Lebah Terbesar di Dunia yang Dikira Punah, Muncul di Indonesia

News | Rabu, 27 Februari 2019 10:01
Lebah Terbesar di Dunia yang Dikira Punah, Muncul di Indonesia

Reporter : Sugiono

Lebah raksasa ini pertama kali ditemukan oleh naturalis Inggris Alfred Russel Wallace pada tahun 1859.

Dream - Sekelompok ilmuwan telah menemukan kembali lebah terbesar dunia saat melakukan ekspedisi di pulau terpencil di Indonesia. Dijuluki 'bulldog terbang', lebah raksasa Wallace (Megachile pluto) memiliki bentang sayap enam sentimeter dan hanya ada di Kepulauan Maluku.

Lebah raksasa ini hanya didokumentasikan dua kali sebelumnya. Yaitu, ketika pertama kali ditemukan oleh naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, pada 1859. Kemudian didokumentasikan kembali pada 1981.

Setelah itu, keberadaan bulldog terbang tidak diketahui lagi hingga diduga sudah punah. Namun, lebah raksasa Wallace ditemukan kembali tahun ini, setelah Simon Robson dari University of Sydney, Australia, dan rekannya, Glen Chilton, dari Saint Mary's University di Canada, melakukan penelitian tentang serangga langka itu.

Suatu pagi di bulan Januari mereka bertemu di Jakarta, dan bergegas untuk terbang ke Kepulauan Maluku untuk mencoba keberuntungan mereka. Robson mengatakan, mereka harus menjelajah hutan tropis di Kepulauan Maluku selama lima hari. Dia dan rekan-rekannya memeriksa sarang-sarang rayap untuk mencari tanda-tanda adanya lebah.

Menurut Robson, lebah betina biasanya menggali lubang di dalam sarang rayap untuk menaruh telur-telurnya. Galian tersebut terkadang cukup besar untuk lebah betina dan telur-telur yang akan ditetaskannya.

" Kami keluar masuk hutan hingga menjelang malam. Terkadang sampai terlambat makan siang, hingga salah satu dari kami melihat sebuah gundukan sarang rayap di atas pohon," kata Robson.

" Salah satu dari kami kemudian memanjat pohon, dan melihat lubang di dalam sarang rayap itu memiliki jejak getah. Itu sangat menggembirakan. Kami mengambil obor dan kami bisa melihat lebah Wallace di dalamnya melihat ke arah kami," tambahnya.

Mereka kemudian mengambil bungkus plastik untuk mengambil salah satu lebah Wallace. Robson dan rekan-rekannya menutup jalan keluar sarang rayap itu hingga salah satu lebah Wallace terperangkap di dalam bungkus plastik tersebut.

2 dari 2 halaman

Tidak Menghasilkan Madu Seperti Lebah Lainnya

Meskipun mengumpulkan nektar, lebah Wallace tidak menghasilkan madu seperti lebah madu Eropa atau Australia.

Dan juga tidak seperti lebah madu Eropa, lebah Wallace tidak mati setelah menyengat korbannya.

Lebah raksasa Wallace juga memiliki dua pasang antena besar yang disebut mandibula di kepalanya.

Karena jarang terlihat, para ilmuwan masih belum tahu banyak tentang lebah Wallace ini.

Pakar entomologi Tim Heard, yang tidak terlibat dalam penemuan ini, mengatakan lebah Wallace mungkin penyerbuk utama untuk spesies pohon tertentu di pulau-pulau tempat ditemukannya.

" Itu sangat mungkin, tapi kami tidak tahu itu. Kami benar-benar tidak tahu apa atau tanaman apa yang diserbuki," kata Heard, pakar lebah Australia di University of Sydney.

Terlepas dari ekologinya yang unik, Heard mengatakan lebah Wallace perlu dilindungi dari ancaman seperti penggundulan hutan untuk industri minyak sawit, yang marak di seluruh Indonesia.

Sumber: ABC News

Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam
Join Dream.co.id