Wilayah-Wilayah Indonesia yang Potensial Dilanda Tsunami Nontektonik

News | Senin, 20 September 2021 13:00

Reporter : Ahmad Baiquni

Tsunami non-tektonik terjadi bukan disebabkan gempa bumi namun faktor lain.

Dream - Indonesia menghadapi potensi ancaman tsunami nontektonik. Oleh karena itulah, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika, (BMKG), tengah menyiapkan sistem deteksi dan peringatan dini tsunami nontektonik.

" Sistem peringatan dini yang terbangun dan beroperasi saat ini masih terbatas untuk Peringatan Dini Tsunami Tektonik yang dibangkitkan oleh gempa bumi saja," ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.

Dwikorita mencontohkan tsunami Pandeglang, Banten, pada 2018 sebagai tsunami nontektonik. Tsunami ini terjadi bukan disebabkan gempa bumi.

" Terjadi akibat longsor lereng gunung ke laut, yang dipicu erupsi Gunung Api Anak Krakatau, bukan karena gempa bumi," ucap dia.

Contoh terbaru, tambah Dwikorita, longsor lereng pantai akibat gempa magnitudo 6,1 di Pulau Seram, Maluku Tengah, pada 16 Juni 2021. Longsor ini menyebabkan kenaikan muka air laut setinggi 50 cm.

" Umumnya gempa bumi dengan magnitudo 6,1 di laut dekat pantai belum mampu membangkitkan tsunami namun ternyata mampu mengakibatkan longsor pantai ke laut pada lereng pantai dengan bathimetri curam, dan akhirnya memicu tsunami kecil," kata dia.

Wilayah-Wilayah Indonesia yang Potensial Dilanda Tsunami Nontektonik
Gelombang Tinggi Di Manado
2 dari 6 halaman

Daerah Potensial Dilanda Tsunami Non-Tektonik

Dwikorita menyebut potensi tsunami nontektonik bisa terjadi di beberapa kawasan, seperti Selat Sunda, Kota Palu Sulawesi Tengah, Pulau Seram Maluku Tengah, juga beberapa wilayah di Indonesia tengan dan timur.

Wilayah-wilayah tersebut banyak memiliki gunung api laut, palung laut atau patahan darat yang melampar sampai ke laut, sehingga berpotensi mengakibatkan Tsunami Nontektonik atau Atypical. Waktu datang gelombang tsunami dua hingga tiga menit yang merupakan tsunami cepat, mendahului berbunyinya sirine peringatan dini.

Sejarah mencatat, bencana alam tsunami nontektonik yang menelan korban jiwa sangat besar pernah terjadi sekitar 8 kali. Kejadian tersebut yaitu Tsunami Gunung Gamkonora pada 1673, Tsunami Gunung Gamalama pada 1763, Tsunami Gunung Gamalama pada 1840, Tsunami Gunung Awu pada 1856, Tsunami Gunung Ruang pada 1871, Tsunami Gunung Krakatau pada 1883, Tsunami Gunung Rokatenda pada 1928, dan Tsunami Waiteba NTT akibat longsor tebing pantai pada 1979.

Sampai saat ini belum ada negara yang memiliki sistem Peringatan Dini Tsunami non-tektonik yang andal, cepat, tepat dan akurat. Teknologi dan pemodelan tsunami yang ada kebanyakan berdasarkan perhitungan/analisis terhadap aktivitas tektonik atau kegempaan ( Earthquacke Centris), dikutip dari Merdeka.com.

3 dari 6 halaman

Tsunami 28 Meter Berpotensi Terjadi di Pacitan, Waktu Tiba Cuma 29 Menit

Dream - Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Pacitan, Jawa Timur soal potensi ancaman tsunami dahsyat daerahnya. Potensi ini muncul dari hasil penelitian dampak pergerakan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

Dari hasil penelitian diketahui potensi tsunami besar di Pantai Pacitan ini akan terjadi dengan ketinggian air mencapai 28 meter dan estimasi waktu tiba sekitar 29 menit.

Potensi tinggi gelombang di darat diperkirakan mencapai 15-16 meter. Sedangkan potensi jarak genangan mencapai 4-6 kilometer dari bibir pantai.

Mengantisipasi potensi dampak tsunami tersebut, BKMG bersama Kementerian Sosial menggelar simulasi gempa bumi dan tsunami. Simulasi ini diharapkan membuat masyarakat pesisir pantai Pacitan menerima pelatihanan tentang langkah-langkah evakuasi mandiri saat mendapatkan peringatan dini Tsunami maksimum lima menit setelag gempa.

" Untuk masyarakat yang berada di pantai, tidak perlu menunggu perintah, aba-aba, atau sirine, segera lari karena waktu yang dimiliki hanya sekitar 29 menit, sedangkan jarak tempat yang aman yang lebih tinggi cukup jauh," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dikutip dari keterangan tertulis BMKG.

 

4 dari 6 halaman

Masyarakat Perlu Latihan Rutin

Dwikorita mengatakan simulasi dijalankan sebagai langkah antisipatif. Potensi risiko tsunami ini bisa terjadi, bisa juga tidak. Namun masyarakat maupun pemerintah daerah tetap diingatkan untuk selalu siap dengan kondisi terburuk.

" Jika masyarakat terlatik maka tidak ada istilah gugup dan gagap saat bencana terjadi," kata dia.

Selanjutnya, Dwikorita menegaskan tidak ada satupun alat di dunia yang dapat memprediksi kapan terjadinya gempa dan tsunami, bahkan dengan data yang lengkap. Seluruhnya sebatas kajian didasarkan sejarah terjadinya gempa.

Dia juga merekomendasikan agar pemda menyiapkan jalur-jalur evakuasi yang dilengkapi dengan rambu-rambu zona merah ke zona hijau. Karena luasnya zona bahaya, pemda perlu lebih cermat dan tepat memperhitungkan jumlah dan lokasi jalur evakuasi yang diperlukan.

" Saya rasa perlu juga disiapkan semacam Tempat Evakuasi Sementara (TES) ataupun Tempat Evakuasi Akhir (TEA) sebagai tempat penampungan khusus bagi warga yang mengungsi dengan ketersediaan stok logistik yang memadai," kata Dwikorita, di laman BMKG.

5 dari 6 halaman

BMKG Ingatkan Ancaman Tsunami 29 Meter Mengintai Jawa Timur

Dream - Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut terdapat potensi gempa bumi dengan magnitudo di atas 7 sedang mengintai Jawa Timur. Gempa tersebut berpotensi memicu tsunami dahsyat dengan ketinggian hingga 29 meter di pesisir selatan Jawa.

" Hasil analisis kami untuk wilayah Jatim, seluruh pesisir itu potensinya, tinggi maksimum 26-29 meter di Kabupaten Trenggalek, itu tinggi maksimum dan waktu tiba tercepat 20-24 menit di Kabupaten Blitar," ujar Kepala BKMG, Dwikorita Karnawati, dalam webinar yang disiarkan kanal YouTube InfoBMKG.

Tak hanya itu, BMKG memprediksi tinggi genangan hasil tsunami tergolong sangat tinggi. Genangan bisa mencapai 22 meter.

" Ini sudah masuk genangan, bukan tinggi gelombang di pinggir pantai. Genangan bisa mencapai 22 meter, ini sampai masuknya juga menjorok cukup jauh," kata Dwikorita.

 

6 dari 6 halaman

Tren Gempa Kecil di Jatim Meningkat Sejak Awal Tahun

Dwikorita menjelaskan tren peningkatan gempa-gempa kecil khususnya di Jawa Timur. Sejak awal tahun, frekuensi gempa kecil meningkat dan gap seismik masih menyimpan energi.

" Sejak awal tahun kami survei. Mulai tahun-tahun sebelumnya rata-rata gempa 300-400 kali, tapi mulai Januari itu sudah lompat 600 kali lebih dan memang rata-rata 600 kali saat ini, di Jatim terjadi lompatan," kata dia.

BKMG telah melakukan penyusuran pantai mulai Jatim hingga Selat Sunda untuk mengecek potensi gempa yang bisa terjadi, dengan magnitudo di atas 7. Dwikorita juga mengatakan terdapat potensi terburuk yaitu terjadinya gempa dengan magnitudo 8,7 dan sangat bisa membangkitkan tsunami.

Hasil analisis tesebut dimanfaatkan untuk memastikan kesiapan aparat dan pemerintah daerah dalam mengantisipasi bencana. Juga untuk menyiapkan sarana dan prasarana lokasi evakuasi.

Lebih lanjut, Dwikorita menegaskan kemunculan gempa-gempa kecil yang terjadi merupakan alarm peringatan. Meski belum ada gempa besar, keberadaan gempa-gempa kecil menjadi akan mengawali gempa-gempa besar.

" Di selatan Jatim, dari sekian ratus kejadian gempa sejak 2008, kelihatan ada zona yang kosong, tidak ada titik-titik pusat gempanya," kata dia.

 

Terkait
Join Dream.co.id