Ini Penyebab Ancaman Kekeringan di Sejumlah Wilayah

News | Kamis, 22 Agustus 2019 07:03
Ini Penyebab Ancaman Kekeringan di Sejumlah Wilayah

Reporter : Maulana Kautsar

Anomali suhu di lautan berdampak pada pembentukan awan.

Dream - Ancaman kekeringan terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut potensi kekeringan di Indonesia terjadi karena keadaan suhu muka air laut.

Baik suhu muka air laut yang ada di kepulauan Indonesia, maupun yang berada di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

" Pada bulan Oktober tahun 2018 yang lalu, BMKG telah memprediksi terjadinya El Nino lemah. Dan saat ini di bulan Agustus 2019, BMKG memantau dan menganalisis bahwa saat ini El Nino lemah telah berakhir, sehingga anomali di Samudra Pasifik kembali menjadi netral," ujar Kepala BMKG Bandung, Toni Agus Wijaya saat berbincang dengan Dream, Rabu, 21 Agustus 2019.

Toni menyebut, kondisi yang netral ini diperkirakan berlangsung hingga akhir 2019.

Sementara, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Bogor, Hadi Saputra menambahkan, tidak adanya hujan di Indonesia karena dipole mode, atau penyimpangan suhu muka laut.

Suhu muka air laut di wilayah Samudra Hindia sebelah barat Sumatera dan perairan Indonesia di bagian selatan ekuator yang lebih dingin dari suhu normal.

" Akibatnya awan tak terbentuk," kata Hadi.

 

2 dari 7 halaman

Akan Terjadi Hingga November 2019

 Laporan terbaru kondisi kekeringan di Jawa Barat

Laporan terbaru kondisi kekeringan di Jawa Barat

Kondisi suhu seperti ini diperkirakan akan berlangsung sampai Oktober 2019.

Dampaknya, akan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, yaitu Sumatera Utara, sebagian besar Riau, Jambi bagian tengah, sebagian besar Sumatera Selatan, sebagian kecil Lampung, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian kecil Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara.

Sedangkan di beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, sebagian Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Utara, Pegunungan Jayawijaya sudah mulai masuk musim hujan di bulan Agustus, September, dan Oktober.

Kemudian, khusus wilayah Papua awal musim hujan terjadi di November 2019. Tetapi di bagian selatan dan Merauke awal musim hujan terjadi di bulan Desember sehingga tidak serempak di kepulauan tersebut.

3 dari 7 halaman

Siap-Siap! Puncak Musim Kemarau Akan Terjadi Bulan Depan

Dream - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini akan berlangsung hingga September 2019. Puncak musim kering di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2019.

Plh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo memperingatkan akan ada sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan sebelum masuk puncak musim kemarau.

" Sampai saat ini ada tujuh provinsi kekeringan, yakni di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT," ujar Agus di kantornya, Jakarta, Senin, 15 Juli 2019.

Agus merinci, tujuh provinsi itu terdiri 79 kabupaten, 556 kecamatan dan 1.969 desa yang terdampak kekeringan.

" Ini masih Juli, ada wilayah 60 hari belum hujan," ucap dia.

Untuk menangani masalah kekeringan ini, BNPB mempersiapkan strategi jangka pendek berupa penempatan air menggunakan mobil tangki, membuat sumur bor, dan melakukan hujan buatan.

Sementara untuk strategi jangka menengah dan panjang, BNPB melakukan revitalisasi dan reformasi daerah aliran sungai (DAS), revitalisasi danau, membuat embung dan sumur bor permanen, membangun waduk, pengendalian pemanfaatan air tanah.

Cara lain yang diupayakan BNPB yaitu, perbaikan saluran irigasi, pipanisasi, bioporisasi, dan memberikan bibit pohon bernilai ekonomis serta ekologis.

4 dari 7 halaman

Heboh Isu Kemarau Panjang 2019-2022, Ini Kata BMKG

Dream - Masyarakat Indonesia tengah dihebohkan kabar kemarau panjang yang akan melanda dunia pada 2019-2022. Kabar tersebut tersebar dengan menggunakan identitas Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kabar itu menyebut, saat ini cadangan air di dunia hanya tersisa 3 persen. Namun, BMKG menyatakan tidak pernah mengeluarkan kabar yang menjadi viral tersebut.

" Berita tersebut tidak benar dan BMKG tidak pernah menyampaikan serta menyebarluaskan informasi tersebut," demikian pernyataan BMKG melalui akun Facebook, sebagaimana diakses Dream pada Rabu, 30 Desember 2016.

" Berita itu hanya hoax/isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan membohongi masyarakat, karena isu tersebut tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas," tambah pengumuman tersebut.

5 dari 7 halaman

Teknologi Belum Ditemukan

BMKG menyatakan, hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi musim dalam jangka panjang. Bahkan sekadar membuat prediksi untuk satu tahun ke depan.

" Oleh karena itu, masyarakat diimbau dan diharapkan tidak terpengaruh serta tidak perlu dihiraukan dengan informasi tersebut," tulis BMKG.

Oleh karena itu, BMKG mempersilakan masyarakat yang ingin mendapatkan informasi terkini mengenai cuaca untuk menghubungi call center 021-6546318, laman www.bmkg.go.id, akun media sosial @infobmkg, atau melalui aplikasi info BMKG.

 

6 dari 7 halaman

Badai Dahsyat Akan Terjang Jawa? Ini Kata BMKG

Dream - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjawab isu akan adanya badai dahsyat di sisi selatan Pulau Jawa. Sesuai dengan analisa ilmiah, isu itu dinyatakan tidak benar.

“ Isu puncak badai yang melanda Jawa bagian selatan sama sekali tidak benar,” tegas Yunus S. Swarinoto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, sebagaimana dikutip Dream dari laman bmkg.go.id, Jumat 1 April 2016.

Menurut Yunus, peluang kejadian badai tropis (siklon tropis) di perairan sebelah selatan Indonesia untuk bulan Maret adalah 28 persen.

Untuk kondisi saat ini, kata dia, citra satelit maupun analisa model cuaca numerik tidak menunjukkan adanya aktifitas badai tropis, baik di wilayah selatan Jawa maupun di wilayah manapun di Indonesia.

“ Dalam tiga hari ke depan tidak ada aktifitas badai tropis di wilayah Indonesia,” ujar dia.

 

 

7 dari 7 halaman

Citra Satelit

Menurut Yunus, citra satelit Himawari yang dipantau pukul 08.10 WIB tanggal 30 Maret 2016 memang menunjukkan adanya awan hujan yang cukup signifikan di wilayah Laut Jawa, Jawa, dan perairan selatan Jawa.

Di wilayah tersebut teridentifikasi belokan angin yang cukup tajam, sehingga terjadi perlambatan kecepatan angin yang menyebabkan pertumbuhan awan-awan tersebut. Namun, “ citra satelit Himawari tidak dapat digunakan untuk memprediksi cuaca ekstrim beberapa hari ke depan.”

Yunus menambahkan, pembentukan awan-awan hujan di wilayah Jawa, terutama bagian barat diperkirakan masih akan berlangsung hingga hari Sabtu, 2 April 2016. Sedangkan untuk Jumat 1 April 2016, wilayah Indonesia yang diperkirakan hujan lebat adalah Banten bagian selatan.

Selain itu juga Jawa Barat, bagian Selatan, Jawa tengah bagian selatan, Yogyakarta bagian selatan, Jawa Timur bagian selatan, dan Papua bagian utara.

“ Dengan masih tingginya potensi curah hujan di sebagian besar Jawa, masyarakat diimbau tetap waspada dan siaga terutama di daerah pantai selatan dan dataran tinggi atau pegunungan untuk mengantisipasi kejadian angin kencang, banjir bandang, lahar dingin dan tanah longsor.”

Reaksi Mainaka yang Bikin Nia Ramadhani Menangis
Join Dream.co.id