Keren, Pemuda Bekas Petugas Sampah Diterima Kuliah di Harvard

News | Kamis, 9 Juli 2020 17:01
Keren, Pemuda Bekas Petugas Sampah Diterima Kuliah di Harvard

Reporter : Ahmad Baiquni

Dia diterima di lima universitas, tapi menjatuhkan pilihan ke Harvard Law School.

Dream - Bisa kuliah di kampus mentereng tentu impian banyak anak muda. Buat mereka yang punya banyak uang, bukan masalah besar untuk bisa mewujudkan mimpi itu.

Namun uang tak selamanya jadi satu-satunya modal untuk bisa menggapai mimpi sekolah tinggi. Rehan Staton sudah membuktikannya.

Pemuda 24 tahun itu diterima kuliah di Harvard Law School, Columbia. Padahal, dia berasal dari keluarga sederhana dan pernah bekerja sebagai petugas sanitasi dan pemungut sampah.

Staton dibesarkan oleh ayahnya sendirian. Sang ayah bekerja keras demi Staton dan adiknya.

" Kami secara langsung melihat dan belajar kepada ayah yang bekerja di tiga jenis pekerjaan berbeda, punggungnya patah, dan tentunya dia tidak bisa berssenang-senang," kata Staton, dikutip dari CBS News.

2 dari 5 halaman

Sempat Diragukan

Staton mengaku tumbuh dewasa itu sulit dan dia harus berjuang di sekolah. Bahkan ada salah satu guru yang menyarankan agar dia pindah ke kelas pendidikan khusus.

Tetapi berkat bantuan dan dorongan tutor, yang mendampingi Staton secara gratis, pemuda itu akhirnya bisa unggul di kelas.

" Saya akhirnya benar-benar meraih gelar kehormatan di tahun yang sama, di kelas 7, ketika guru saya mencoba mengajarkan pendidikan khusus kepada saya. Dan saya akhirnya mendapatkan nilai A di kelasnya," kata dia.

 

3 dari 5 halaman

Staton adalah seorang atlet SMA dengan memfokuskan diri pada bela diri dan tinju. Setelah mengalami cedera, Staton mengaku minatnya untuk kuliah tidak lagi kuat.

" Itu merusak peluang saya menjadi profesional di bidang olahraga. Jadi, bisa dibilang, setiap melamar ke perguruan tinggi, saya selalu ditolak," kata dia.

Alih-alih kuliah, Staton memutuskan untuk bekerja di perusahaan kebersihan dan sanitasi Bates Trucking & Trashing Removal. Dia mengatakan bekerja di tempat tersebut telah mengubah hidupnya secara tak terduga.

" Saya berkata, 'Saya ingin bekerja di sini karena di sini ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membantu ayah saya membayar cicilan dan hal-hal semacam itu'," kata Staton.

 

4 dari 5 halaman

Kaget Bekerja Bareng Mantan Napi

Saat diterima bekerja, Staton baru menyadari rekan-rekannya ternyata adalah mantan tahanan. Dia pun terkejut mengetahui hal itu.

" Jadi, mengejutkan saya betapa mereka menyemangati saya dan benar-benar ingin saya membuat sesuatu dari diri saya sendiri," kata dia.

Rekan-rekan kerjanya mendorong Staton untuk mendaftar kuliah Bowie State University pada 2014. Pada 2016, dia pindah ke University of Maryland.

" Setelah mulai melakukan yang terbaik di sana, yang saya tahu hanya saya ingin belajar ilmu hukum," kata Staton.

 

5 dari 5 halaman

Dia lalu mengambil LSAT dan mendaftar ke sembilan perguruan tinggi. Jawabannya, lima perguruan tinggi menerimanya sedangkan empat lainnya dalam masa tunggu.

Staton mendapat banyak surel jawaban. Dia pun terkejut dan gembira saat membuka satu per satu surel tersebut bersama teman-temannya.

Akhirnya, pilihan jatuh ke Harvard Law School. Dia pun tak akan pernah melupakan jasa orang-orang yang telah membantunya untuk sampai di sana.

Join Dream.co.id