Cegah Penyakit, Wilayah Terdampak Likuifaksi di Palu `Dibom` Disinfektan

News | Jumat, 19 Oktober 2018 06:00
Cegah Penyakit, Wilayah Terdampak Likuifaksi di Palu `Dibom` Disinfektan

Reporter : Maulana Kautsar

Proses ini untuk menghalau vektor.

Dream – Wilayah terdampak likuifaksi semisal Petobo, Balaroa, dan Jono Oge mulai mendapat pengeboman material disinfektan dengan helikopter MI-8. Pengeboman ini dianggap lebih efektif karena cakupan wilayah yang luas dan kondisi lapangan yang berpotensi terjadi amblesan.

Pengeboman maupun penyemprotan disinfektan ini merupakan upaya antisipasi penyebaran penyakit melalui vektor seperti lalat, kecoa, atau tikus. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengirimkan helikopter untuk membantu operasi water-bombing yang dikoordinasikan dengan kementerian dan pemerintah setempat.

" Saat ini proses pengeboman disinfektan masih berlangsung," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 18 Oktober 2018.

Penanganan wilayah terdampak likuifaksi tidak hanya melalui pengemboman udara, tetapi juga fogging atau penyemprotan oleh para personel di darat. Penyemprotan juga dilakukan di halaman rumah sakit yang digunakan untuk pengumpulan jenazah yang berhasil dievakuasi.

" Tindakan ini merupakan upaya untuk membasmi vektor yang dapat mengancam kesehatan lingkungan," ujar dia.

2 dari 3 halaman

Penimbunan wilayah

 Bombing disinfektan di wilayah bencana

Sutopo menyebut, selain proses pengeboman disinfektan, saat ini wilayah terdampak bencana perlu segera ditimbun. Penimbunan wilayah terdampak untuk dijadikan sebagai ruang publik sempat disampaikan pada pembahasan penanganan ke depan.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulteng, Ridwan Mumu menyampaikan lokasi Balaroa dan Petobo akan ditimbun terlebih dahulu dan ditetapkan sebagai pemakaman massal.

Selanjutnya pemerintah setempat akan menutup lokasi tersebut dan tidak boleh lagi ada pembangunan. Sebab area itu akan dijadikan kawasan hijau dan monumen di dua lokasi tersebut.

Sementara itu, Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan, dr. Ahmad Yurianto merekomendasikan pemakaman korban yang belum ditemukan. “ Pertimbangan terbaik dalam penanganan jenazah yang belum diketemukan setelah hari ke-7 adalah dengan tetap memakamkan di lokasi yang diduga jenazah itu berada,” ujar Yurianto dalam keterangan tertulisnya. 

 

3 dari 3 halaman

Pengecekan air tanah

 Bombing wilayah terdampak gempa

Yurianto menyebut, cara ini bentuk penghormatan terhadap jenazah tersebut. Sebab, kemungkinan untuk bisa menemukan jenazah dalam keadaan utuh sangat kecil.

" Penggalian jenazah juga sangat berisiko terhadap penyebaran dan penularan bakteri-bakteri berbahaya bagi kesehatan lingkungan sekitar,” kata dia.

Yurianto menyampaikan, selain pemakaman perlu adanya pengecekan kualitas air tanah secara berkala.

Hasil analisis sementara pemetaan secara spasial menunjukkan wilayah terdampak likuifaksi pascagempa Sulteng menyebabkan pengangkatan dan amblesan di Balaroa, Kota Palu mencapai 47,8 hektar. Sedangkan jumlah perkiraan rumah terdampak mencapai 1.045 unit.

Sementara, jumlah perkiraan rumah terdampak di Petobo, Kota Palu mencapai 2.050 unit dengan luas wilayah 180 hektar. Adapun di Jono Oge, Sigi, mencapai 366 unit dengan luas wilayah 202 hektar.

Data per 17 Oktober 2018, pukul 17.00 WITA jumlah korban meninggal dunia akibat peristiwa likuifaksi ini mencapai 2.103 orang, sementara yang hilang mencapai 680 orang, dan yang luka-luka mencapai 4.612 orang, dan mengungsi 274.195 orang.

BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie
Join Dream.co.id