Hagia Sophia Jadi Klaster Baru Penyebaran Virus Covid-19 Turki

News | Jumat, 14 Agustus 2020 11:01
Hagia Sophia Jadi Klaster Baru Penyebaran Virus Covid-19 Turki

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Ada sekitar 350 ribu orang yang datang ke Hagia Sophia, terdapat 500 orang pengunjung yang hingga kini positif Covid-19.

Dream - Keputusan membuka Hagia Sophia, yang kini digunakan sebagai masjid, menimbulan tantangan baru. Bangunan bersejarah yang diperebutkan sejak zaman Perang Salib itu menjadi klaster baru penyebaran virus Corona di Turki.

Dilansir dari Arab News, Kamis 13 Agustus 2020, sekitar 350 ribu orang datang ke Hagia Sophia saat pertama kali menggelar sholat berjamaah. Dari jumlah tersebut, terdapat 500 orang pengunjung yang dinyatakan positif Covid-19, termasuk anggota parlemen dan jurnalis.

" Setelah pembukaan Hagia Sophia, kami mendengar banyak kasus di antara politisi," kata seorang dokter yang tak disebutkan namanya seperti dilansir Arab News.

 

2 dari 7 halaman

Laporan kasus harian Covid-19 pemerintah Turki beberapa kali dikritik oleh tenaga profesional dan Asosiasi Medis Turki (TTB) karena dianggap tidak akurat.

Semenjak liburan Idul Adha lalu, terjadi lonjakan kasus yang mengalami peningkatan hingga 1.000 kasus per hari. TTB mengklaim angka sebenarnya bisa saja sekitar 3.000-an.

Anggota parlemen, partai oposisi, Murat Emir mengatakan, seharusnya para pejabat lebih bertanggung jawab di masa sulit seperti saat ini.

" Sayang, saat pembukaan Mesjid Hagia Sophia ribuan warga berkumpul tanpa memperhatikan protokol jaga jarak dan memakai masker. Berbagai kota dari Anatolia mengadakan tur untuk pembukaan ini, tanpa ada yang tahu apakah orang-orang ini mendapatkan izin resmi berpergian dari Kementerian Kesehatan, atau menjaga jarak selama transit," ungkap pria yang berlatar belakang dokter ini.

Hingga saat ini 5.858 orang telah meninggal akibat virus Covid-19. Turki belum masuk dalam daftar negara aman yang secara teratur diperbarui oleh Uni Eropa.

(Sah, Sumber: Arabnews)

3 dari 7 halaman

Umat Islam Athena Khawatir Masjid Batal Dibuka Akibat Alih Fungsi Hagia Sophia

Dream - Pembukaan kembali Hagia Sophia sebagai masjid di Turki memicu kekhawatiran umat Islam di Athena, Yunani. Mereka takut masjid di negaranya kembali ditutup oleh Pemerintah Yunani sebagai reaksi atas keputusan Turki.

Dalam beberapa dekade umat Islam Athena bersusah payah bisa mendirikan masjid di Athena. Permohonan mereka disetujui pemerintah setempat pada 2007.

Athena menjadi satu-satunya ibukota negara anggota Uni Eropa yang tidak memiliki rumah ibadah Muslim tersebut. Persetujuan untuk pembukaan masjid tersebut langsung mendapat penolakan dari Gereja Ortodoks Yunani yang cukup berpengaruh, juga dari kelompok nasionalis.

" Saya kira setelah insiden ini (alih fungsi Hagia Sophia), mungkin akan lebih sulit membuka masjid resmi yang kita menantikannya selama 10 tahun," ujar Imam Attaul Naseer, pengelola masjid sementara di apartemen di pusat Athena.

4 dari 7 halaman

Masjid Tetaplah Masjid

Naseer berpendapat sebuah tempat ibadah harus tetap menjadi tempat ibadah. Bukan dialihfungsikan menjadi bangunan lain.

" Saya pikir masjid harus tetap menjadi masjid. Itu tidak boleh menjadi gereja atau apa pun. Sama seperti orang Kristen mengharapkan Hagia Sophia tetap menjadi gereja, umat Islam mengharapkan hal yang sama," kata Naseer.

Masjid resmi di Athena kemungkinan akan dibuka di akhir musim gugur di distrik Elaionas, timur laut Athena. Masjid tersebut didirikan tanpa menara dan di bawah pengawasan Pemerintah Yunani.

5 dari 7 halaman

Berharap Masjid Bersejarah Diaktifkan Lagi

Sebelum masjid dibuka, untuk mewadahi kebutuhan umat Islam Athena yang jumlahnya sekitar 300 ribu jiwa, banyak masjid darurat dibangun. Lokasinya ada di apartemen, ruang bawah tanah, bahkan gudang.

Naseer meyakini masjid bersejarah peninggalan Dinasti Usmani di Athena, seperti di pusat Monastiraki square, dapat kembali digunakan untuk sholat. Masjid tersebut telah diubah menjadi museum oleh pemerintah setempat.

Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan, telah mengusulkan hal tersebut kepada otoritas Yunani beberapa tahun lalu. Tetapi, hal itu sulit terwujud di negara yang pernah menjadi kawasan jajahan Dinasti Usmani dan baru mendapatkan kemerdekaannya di abad ke-19.

Sentimen anti-Turki di Yunani cukup kuat. Ditambah ketegangan antara dua negara ini terkait migrasi dan eksplorasi energi di kawasan Mediterania Timur menguatkan sentimen tersebut.

 

6 dari 7 halaman

Prosedur yang Rumit

Tinggal di Yunani selama tujuh tahun, Naseed yang lahir di Pakistan mengalami sendiri tindakan rasis. Terkadang dia juga menjadi sasaran kekerasan dari kelompok militan neo-Nazi.

" Tetapi secara umum, umat Kristen dan Islam hidup bersama secara damai," kata dia.

Untuk mengatur banyaknya masjid darurat, Yunani menerapkan aturan operasional yang ketat. Pengelola harus mendaftarkan nama perwakilan agama di belakangnya, jumlah jemaah dan sumber dananya.

Ruang sholat diharuskan memenuhi standar keamanan. Termasuk memiliki alarm kebakaran, fasilitas sanitasi, serta pintu darurat.

" Prosedur ini sangat rumit dan butuh waktu. Beberapa masjid telah mendapatkan izin dari kementerian," kata Naseer.

7 dari 7 halaman

Di kawasan pemukiman Pakistan di Athena, sebuah pintu hijau menonjol di jalur perbelanjaan. Di atasnya tertulis pintu masuk ke Masjid Al Jabbar.

Imam asal Bangladesh, Abu Bakar, dengan bangga menunjuk ke dokumen kementerian yang ditempel di dinding. " Sejak 2017, kami beroperasi secara legal," ujarnya.

" Masjid resmi yang ingin dibuka negara Yunani jauh dari pusat Athena di mana banyak pengungsi Muslim tinggal dan bagaimanapun hanya dapat menampung 350 orang," ucap dia.

" Masjid tidak resmi yang menjadi legal, seperti milik kami, akan tetap diperlukan bagi Muslim yang ingin menjalankan keyakinan mereka di Athena," kata Abu Bakar.

Satu-satunya masjid yang berasal dari era Ottoman yang saat ini beroperasi di Yunani terletak di wilayah perbatasan dengan Turki, di Thrace, tempat tinggal minoritas Turki sebanyak 150 ribu orang.

Terkait
Join Dream.co.id