Sejarah Jembatan Gladak Perak Lumajang yang Hancur Diterjang Erupsi Gunung Semeru: Saksi Agresi Militer Belanda I

News | Senin, 6 Desember 2021 11:01

Reporter : Ulyaeni Maulida

Jembatan ini dulunya merupakan peninggalan dari kolonial Belanda.

Dream – Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu, 4 Desember 2021 menyebabkan puluhan warga di Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, mengungsi. Debu yang keluar dari dalam perut bumi juga merusakkan sejumlah rumah dan infrastruktur pendukung lainnya.

Salah satu dampak hebat dari erupsi Gunung Semeru adalah hancurnya Jembatan Gladak Perak Lumajang akibat diterjang lahar dingin. Jembatan ini memiliki peran vital karena menjadi jalur alternatif yang menghubungkan Lumajang dengan kota Malang.

Jembatan panjang yang berada di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro ini membentang di atas Sungai Besuk Sat yang menjadi tempat mengalirnya lahar dingin Gunung Semeru.

Melihat dari sejarahnya, jembatan Gladak Perak ternyat merupakan peninggalan dari kolonial Belanda. Nah bagaimana sejarah jembatan Gladak Perak tersebut? Simak ulasannya berikut ini.

Sejarah Jembatan Gladak Perak Lumajang yang Hancur Diterjang Erupsi Gunung Semeru: Saksi Agresi Militer Belanda I
Jembatan Gladak Perak (Foto: Youtube/Niko_ Channel)
2 dari 4 halaman

Awal Pembangunan Jembatan Gladak Perak

 Jembatan Gladak Perak© Foto: Youtube/Niko_ Channel

Jembatan yang dibangun tahun 1925-1940 oleh pemerintah kolonial Belanda ini memiliki lebar 4 meter dan panjang 100 meter.

Awalnya, jembatan ini dibangun untuk melancarkan akses agresi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Selain itu, jembatan Gladak Perak juga dibangun untuk memasok logistik makanan dari Lumajang.

Keberadaan jembatan tersebut memaksa tentara Indonesia kala itu memilih untuk mundur sementara.

Untuk memutus akses tentara kolomial yang akan melakukan penyerangan, pejuang Indonesia sempat meledakkan jembatan Gladak Perak tersebut.

3 dari 4 halaman

Jembatan Kembali Dibangun

 Jembatan Gladak Perak© Foto: Youtube/Niko_ Channel

Setelah kondisi Indonesia sudah pulih, tahun 1952, jembatan Gladak Perak kembali dibangun dan digunakan sebagai akses penghubung.

Namun, jembatan tersebut sudah terlihat tua dan tak lagi bisa dilalui. Sehingga, pemerintah Indonesia membangun kembali jembatan baru yang berada di sisi selatan jembatan lama.

Jembatan baru ini dibangun di atas pondasi beton bertulang dengan panjang jembatan mencapai 130 meter. Jembatan itu pun sangat kokoh untuk dilalui ratusan kendaraan setiap harinya.

 

4 dari 4 halaman

Sempat jadi Cagar Budaya yang Dilindungi

Kemudian, jembatan Gladak Perak peninggalan kolonial Belanda yang tak lagi digunakan sebagai akses transportasi dijadikan sebagai spot untuk berfoto dan ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi.

Namun, erupsi Gunung Semeru yang terjadi beberapa waktu lalu, menyebabkan jembatan Gladak Perak kembali hancur akibat diterjang lahar dingin.

 

(Sumber: visitlumajang.com dan sumber lainnya)

Join Dream.co.id