Akhir Bahagia Bayi yang Dulu Diserahkan Ayah ke Tentara AS Saat Konflik Afghanistan

News | Jumat, 8 Oktober 2021 17:01

Reporter : Arini Saadah

Bayi itu tampak diacungkan ke atas agar bisa diraih tentara dan dibawa melalui pagar berduri untuk dibawa ke tempat yang aman.

Dream - Konflik yang terjadi di Afghanistan selepas tentara Amerika Serikat (AS) keluar dari negara tersebut menginggalkan bayak cerita haru. Salah satunya adalah video orang tua yang menyerahkan bayi kepada para tentara AS lewat pagar kawat berduri di Kabul.

Sebulan berlalu, kebahagiaan kini kembali menaungi orang tua yang terpaksa menyerahkan bayi itu demi keselamatannya. Keluarga mereka akhirnya kembali bersatu dan kini hidup bahagia di Arizona, Amerika Serikat.

Saat itu sang Ayah yang diketahui bernama Hameed, berada di Bandara Internasional Hamid Karzai. Ia melihat istri dan bayinya yang baru lahir berada di tengah orang-orang yang berebut tempat untuk mencoba melarikan diri dari Afghanistan.

" Hari itu saya menyerahkan bayi saya kepada orang asing. Satu-satunya hal yang saya percaya adalah bahwa dia adalah seorang Marinir, maka putri saya akan aman,” ucapnya seperti dikutip dari nypost.com.

Dalam video tampak seorang tentara AS mengambil bayi itu dari pelukan ayahnya. Kemudian mengangkatnya lewat pagar berduri untuk mencari tempat yang aman untuk si bayi.

Hal itu terjadi saat momen-momen menyedihkan di tengah evakuasi AS dan warganya dari negara yang telah dikuasai Taliban.

Keluarga yang terdiri dari ibu Sadia dan Liya yang berusia 8 minggu, sekarang aman dan nyaman tinggal bersama teman-teman di daerah Phoenix.

Akhir Bahagia Bayi yang Dulu Diserahkan Ayah ke Tentara AS Saat Konflik Afghanistan
Ilustrasi Bayi Yang Dilempar Ke Tentara AS Saat Evakuasi Warga Afghanistan (Foto: YouTube/azfamily Powered By 3TV & CBS5AZ)
2 dari 5 halaman

Jadi Sasaran Taliban

 Ilustrasi© YouTube/azfamily powered by 3TV & CBS5AZ

Ketika evakuasi besar-besaran tentara AS dan para warga yang hendak melarikan diri dari Afghanistan, Hameed menghabiskan waktu selama bulan Agustus untuk membantu tentara AS mengevakuasi warga.

Hameed sebelumnya merupakan seorang pejabat pemerintah Afghanistan yang bekerja di Kabul sebagai ahli bahasa dan penasehat budaya untuk pejabat militer.

Sementara istrinya mengalami kesulitan saat melahirkan. Tetapi ia tetap mengerahkan kekuatannya agar bisa melarikan diri dari rumahnya saat Taliban mendekati ibu kota. Hameed mengatakan pada 12 Agustus jelas mereka harus pergi dari rumahnya demi keselamatan.

“ Kami mendapat informasi bahwa orang-orang terbunuh, atau hilang yang teridentifikasi berafiliasi dengan militer, saya tahu rumah saya akan menjadi target berikutnya. Itu bukan masalah 'jika', tapi 'kapan'," ungkapnya.

3 dari 5 halaman

Bayi Menangis di Tengah Kerumunan

 Ilustrasi© YouTube/azfamily powered by 3TV & CBS5AZ

Pada 19 Agustus, Sadia mengambil dokumen pribadinya, sejumlah uang tunai dan beberapa barang kemudian menuju ke bandara bersama bayinya, Liya, yang saat itu baru berusia 16 hari.

Sadia mengatakan di sebuah pos pemeriksaan, Taliban menyita semua barang miliknya sebelum dia dan bayinya bergabung dalam kekacauan di luar gerbang bandara kecil. Sementara Hameed mengaku dirinya bisa melihat istri dan bayinya dari sisi pagarnya.

“ Mereka menggunakan meriam air dan flashbang untuk mengendalikan massa. Setiap kali ada ledakan, saya bisa melihat bayi saya mulai berteriak dan menangis. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu," kata Hameed mengingat masa-masa menyedihkan itu.

Bahkan ia juga menyaksikan kelompok Taliban memukuli massa di kerumunan. Ketika massa sudah berhasil melalui gerbang banyak dari mereka mengalami kaki patah dan luka parah lainnya.

“ Aku tahu dia tidak akan pernah berhasil melewatinya. Dia akan dihancurkan sampai mati, Tuhan melarang, atau terluka parah,” kata Hameed.

© Dream
4 dari 5 halaman

Bayi Dilempar ke Tentara AS

 Ilustrasi© YouTube/azfamily powered by 3TV & CBS5AZ

Karena terlampau putus asa, Hameed pun memperlihatkan bayinya ke salah seorang tentara AS. Ia bertanya apakah dia bisa membantunya.

“ Dia mengatakan kepada saya bahwa satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah mengangkatnya melewati kawat berduri, tetapi dia berkata bahwa dia akan terluka,” kenang sang ayah.

“ Saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan mengambil kesempatan itu. Aku lebih suka dia terluka daripada mati,” ucapnya.

Dalam foto yang beredar, tampak seorang tentara berusaha meraih bayi yang diacungkan oleh Hameed. Tentara itu akhirnya berhasil memegangi bayi tersebut dan membawanya ke tempat yang aman.

5 dari 5 halaman

Bayi Diselamatkan Tentara AS

 Ilustrasi© YouTube/azfamily powered by 3TV & CBS5AZ

Sementara Sadia, masih berada di sisi lain pagar, pingsan karena kelelahan panas, tetapi berhasil melewati gerbang beberapa jam kemudian. Keluarga itu ditempatkan dalam penerbangan menuju AS dengan pengungsi lain pada hari itu juga.

“ Saya pikir hal itu lebih memprihatinkan saat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ada politisi yang tampil di TV dan mengatakan betapa kerennya perjuangan itu. Namun hal ini benar-benar berbeda di lapangan, saat kamu bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri,” katanya.

Meskipun kini keluarga itu sudah aman, namun mereka tak memiliki identitas apapun. Apalagi Sadia dan Liya juga membutuhkan perawatan medis, namun Hameed tidak mampu membawa mereka ke dokter jika tak memiliki asuransi.

Sang ayah membuat akun GoFundMe untuk membantu keluarganya bangkit saat mereka memulai hidup baru. Dia mengatakan dia berharap suatu hari bertemu dengan tentara yang menyelamatkan buah hatinya.

" Ya Tuhan. Aku akan memeluknya. Dia benar-benar menyelamatkan hidup putri saya," kata Hameed.

© Dream
Join Dream.co.id