Muhammadiyah: Tarawih di Rumah, Tidak Perlu Mudik

News | Senin, 6 April 2020 16:00
Muhammadiyah: Tarawih di Rumah, Tidak Perlu Mudik

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Ada beberapa hal yang disampaikan agar bisa diikuti umat Islam.

Dream - Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengimbau umat Islam untuk melaksanakan ibadah Ramadan dengan ketentuan khusus. Hal itu termuat dalam Maklumat dan Pandangan Ke-Islaman terkait Bulan Ramadan dan Syawal tahun ini.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan umat Islam tetap menunaikan Puasa Ramadan bagi yang mampu. Sedangkan bagi yang tidak mampu, terutama tenaga kesehatan yang harus memerhatikan daya tahan tubuh saat bertugas menangani pasien positif virus corona diperbolehkan tidak menunaikan puasa dan mengganti di hari lain seusai syariat melakukan fidyah.

" Ibadah-ibadah lain seperti tarawih, jika sampai pada bulan Ramadan wabah Covid-19 masih belum reda, tunaikanlah di kediaman masing-masing. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lain sebagaimana Sholat Jumat ditunaikan dalam bentuk Sholat Zuhur di tempat masing-masing," ujar Haedar, dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Haedar mengajak masyarakat untuk menjadikan Ramadan sebagai bulan untuk muhasabah (intropeksi diri) dan mendekatkan diri pada Tuhan. Selain itu, dia meminta masyarakat Indonesia terus mendoakan keselamatan seluruh manusia di dunia dan dilepaskan dari musibah besar ini.

" Sehingga kita dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab kehidupan sehari-hari sebagaimana biasa," ucap Haedar.

2 dari 6 halaman

Tak Perlu Sholat Id di Tanah Lapang

Berkaitan dengan Idul Fitri, Haedar menjelaskan kedudukan Sholat Id di tanah lapang adalah sunah muakad. Sehingga, jika wabah Covid-19 juga belum reda saat 1 Syawal, maka umat Islam tidak perlu menjalankan Sholat Id di tanah lapang.

" Kegiatan-kegiatan lain, takbir keliling dan syawalan bahkan mudik juga tidak perlu dilakukan. Khusus berkaitan dengan mudik pertimbangkanlah protokol pemerintah, juga pertimbangkanlah kondisi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat," jelas Haedar.

Prinsip ini, kata Haedar, didasarkan pada hadis Rasulullah Muhammad, 'La Dharara wa Laa Dhirara'. Hadis tersebut bermakna jangan berbuat sesuatu yang mudharat untuk diri sendiri, keluarga atau menimbulkan kemudharatan bagi orang lain atau masyarakat luas.

" Di sinilah pentingnya menjadi panduan kita bersama," tegas Haedar.

Haedar berharap wabah besar ini cepat berlalu. Dia pun mengimbau masyarakat untuk tetap bersyukur, sabar, tawakal dan ikhtiar dalam menghadapi Covid-19.

3 dari 6 halaman

Pandemi Covid-19, PBNU Minta Umat Muslim Salat Tarawih dan Idul Fitri di Rumah

Dream - Sampai saat ini kasus pandemi Covid-19 belum menunjukkan angka penurunan. Setiap hari di Indonesia, jumlah korban jiwa malah terus bertambah. Kondisi ini tentunysa sangat memprihatinkan.

Salah satu dampaknya adalah umat muslim tak bisa ke masjid untuk berjamaah karena bisa meningkatkan risiko penularan Covid-19 secara lebih masif. Padahal, tidak lama lagi bulan suci Ramadan datang.

Terkait hal ini pihak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau pengurus NU, warga NU, dan masyarakat secara umum untuk tetap menyelenggarakan salat tarawih dan salat idhul fitri di rumah masing-masing.

Imbauan ini disampaikan dalam Surat Instrukti PBNU Nomor 3945/C.I.34/03/2020 tentang Protokol NU Peduli Covid-19 dan Surat Instrukti Nomor 3952/C.I.34/03/2020 pada 3 Maret 2020 atau 9 Sya’ban 1441 H.

“ Imbauan pelaksanaan ibadah Ramadhan di rumah ini disesuaikan dengan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah masing-masing sebagai ikhtiar NU untuk menahan laju dan memutus mata rantai sebaran Covid-19,” kata Ketua PBNU H Robikin Emhas, dikutip dari NU Online.

4 dari 6 halaman

Tetap Mempererat Silaturahim

PBNU juga meminta masyarakat untuk melaksanakan ibadah wajib dan meningkatkan ibadah melalui ibadah sunnah, yaitu sedekah, tadarus Al-Qur’an, wirid, mujahadah, itikaf, mendoakan orang-orang terdahulu, dan jenis ibadah lainnya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah terutama pada bulan Ramadan selama darurat Covid-19.

Tak lupa, masyarakat muslim diingatkan untuk terus memperkuat tali silaturrahim, menjaga hubungan sosial antar sesama dalam momentum Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah, dan bahu-membahu membangun solidaritas untuk melakukan pencegahan Covid-19.

Semua dilakukan dengan tetap berpegang pada kebijakan pembatasan sosial (social distancing) dan jarak fisik (physical distancing). Mengutip Kitab Al-Minhajul Qawim karya Ibnu Hajar Al-Haitami, LBM PBNU menyebutkan uzur yang dapat menggugurkan kewajiban mengikuti shalat Jumat dan kesunnahan menghadiri salat jamaah termasuk salat tarawih dan salat idhul fitri, yaitu hujan yang dapat membasahi pakaian, salju, cuaca dingin baik siang maupun malam, sakit (berat) yang membuatnya sulit untuk mengikuti salat Jumat dan salat jamaah, dan kekhawatiran atas gangguan keselamatan jiwanya, kehormatan dirinya, atau harta bendanya.

Selengkapnya baca di NU Online

5 dari 6 halaman

Tak Sholat Jumat 3 Kali Saat Wabah Corona Jadi Kafir? Ini Penjelasan Ulama

Dream - Sholat Jumat termasuk salah satu ibadah inti dalam Islam. Ibadah ini berlaku wajib bagi pria muslim, tetapi sunah bagi muslimah. Bisa dibilang, Sholat Jumat mengandung konsekuensi sangat besar untuk orang yang sengaja melalaikannya.

Lazim kita mendengar seorang Muslim yang dengan sengaja meninggalkan Sholat Jumat sebanyak tiga kali tanpa alasan yang dibenarkan, dia bisa dikategorikan sebagai seorang kafir.

Sejak wabah corona melanda di bulan Maret yang lalu, banyak masjid tidak menyelenggarakan Sholat Jumat atas imbaun pemerintah dan ulama di seluruh dunia. Ini dimaksudkan untuk mencegah potensi jemaah tertular wabah virus corona.

 Tak Sholat Jumat 3 Kali Saat Wabah Corona Jadi Kafir? Ini Penjelasan Ulama© Dream

Di Indonesia sendiri, sejumlah masjid diketahui tidak menyelenggarakan ibadah Sholat Jumat minimal dua kali. Jemaah diimbau sholat di rumah dan menggantinya dengan Sholat Zuhur.

Tetapi, masih banyak orang yang ragu dan khawatir menjadi kafir jika meninggalkan Sholat Jumat di tengah virus corona. Apakah benar hukum status kafir berlaku bagi mereka yang meninggalkan Sholat Jumat tiga kali di tengah wabah virus corona seperti sekarang?

 

6 dari 6 halaman

Ini Penjelasannya

Ada baiknya menyimak penjelasan seorang dai, Ustaz Khalid Basalamah. Dia membuat video penjelasan mengenai masalah ini dan diunggah kembali oleh akun Instagram @makassar_iinfo.

Dalam video tersebut. Ustaz Khalid mengatakan ancaman kafir ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW kepada mereka yang tahawun atau bermalas-malasan. Yaitu mereka yang meninggalkan Sholat Jumat tanpa uzur dan hanya karena malas.

" Tapi ini ada uzur, ini lain, insya Allah tidak ada hitungannya," kata Ustaz Khalid.

Sampai lebih dari tiga kali meninggalkan Sholat Jumat karena menghindari virus corona, Ustaz Khalid menilainya tidak ada masalah. Sebab, cara tersebut merupakan bagian dari menerapkan perintah Rasulullah untuk mengindari bahaya.

" Jadi kita tidak boleh menyusahkan orang. Anda kalau masuk ke masjid sementara Anda tidak sadar menyebarkan corona kepada mereka atau Anda tertimpa (terkena virus corona), kan jadi masalah," kata Ustaz Khalid.

Lebih lanjut, Ustaz Khalid meminta umat Islam tidak perlu khawatir.

Menu Berbuka Puasa Sehat dan Anti Ribet Ala Chef Deny Gumilang
Join Dream.co.id