Internet Diklaim Picu Peningkatan Kasus Trafficking di Indonesia

News | Selasa, 18 Februari 2020 12:00
Internet Diklaim Picu Peningkatan Kasus Trafficking di Indonesia

Reporter : Maulana Kautsar

Kasus ini tidak hanya selesai melalui pendekatan hukum.

Dream - Tidak terkontrolnya penggunaan internet diklaim menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya kasus perdagangan dan eksploitasi seksual pada anak. Dalam hal ini, anak-anak menjadi target kejahatan yang berawal dari media sosial.

" Ini warning bagi semua baik guru, orang tua dan masyarakat Indonesia," ujar Ketua KPAI, Susanto, di Jakarta.

Menurut Susanto, kondisi ini membuat lingkaran setan kasus perdagangan manusia di Indonesia tidak juga berhenti.

Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) per 15 Januari 2020 menunjukkan sebanyak 79 anak perempuan dan 21 anak laki-laki menjadi korban perdagangan manusia. Sedangkan 67 anak perempuan dan 30 anak laki-laki menjadi korban eksploitasi. 

 

2 dari 5 halaman

Potensi Miliaran

Meningkatnya jumlah kasus perdagangan orang juga dipicu oleh perspektif sebagian orang yang berusaha meraup keuntungan dari praktik kejahatan tersebut. Alhasil, semakin banyak anak yang nasibnya terancam. 

" Mereka berpikir ini bisnis jadi semakin banyak kprban yang direkrut maka potensi ekonominya juga semakin besar. Bukan hanya jutaan tapi potensinya miliaran," ujar dia.

Susanto mengatakan kasus perdagangan manusia dan anak tidak hanya selesai melalui pendekatan hukum. Pemerintah daerah pun, kata dia, harus turut andil terus dalam memberantas praktik kejahatan ini.

" Pendekatan pemerintah daerah pun perlu. Kalau ada hiburan atau tempat-tempat tentu kafe yang memang sengaja secara sistematik untuk mempekerjakan anak untuk kepemtingan seksual komersial anak harus ada izin juga di evaluasi kalau perlu dicabut," kata dia.

Susanto menambahkan bahwa tindakan hukum yang tegas tidak hanya diberikan kepada mucikari dan korban, namun terhadap pengguna juga.

Laporan: Rifani Indrianti

3 dari 5 halaman

Ratusan WNI Jadi Korban Perdagangan Manusia di Arab Saudi

Dream - Aparat Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri mengungkap tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang mengirim lebih dari 100 tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal ke Arab Saudi.   

Direktur Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak mengatakan, sejak Oktober 2017 hingga Maret 2018, sebanyak 100 orang korban asal Nusa Tenggara Barat (NTB) telah diberangkatkan ke Arab Saudi.

" Dan masih banyak yang ada di luar sana," kata Herry di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin 23 April 2018.

Herry mengatakan sebelum dikirim ke Arab Saudi, data para korban sempat dikirim ke Muhammad Reza dan Ali Idrus, pemilik PT Kensur Utama. 

" Setelah pengirim data itu, Ali Idrus kemudian mengirim uang untuk keberangkatan dari NTB ke Jakarta," ujar Herry.

Sesampainya di Jakarta, para korban ditampung di kantor PT Kensur Utama selama satu pekan. Setelah itu, korban dipindahkan ke rumah Ali Idrus selama dua pekan.

 

4 dari 5 halaman

Kasus Kekerasan Fisik

Para korban kemudian diberangkatkan ke Riyadh pada 31 Januari 2018 untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (PRT) menggunakan visa cleaning service.

" Sesampainya di Riyadh, korban dikirim ke rumah majikan di Jeddah untuk bekerja sebagai (PRT).

 Perdagangan orang ke Arab Saudi© Dream.co.id/Muhammad Ilman Nafi'an

Herry menuturkan para korban yang bekerja sebagai PRT sering mendapat perlakukan tidak manusiawi dan pelecehan seksual dari majikannya.

Seperti yang diketahui, sejak 2011 Indonesia menghentikan pengiriman TKI ke Arab Saudi setelah banyaknya kasus kekerasan fisik dan seksual yang menimpa pekerja Indonesia. Artinya, perusahaan yang menawarkan keberangkatan sebagai TKI di Arab Saudi dapat dipastikan bersifat ilegal.

(Sah)

5 dari 5 halaman

Mewaspadai Perdagangan Manusia Bermodus Umroh

Dream - Praktik penyalahgunaan visa umrah kini menjadi modus baru kejahatan perdagangan manusia. Para pelaku jasa perjalanan umroh pun menjadi resah karena nama mereka berpotensi dicatut untuk mengurus visa tanpa izin.

Oleh karena itu, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah dan Inbound Indonesia (Asphurindo), Syam Resfiady, mengingatkan para pelaku jasa perjalanan umroh untuk selalu berhati-hati dan waspada.

" Agar terhindar dari pihak yang senantiasa mencoba memanfaatkan jalur umroh sebagai modus kejahatan perdagangan manusia," kata Syam, dalam acara Simposiun Kejahatan Perdagangan Manusia di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Rabu 15 Maret 2017.

Kanit IV Tindak Pidana Perdagangan Manusia Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, AKBP Julianto Sirait, mengatakan, penyelundupan orang kerap dilakukan dalam jumlah tertentu dan tidak selalu besar. Untuk itu, dia berharap pengelola travel bekerjasama untuk mengabarkan kondisi jemaah di Tanah Suci.

" Kalau ada selisih antara jumlah yang berangkat dan yang pulang mohon Kepolisian dikabari," kata Julianto.

Berdasarkan pengalaman, tambah Julianto, para korban perdagangan manusia biasanya mendapatkan tempat penampungan dan dipekerjakan tanpa izin resmi sebagai pembantu.

" Kebanyakan diperkejakan sebagai pembantu," ucap dia.

5 Kiat Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Biar Nggak Gampang Sakit Bersama Tolak Angin
Join Dream.co.id