Gubernur Kalteng Sayembara Turunkan Hujan Berhadiah Rp5 M

News | Jumat, 2 Agustus 2019 16:00
Gubernur Kalteng Sayembara Turunkan Hujan Berhadiah Rp5 M

Reporter : Maulana Kautsar

Lebih murah daripada operasional menggunakan helikopter.

Dream - Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Sugianto Sabran menggelar sayembara unik. Dia akan memberi hadiah miliaran rupiah untuk orang yang bisa menurunkan hujan.

" Ini beneran. Kalau ada yang bisa, saya siap bayar Rp5 miliar," kata Sugianto, Rabu, 31 Juli 2019.

Dia mengatakan, sayembara ini dibuat untuk menghilangkan asap kebakaran hutan dan lahan (kahutla) di daerahnya. Uang Rp5 miliar, kata dia, lebih kecil dibandingkan biaya pemadaman kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan menggunakan helikopter.

" Daripada menggunakan helikopter, itu lebih hemat. Kalau ada yang bisa, akan saya bayar Rp5 miliar," ujar dia.

Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Komarudin Sulaeman Simanjuntak membenarkan sayembara yang digelar Sugianto.

" Kalau ada yang bisa menurunkan hujan, akan lebih efektif. Sebab, hujan lebih efektif mengatasi kebakaran hutan dan lahan," kata Komarudin.

Biaya operasional untuk pemadaman hutan diperkirakan mencapai Rp22 miliar per bulan. Biaya itu untuk mendatangkan tiga helikopter dan biaya untuk 1.512 orang.

(Sah, Sumber: JPNN)

2 dari 6 halaman

99% Kebakaran Hutan dan Lahan Karena Ulah Manusia

Dream - Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia 99 persen disebabkan oleh ulah manusia. Kebakaran akibat alam hanya terjadi 1 persen. 

Beberapa pemicu kebakaran akibat ulah manusia diantaranya buang putung rokok atau membakar sampah, disengaja karena ingin membuka lahan, dan disengaja karena dibayar.

" Alasannya adalah dampak kurangnya lapangan kerja," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, dalam keterangan resminya, Selasa, 5 Maret 2019.

Doni menduga masalah utama terjadinya pembakaran hutan terletak pada faktor ekonomi masyarakat. Solusi untuk mengatasi persoalan ini adalah meningkatkan komoditas ekonomi rakyat seperti kopi dan lada.

Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, khusus di Riau, sebanyak tiga stasiun pemantau cuaca disiapkan untuk mendeteksi cuaca dan titik panas.

 Kondisi lahan yang terancam kebakaran hutan

Meski begitu, kata Dwikorita, alat milik BMKG masih memiliki kelemahan. " Baru dapat mendeteksi zona lebih dari 500 meter persegi," ujar dia.

3 dari 6 halaman

Indonesia Merugi Rp221 T karena Bencana

Deputi dari Badan Restorasi Gambut (BRG) Haris Gunawan menambahkan gambut di Riau tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat. Bekerjasama dengan BPPT, lembaganya mengembangkan inovasi pemantauan gambut secara realtime dengan menggunakan Android. 

" Lahan gambut di Riau, dalam keadaan merah. Sehingga kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan.  Perlu adanya air untuk menyeimbangkan ekosistem, restorasi gambut, pelibatan masyarakat, dan peringatan dini terhadap kebakaran lahan gambut. Harus jelas kepemilikan lahan untuk memudahkan pemadaman, dan sejahterahkan rakyat," kata Haris.

Selain berbicara mengenai kebakaran hutan, Doni juga menyebut kondisi penanggulangan bencana di Tanah Air. Dia menyebut pentingnya menguatkan penanggulangan bencana.

Doni menjelaskan kerugian ekonomi Indonesia akibat bencana alam mencapai Rp221 triliun pada 2015. Sementara itu, korban bencana selama 18 tahun terakhir mencapai 1.220.701 orang.(Sah)

4 dari 6 halaman

4 Provinsi Siaga-Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan

Dream - Seiring meningkatnya cuaca kering di beberapa daerah langganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), empat provinsi menetapkan status siaga-darurat. Keempat provinsi itu terletak di Sumatera dan Kalimantan.

Sumatera Selatan diketahui telah menetapkan status siaga sejak 1 Februari 2018 hingga 30 Oktober 2018, Riau menetapkan status sejak 19 Februari 2018 hingga 31 Mei 2018, Kalimantan Barat sejak 1 Januari 2018 hingga 31 Desember 2018, dan Kalimantan Tengah menetapkan status sejak 20 Februari 2018 hingga 21 Mei 2018. 

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan penetapan status siaga-darurat Karhutla berdasarkan meningkatnya jumlah titik panas.

" Dengan pemberlakuan siaga darurat maka ada kemudahan akses dalam penanganan Karhutla, baik pengerahan personil, komando, logistik, anggaran dan dukungan dari pemerintah pusat," kata Sutopo, Rabu, 21 Februari 2018.

Sutopo mengatakan daerah-daerah yang berada di sekitar garis khatulistiwa saat ini memasuki musim kemarau periode pertama. Adapun kemarau periode kedua berlangsung pada Juni hingga September.

" Karhutla umumnya meningkat pada periode kedua musim kemarau ini," ujar dia.

Berdasarkan pengamatan SNPP pada catalog modis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada Rabu pagi ini pukul 07.23 WIB, terdapat 90 titik panas di Indonesia.

(Sah)

5 dari 6 halaman

Pengalaman Relawan Cantik Padamkan Kebakaran Hutan Kalimantan

Dream - Menjadi relawan di kondisi penuh kabut asap tak membuat dirinya gentar. Bahkan dengan menjadi relawan dirinya dapat banyak pengalaman. Itulah pengalaman yang dirasakan Intan Syafrini Fazrianti, nama yang tenar di sosial media karena fotonya sedang memadamkan kebakaran lahan. 

" Aku awalnya dijadikan untuk mendokumentasikan kebakaran hutan di sana. Tapi, masak iya cuma mendokumentasikan. Jadi aku belajar juga memadamkan kebakaran hutan," kata Intan saat berbincang dengan Dream.

Intan lantas ikut dalam berbagai aktivitas yang dilakukan Sekolah Relawan. Bahkan, dari berbagai kegiatan yang dia ikuti dirinya jadi mengenal alam dan penduduk lokal di sana.

" Ini menjadi kali pertama aku nginjekin kaki di Kalimantan. Meski begitu, aku kenal jadi kenal alamnya, kenal penduduk asli sana yang baik," ujar mahasiswi 

Bahkan, Intan mengaku mendapat pelajaran berharga dari Bang Gaw (pendiri Sekolah Relawan Bayu Gawtama).

" Kalau ingin jadi relawan yang baik jadilah relawan yang cerdas dan membumi," kata gadis berambut panjang ini. 

 

6 dari 6 halaman

Siap Diterjunkan

Dengan menjadi relawan itu, menurutnya, dapat menjadi upaya untuk menumbuhkan kesadaran sosial.

" Masak iya, kita masih bisa kongkow-kongkow melihat saudara kita di Kalimantan dalam kesusahan karena kebakaran hutan dan musibah kabut asap. Itu egois namanya," jelasnya.

Melihat sering terjadinya kebakaran hutan di beberapa wilayah di Indonesia, Intan siap untuk diterjunkan kapan saja. Tapi, yang terpenting baginya ialah keadaan aman.

" Kalau aku ada kesempatan diterjunkan aku siap. Tapi, aku lebih berharap gak ada lagi kejadian kebakaran," harap mahasiswi Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta ini. (Ism) 

Pengakuan Mencengangkan Aulia Kesuma, Dibalik Rencana Pembunuhan Suami dan Anak Tirinya
Join Dream.co.id