 5 halaman

Ratusan Media Berhenti Beroperasi

Sejak Taliban berkuasa pada Agustus lalu, kelompok militan itu berulang kali membuat pernyataan terkait komitmennya untuk menjunjung kebebasan pers di Afghanistan.

Dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan hanya dua hari setelah mantan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani melarikan diri, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan media seharusnya tidak memihak.

“ Ketidakberpihakan media sangat penting. Mereka bisa mengkritik kerja kami, supaya kami bisa memperbaiki,” ujarnya.

Tapi pemantau media lokal memperkirakan, sedikitnya 153 organisasi media berhenti beroperasi di 20 provinsi di Afghanistan sejak pertengahan Agustus.

Taliban juga kerap dikritik karena perlakuan buruknya terhadap jurnalis dan media. Bahkan sempat ada sejumlah laporan Taliban menyita peralatan pekerja media, menangkap jurnalis, dan bahkan melakukan pemukulan terhadap wartawan, sebagian besar terjadi di Kabul. Hal ini mengundang perhatian organisasi media internasional.

Pekan lalu, setelah sejumlah jurnalis ditangkap dan disiksa karena meliput unjuk rasa di Kabul, Komisoner Tinggi HAM PBB menerbitkan sebuah pernyataan meminta Taliban “ segera menghentikan penggunaan kekerasan dan penangkapan sewenang-wenang, terhadap mereka yang menggunakan haknya untuk berkumpul secara damai dan terhadap jurnalis yang meliput unjuk rasa.”

Human Rights Watch juga mengecam penyerangan terhadap jurnalis dalam sebuah pernyataan.

“ Para komandan dan pejuang Taliban sejak lama terlibat dalam ancaman, intimidasi, dan kekerasan terhadap anggota media, dan bertanggung jawab untuk pembunuhan jurnalis yang ditargetkan,” jelas pernyataan tersebut.

3 dari 5 halaman

Ketakutan Nyata

Tak hanya Sama, Marjana Sadat yang bekerja untuk Voice of America (VOA) dan media lainnya mengaku sedang mengambil gambar di Univeritsas Kabul pada 15 Agustus 2021 saat Taliban mengambil alih kekuasaan.

" Saya mulai mendapat SMS peringatan, meminta saya untuk segera pulang. 'Taliban datang' kata mereka semua," ungkap Sadat.

Sadat mengingat jalan-jalan macet karena orang-orang bergegas pulang ke rumah. Dia mengatakan harus berjalan beberapa kilometer untuk menuju rumahnya di dekat bandara Kabul.

Sepanjang jalan, perempuan 24 tahun ini melihat ratusan laki-laki berlari dengan membawa tas. Awalnya, ia menduga mereka pengungsi dari provinsi lain. Namun ketika Sadat bertanya darimana asal mereka, ia mendapat jawaban mengejutkan.

“ Kami baru keluar dari penjara,” kata mereka kepada Sadat.

“ Saya takut. Bayangkan, saya seorang jurnalis dan saya berada dalam situasi di mana saya tidak tahu akan seperti apa negara saya dalam beberapa jam,” ujarnya kepada Al Jazeera melalui telepon.

Ketakutan memaksanya tetap diam di dalam rumah selama sepekan. Dia sangat ingin kembali bekerja, tapi dia mengatakan cerita intimidasi dan kekerasan yang dialami para jurnalis, termasuk yang tidak dilaporkan media, membuatnya takut keluar rumah.

“ Ketakutan sangat nyata,” ujarnya.

4 dari 5 halaman

Kedudukan Taliban Ubah Keadaan Media

Bagi Sama, pernyataan Taliban dan tindakannya mulai menunjukkan hal yang tak sejalan.

“ Tidak ada sistem yang berlaku. Jika Anda takut atau dilecehkan, kepada siapa Anda melaporkan” kata dia.

Seperti Sama, Sadat juga beruntung. Dirinya memiliki paspor dengan visa dari AS, Uni Eropa, dan Turki. Berarti dia punya kesempatan besar untuk meninggalkan negaranya. Namun saat sampai di bandara, ia langsung berhadapan dengan Taliban.

Pejuang Taliban pertama yang dia lihat dekat pintu masuk militer di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, ramah kepadanya.

Ketika mereka melihatnya memiliki paspor dan beberapa visa, mereka memintanya minggir sementara dan mengizinkan orang-orang dengan paspor asing serta pemegang kartu hijau masuk – seperti pasukan militer AS – dan mereka akan memastikan kelompok tersebut bisa melewati gerbang tersebut.

Komandan Taliban yang sebelumnya menyambutnya ramah menghilang. Kemudian datang seorang penggantinya yang telihat begitu sangar dan agresif. Setelah itu Sadat mengatakan tidak ingin lagi berhadapan dengan anggota Taliban.

“ Saya menyadari para pria ini menyimpan kebencian, dendam terhadap perempuan, dan kita tidak akan pernah bisa kembali ke keadaan normal,” ujarnya.

Sama dan Sadat mengatakan kedatangan Taliban benar-benar mengubah situasi bagi para jurnalis, khususnya perempuan, di Afghanistan.

“ Kami mulai melihat para perempuan pemberani, perempuan kuat ini, yang bisa melaporkan bom bunuh diri, menetaskan air mata,” ujar Sama kepada Al Jazeera.

Salah seorang jurnalis foto perempuan yang saat ini berada di Eropa dan meminta tidak disebutkan namanya, mengatakan dia menyaksikan eksodus para profesional media.

“ Begitu banyak laki-laki dan perempuan terkenal yang Anda bisa lihat di TV dan dengar di radio setiap hari menunggu di bandara untuk keluar,” ujarnya.

5 dari 5 halaman

Pekerja Media Semakin Berkurang

Ketiga jurnalis ini berulang kali menyebut statistik pekerja media semakin berkurang di Afghanistan.

“ Kami terdiri dari 700 jurnalis perempuan di seluruh negeri menjadi 100 sekarang, hampir semuanya di Kabul,” kata Sama dan Sadat.

Baru-baru ini, majalah TIME menyebut jumlahnya kurang dari 40.

Kedua jurnalis perempuan ini mengatakan, rekannya yang masih bersembunyi menghubungi mereka dan mengaku ketakutan.

Sama, yang mengatakan masih berusaha untuk melarikan diri, berbicara terus terang tentang ketakutan yang dihadapi banyak jurnalis di Afghanistan.

“ Ketakutan akan membunuhmu sebelum kematian,” pungkasnya.

Sumber: Aljazeera

Join Dream.co.id