Israel Buldozer Rumah-Rumah Warga Palestina

News | Selasa, 23 Juli 2019 12:00
Israel Buldozer Rumah-Rumah Warga Palestina

Reporter : Maulana Kautsar

Hari yang suram untuk warga Palestina

Dream - Ratusan tentara Israel mulai menghancurkan rumah-rumah warga Palestina di Sur Baher dengan buldozer. Negeri Zionis itu mengabaikan protes warga Palestina dan kritik dunia internasional.

Menurut warga Desa Wadi al Hummus, sebanyak 16 bangunan dan sekitar 100 apartemen jadi target penghancuran. Pasukan Israel telah mempersiapkan diri dengan buldozer sejak dinihari.

" Beberapa keluarga diancam akan dikubur jika tidak pindah atau bangun dari rumahnya," kata Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dikutip dari Al Jazeera, Senin 22 Juli 2019.

Militer Israel percaya bahwa rumah-rumah di dekat tembok perbatasan itu memiliki ancaman serius.

Bulan lalu, Mahkamah Agung Israel mendukung militer untuk mengakhiri pertempuran hukum tujuh tahun, dan menetapkan Senin sebagai batas waktu untuk merobohkan rumah-rumah.

2 dari 7 halaman

Dimulai Pagi Hari

Otoritas Palestina mengatakan, tindakan itu akan menjadi percontohan bagi kota-kota lain di sepanjang tembok perbatasan sepanjang kilometer di Tepi Barat.

Rob Matheson, jurnalis Al Jazeera, melaporkan bahwa aksi Israel dimulai sekitar pukul 07:15 waktu setempat.

" Kami mendengar dentuman yang sangat keras datang dari sebuah bangunan di sebelah tempat kami berada sekarang. Suara itu berasal dari penggali mekanik besar yang merobek bagian atap bangunan yang sampai pagi ini kepada dua keluarga," kata Rob.

" Ayah dari salah satu keluarga telah duduk di kursi di jalan menyaksikan rumahnya terkoyak."

3 dari 7 halaman

Hari yang Suram

Matheson mengatakan, pasukan Israel telah meratakan sebuah bangunan di sisi Tepi Barat. Israel juga menghancurkan 50 persen rumah milik keluarga Palestina 10 di sisi Yerusalem Timur.

" Pada dini hari, ketika hari masih gelap, pasukan Israel bergerak ke rumah-rumah dan memindahkan keluarga penghuni. Mereka membawa keluarga itu pergi- kami mendengar teriakan demi teriakan. Dan dalam dua jam, 50 persen bangunan telah dihancurkan. "

Pembongkaran itu menandai " hari yang sangat suram dan menyedihkan" bagi warga Palestina.

4 dari 7 halaman

Israel Ubah Nama Dataran Tinggi Golan Jadi Trump Heights

Dream - Israel mengubah nama kawasan pendudukan Dataran Tinggi Golan (Golan Heights) dengan 'Trump Heights'.

Nama baru ini diresmikan sendiri oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam seremonial perayaan, yang digelar di daerah yang diserobot Israel secara ilegal pada Minggu 16 Juni 2019 waktu setempat.

" Dataran Tinggi Golan adalah dan selalu akan menjadi bagian tak terpisahkan dari negara dan tanah air kita," ujar Netanyahu dalam pidatonya seperti dilaporan Al Jazeera.

Penyematan nama baru ini diklaim sebagai bentuk penghargaan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui kedaulatan Israel atas wilayah tersebut.

Netanyahu menyebut Trump sebagai teman baik Israel dan menyatakan Dataran Tinggi Golan di utara Israel sebagai aset penting dan strategis.

Kawasan pendudukan yang akan bernama 'Ramat Trump', bahasa Ibrani untuk 'Trump Heights', bukanlah baru. Kawasan yang saat ini dikenal dengan Bruchim ini memiliki populasi sekitar 10 orang dalam 30 tahun terakhir.

Di hari yang sama, Trump menyampaikan ucapan terima kasih atas penghargaan yang diberikan Netanyahu. Ucapan tersebut dituangkan dalam cuitan di akun Twitternya.

" Terima kasih PM @netanyahu dan Negara Israel atas penghargaan besar ini!" cuit Trump.

Trump juga menganggap pemberian nama tersebut sebagai kado ulang tahun terindahnya. Pemilik Trump Tower ini merayakan ulang tahunnya pada Jumat pekan lalu.

" Saya tidak memikirkan hadiah ulang tahun yang lebih tepat dan lebih indah,"  cuit Trump.

5 dari 7 halaman

Dicaplok dari Suriah

Israel berharap kawasan yang baru berganti nama ini segera menampung gelombang penduduk.

Negara berbendera Bintang David ini merebut Golan dari Suriah dalam perang Timur Tengah pada 1967 dan mencaploknya pada 1981.

Masyarakat internasional mengecam langkah pendudukan yang dijalankan Israel. Mereka menyatakan langkah itu ilegal dan bertentangan dengan hukum internasional.

Selama kunjungan Netanyahu ke Washington pada Maret lalu, hanya sepekan sebelum pemilihan umum Israel, Trump mengubah drastis kebijakan AS.

Dia menandatangani perintah eksekutif, yang secara resmi mengaku Dataran Tinggi Golan merupakan teritorial Israel.

Keputusan itu mendapat sambutan yang sangat luas di Israel. Dubes AS untuk Israel, David Friedman, bahkan menyatakan isu di Dataran Tinggi Golan lebih dari sekadar kedaulatan permanen bagi Israel.

" Sejumlah hal jauh lebih penting bagi keamanan Israel dibandingkan kedaulatan permanen atas Dataran Tinggi Golan," kata Friedman. (ism) 

6 dari 7 halaman

Cerita Chacha Frederica Hadapi Tentara Israel di Masjidil Aqsa

Dream - Perjalanan hijrah menyimpan segudang cerita. Tak jarang seseorang harus mengalami perjalanan spiritual agar bisa mendekatkan diri dengan Tuhan.

Hal ini juga dirasakan aktris peran Chacha Frederica. Istri Dico Ganinduto itu mantap berhijrah sejak awal 2018. Proses hijrah tak semata-mata dilalui dengan mudah.

Chacha mengalami rentetan kejadian yang membuat hati dan tubuhnya bergetar.

Tiga tahun lalu, di tanah Palestina. Wanita 29 tahun itu tak kuasa menahan rasa takut. Nyalinya mendadak ciut kala berhadapan dengan tentara Israel.

"Aku sempat sholat maghrib di Masjid Al-Aqsa. Pintu masuknya dijaga sama tiga tentara yang megang automatic machine gun. Aku gemeteran, berusaha enggak bikin eye contact," ungkap Chacha di acara launching Rejoice Hijab Perfection, Jakarta, Selasa 14 Mei 2019.

Seusai melakukan sholat, Chacha juga masih diliputi dengan suasana yang tidak nyaman. Lampu masjid dan sekitarnya dimatikan sesaat imam melantunkan salam.

      View this post on Instagram

A post shared by Wynne Frederica, S.E., BBA (@chafrederica) on


"Balik ke hotel gelap-gelapan. Mereka sengaja bikin kita tidak nyaman untuk sholat. Beda dengan di sini, kita gak ada alasan buat sholat kapanpun tanpa ada rasa takut untuk ke masjid," ujarnya.

Selain Palestina, Chacha juga mengalami kejadian yang kurang menyenangkan ketika bertandang ke Madinah. 

7 dari 7 halaman

Terlindungi Hijab

Kala itu, ia bersama sang mertua hendak berkeliling membeli alat sholat. Saat baju bagian lengannya sedikit terbuka, ia mendapatkan tatapan yang tidak senonoh dari sang penjual.

" Bajunya kesingkap sedikit, lengan bawah. Tiba-tiba mertuaku bisik-bisik ngasih kode kalau tanganku kebuka. Aku lihat penjualnya, dan dia ngeliatinnya gitu banget. Orang di sana benar-benar enggak biasa lihat tangan sekalipun, itu aurat," katanya.

Sejak saat itu, ia merasakan betapa pentingnya bagi seorang wanita untuk menutup aurat. Chacha merasa terlindungi dan bersyukur dengan adanya hijab.

Setelah memutuskan untuk berhijab, ia bahkan rela ketika tidak mendapat bonus dari pekerjaannya.

" Tantangan waktu awal berhijrah itu kontrak kerja. Aku jalani sesuai kontrak, tapi aku tetap berhijab. Namun tentunya karena mengecewakan brand (dengan berhijab), aku gak dapat reward," ujar pesinetron 'Rahasia Hati'.

 Chacha Frederica

Kini, Chacha semakin mantap dalam menjalani proses hijrahnya. Kendati demikian, Chacha Frederica masih merasa memiliki banyak kesalahan.

" Emang aku sebaik itu? Enggak lho, aku juga punya aib, tapi alhamdulillah Allah tutupin. Karena Allah tutupin, aku harus memperbaikinya. Aku perlu waktu belajar untuk mengembangkan diri sendiri, masih banyak yang perlu dibenerin," imbuhnya. (ism) 

Tips Jitu Menyeimbangkan Karier dan Pendidikan Ala Tiffani Afifa
Join Dream.co.id