Gara-Gara Kata Kampung, Hakim MK Sempat Ancam Usir Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandi

News | Rabu, 19 Juni 2019 17:43
Gara-Gara Kata Kampung, Hakim MK Sempat Ancam Usir Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandi

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Bambang menganggap Arief merendahkan saksi.

Dream - Sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) sempat memanas ketika Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat menanyai saksi kedua yang dihadirkan Tim Hukum Prabowo-Sandi, Idham.

Ketegangan bermula ketika Arief bertanta kepada saksi perihal materi yang akan disampaikan dalam sidang.

Dalam menjawab pertanyaan Arief, Idham menyebut kalau dia bertugas untuk daftar pemilih tetap (DPT) kampungnya.

" Berarti yang Anda jelaskan DPT di kampung anda?" tanya Arief.

" Seluruh Indonesia," jawab Idham.

" Bagaimana?" tanya Arief.

" Saya dapatkan DPT dari DPP Gerindra saat saya di Jakarta," ucap Idham.

 

2 dari 6 halaman

Bambang Diminta Setop

Di tengah tanya jawab itu, Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto tiba-tiba masuk dalam pembicaraan.

" Majelis mohon maaf, saya di kampung tapi saya bisa mengakses dunia melalui kampung pak," ujar Bambang.

" Lho bukan begitu," ucap Arief.

Bambang menyebut Arief telah menganggap sebelah mata orang kampung. Arief kemudian meminta Bambang diam.

" Begini Pak Bambang, saya kira saya sudah cukup saya akan dialog dengan dia (Idham), tapi mohon juga Pak Bambang diam," ucap Arief.

Arief menegaskan, jika mantan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tidak juga diam, dia mengancam akan mengeluarkan Bambang dari ruang sidang.

" Kalau tidak setop, pak bambang saya suruh keluar," kata Arief.

Tapi, Bambang justru menyebut Arief telah menekan saksi yang dihadirkan timnya. " Saksi saya menurut saya ditekan oleh bapak," kata Bambang.

3 dari 6 halaman

Yusril Ihza Bingung Baca Berkas Tim Kuasa Hukum Prabowo-Sandiaga: `Berantakan`

Dream - Ketua Tim Hukum Jokowi-Ma'ruf, Yusril Ihza Mahendra mengaku kebingungan ketika membaca berkas alat bukti yang diajukan tim kuasa hukum Prabowo-Sandi.

" Belum pernah terjadi selama saya bersidang di pengadilan alat bukti berantakan seperti ini, tidak jelas gitu," ujar Yusril di Gedung MK, Jakarta, Rabu, 19 Juni 2019.

Yusril mengatakan, selama ini tim kuasa hukum 02 hanya melontarkan pernyataan mengenai kecurangan Pemilu yang terstruktur, masif dan sistematis tanpa melampirkan bukti kuat.

" Sekarang ini betul apa yang dikatakan pengamat, termasuk Mahfud MD, permohonan di MK dalam pilpres sangat miskin dengan bukti. Bukti nggak jelas," ucap dia.

 

4 dari 6 halaman

Bukan Peti Kemas

Yusril mengatakan, puluhan berkas alat bukti, yang dibawa menggunakan kontainer, tidak memuat alat bukti yang kuat.

" Jadi bukan kontainer peti kemas, kontainer buat cucian itu," kata dia.

Sebab, kata dia, ketika Hakim Konstitusi, Enny Nurbaningsih tidak menemukan bukti fisik dari berkas P155 mengenai adanya kecurangan KTP palsu dan kartu keluarga (KK) manipulatif yang terdaftar di daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 17,5 juta.

" Ternyata dari alat-alat bukti yang dihadirkan dalam bentuk kontainer tadi, banyak yang belum disusun sebagai satu alat bukti," ujar dia.

5 dari 6 halaman

Yusril Sebut Alat Bukti Tim Hukum Prabowo Tidak Lengkap

Dream - Ketua Tim Hukum Jokowi-Ma'ruf, Yusril Ihza Mahendra berpendapat bahwa berkas alat bukti yang diajukan tim hukum Prabowo-Sandi yang diserahkan ke Mahkamah Konstitusi (MK) tidak lengkap.

" Sehubungan dengan daftar alat bukti yang disampaikan pemohon, lazimnya alat bukti disebutkan ini untuk menerangkan apa, tapi dalam keseluruhan alat bukti, ini tidak disebutkan," ujar Yusril di ruang sidang MK, Jakarta, Rabu 19 Juni 2019.

Dengan tidak lengkapnya berkas itu, Yusril mengaku bingung untuk menanggapinya.

" Lalu kami yang akan memberikan keterangan dan menanggapi bukti-bukti, sidang ini agak confuse, ini untuk membuktikan apa," kata dia.

Menanggapi hal tersebut, salah satu hakim konstitusi, Suhartoyo meminta para pihak untuk menjelaskan secara rinci keterangan yang ada di berkas alat bukti.

" Itu PMK kita tidak diatur, tapi seharusnya daftar bukti yang benar itu bisa dijelaskan. Ke depan kalau berita acara harus seperti itu," ujar Suhartoyo.

6 dari 6 halaman

Tim Hukum Prabowo Hadirkan 15 Saksi

Dream - Mahkamah Konstitusi (MK) kembali menggelar sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU). Memasuki hari ke tiga, sidang kali ini beragendakan mendengarkan keterangan 15 saksi dan 2 ahli dari kubu pemohon yakni Prabowo-Sandi.

Ketua Tim Hukum Jokowi-Ma'ruf, Yusril Ihza Mahendra mengatakan, belum dapat banyak komentar mengenai sidang hari ini.

" Karena memang ini adalah walinya pemohon, jadi kami belum banyak menanggapi nantinya," ucap Yusril, di Gedung MK, Jakarta, Rabu, 19 Juni 2019.

Yusril mengatakan, keterangan saksi akan diawali oleh ahli, bukan saksi fakta.

" Kebiasaan di MK itu saksi ahli terlebih dahulu yang memberi keterangan, kemudian saksi fakta," ujar dia.

Dalam sidang hari ini, Yusril mengaku hanya membawa tiga pengacara saja dari 33 orang yang tergabung dalam tim hukum Jokowi-Ma'ruf.

" Kami hari ini untuk tiga orang advokat, kami, Teguh Samudra, Sirra Prayuna dan Taufik Basari," kata dia. (ism)

Representasi Feminisme Versi Barli Asmara
Join Dream.co.id