Ini Sosok Tentara AS Terakhir Tinggalkan Afghanistan

News | Rabu, 1 September 2021 15:00

Reporter : Ahmad Baiquni

Dia adalah Mayor Jeneral Chris Donahue.

Dream - Amerika Serikat secara resmi telah meninggalkan Afghanistan. Ini ditandai dengan penerbangan pesawat militer terakhir di penghujung tanggal 30 Agustus 2021.

Seorang tentara AS terekam kamera masuk ke dalam pesawat militer. Dia dinyatakan sebagai tentara terakhir yang menginjakkan kaki di Afghanistan sebelum akhirnya seluruh pasukan AS ditarik.

Tentara terakhir tersebut terindentifikasi sebagai Mayor Jenderal Chris Donahue, Komandan Divisi Lintas Udara ke-82, Korps Lintas Udara XVIII Angkatan Darat AS. Donahue merupakan salah satu komandan lapangan yang memimpin evakuasi.

Perintah terakhir diberikan Donahue adalah " flush the force," yang dikirim melalui sistem pesan percakapan. Pada saat itu, ada lima pesawat C-17 di darat, yang semuanya lepas landas dalam waktu 10 menit setelah perintah Donahue.

Masing-masing C-17 membawa sekitar 105 penumpang. Sementara ada sekitar 500 hingga 600 tentara di darat saat itu.

 

Ini Sosok Tentara AS Terakhir Tinggalkan Afghanistan
Tentara Terakhir AS Di Afghanistan (Twitter/XVIII Airborne Corps)
2 dari 7 halaman

Pesawat Terakhir AS

Komandan Pusat Komando AS, Jenderal Kenneth F. McKenzie, menyatakan pesawat AS terakhir meninggalkan Afghanistan pada 30 Agustus pukul 15.29 ET, atau 23.59 waktu Kabul.

Sayap komunikasi Departemen Pertahanan, DVID, merilis foto Donahue menaiki pesawat kargo C-17 di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan. Di dalam pesawat juga terdapa Kuasa Usaha Ross Wilson.

Donahue dan Komandan Forward Pasukan AS di Afghanistan, Laksamana Muda Peter Vasely, menjalankan operasi evakuasi yang dimulai 14 Agustus. Misi tersebut telah mengevakuasi lebih dari 122 ribu orang, termasuk 6.000 warga AS.

McKenzie mengakui tidak semua orang yang ingin keluar dari Afghanistan bisa pergi. Meski begitu, dia bangga dengan pasukan AS yang telah mengevakuasi begitu banyak orang di bawah kepemimpinan Donahue dan Vasely.

 

3 dari 7 halaman

Karir Donahue di Afghanistan

Donahue bertugas di Pentagon pada 11 September 2001. Dia pertama kali dikerahkan ke Afghanistan pada 2002.

Saat menjalankan misi evakyuasi, dia sudah keempat kalinya berada Afghanistan. Donahue menghabiskan sebagian besar karirnya sebagai operator khusus di Irak dan Suriah.

Presiden Biden mengatakan akan berbicara kepada orang Amerika tentang keputusan untuk tidak memperpanjang misi AS melewati batas waktu. Meskipun beberapa orang Amerika dan warga Afghanistan yang berisiko tidak dapat mengungsi.

 

4 dari 7 halaman

Perang 20 Tahun Berakhir

Misi AS di Afghanistan dimulai tak lama setelah serangan teroris 11 September 2001. Ada 2.461 anggota militer AS tewas dalam perang 20 tahun.

Insiden bom pada Kamis pekan lalu menandai hari paling berdarah bagi pasukan Amerika dalam satu dekade. 13 anggota militer AS tewas akibat bom bunuh diri ISIS-K.

Sebelum meninggalkan Afghanistan, militer AS menjalankan demiliterisasi atau melumpuhkan peralatan militer yang ditinggalkan. Termasuk lusinan kendaraan militer dan pesawat, serta peralatan senilai miliaran dolar.

Menteri Pertahanan Lloyd Austin menyatakan orang Amerika " harus mengingat warga negara yang kita layani dan bangsa yang kita bela."

" Bagi saya, saya bangga dengan peran yang kami mainkan dalam perang ini. Saya bangga dengan pria dan wanita yang memimpin saya. Saya bangga dengan mereka yang saya layani dan pimpin. Dan saya bangga dengan keluarga pemberani dan tangguh yang membuat apa yang kami lakukan menjadi mungkin," kata Austin, dikutip dari CBS News.

5 dari 7 halaman

Pesawat Terakhir Telah Terbang, Tandai Hengkangnya AS dari Afghanistan

Dream - Pentagon mengumumkan pesawat terakhir Amerika Serikat (AS) telah terbang dari Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan. Ini menandai berakhirnya perang panjang AS sekaligusnya masa depan negara tersebut dalam ketidakpastian di bawah rezim Taliban.

Presiden AS, Joe Biden, memuji keberanian para anggota militer dalam eksekusi penarikan pasukan di tengah situasi berbahaya Afghanistan sesuai rencana. Dia juga menyatakan segera menggelar langkah diplomatik untuk memungkinkan warga Amerika dan Afghanistan yang menginginkan pergi untuk bisa keluar dari negara itu usai 31 Agustus 2021.

Hari-hari terakhir kehadiran AS di Afghanistan dipenuhi dengan kekacauan, pertumpahan darah, keputusasaan, ketakutan, dan kepanikan. Ketika berupaya mengevakuasi banyak orang, militer AS berusaha mencegah serangan ISIS-K.

Menteri Pertahanan Lloyd Austin merayakan pekerjaan yang dilakukan oleh pasukan AS dan sekutu mereka di hari-hari terakhir di Afghanistan.

" Anggota kami mengamankan, membela, dan mengelola bandara internasional utama. Mereka belajar bagaimana membantu petugas konsuler menyaring dan memverifikasi pemohon visa," kata Austin.

" Mereka memberikan perawatan medis, makanan dan air, dan kasih sayang kepada orang-orang yang membutuhkan. Mereka menerbangkan puluhan ribu orang ke tempat yang aman, hampir sepanjang waktu," lanjut dia.

6 dari 7 halaman

Ribuan Tentara AS Selama Perang Afghanistan

Austin juga berduka atas tewasnya sejumlah tentara selama perang 20 tahun di Afghanistan. Lebih dari 2.400 tentara AS kehilangan nyawa mereka di Afghanistan, termasuk 13 orang yang tewas dalam serangan bunuh diri di dekat bandara Kabul pekan lalu.

Pada akhirnya, hampir 20 tahun pertempuran diselingi dengan penghancuran amunisi dan peralatan oleh pasukan AS beberapa jam sebelum mereka terbang keluar dari negara yang dilanda pertempuran itu.

Puluhan ribu warga Afghanistan juga tewas dalam perang, dan mereka yang bertahan sekarang menghadapi masa depan yang tidak pasti di bawah rezim Taliban yang represif.

Seorang juru bicara Taliban mengucapkan selamat kepada negaranya atas pembebasan dan kemerdekaan Afghanistan dari pendudukan Amerika.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken menguraikan keterlibatan Amerika di Afghanistan ke depan. Dia menyebut sebagai babak baru di mana AS akan lebih mengupayakan diplomasi.

 

7 dari 7 halaman

Kedubes AS di Kabul Dipindah ke Qatar

Blinken mengatakan dengan penutupan kedutaan di Kabul, kedutaan baru akan berbasis di Qatar dan akan menyediakan layanan konsuler dan lainnya.

Berdasarkan data terbaru, antara 100 hingga 200 warga AS masih berda di Afghanistan dan menginginkan untuk pergi. Sementara, tidak jelas berapa banyak orang Afghanistan yang bekerja sebagai sekutu AS masih terjebak oleh Taliban.

Kepada mereka, Blinken menyatakan layanan diplomatis tetap akan dibuka. " Komitmen kami kepada mereka tidak memiliki tenggat waktu," kata dia.

Komponen kunci dari rencana itu adalah memegang janji Taliban untuk mengizinkan semua orang yang ingin pergi bisa keluar dari Afghanistan dengan selamat dan aman. Itu termasuk pembukaan kembali bandara Kabul dengan bantuan signifikan dari Qatar dan Turki.

Blinken juga menggarisbawahi hubungan lemah antara AS dan Taliban, mengulangi apa yang banyak pejabat lain katakan tentang kepercayaan Taliban.

" Setiap langkah yang kami ambil tidak akan didasarkan pada apa yang dikatakan pemerintah Taliban, tetapi apa yang dilakukan untuk menegakkan komitmennya," kata Blinken, dikutip dari NPR.

Join Dream.co.id