Geger Pasien Covid-19 Dianiaya Warga di Toba, Ini Fakta Sebenarnya

News | Senin, 26 Juli 2021 13:18

Reporter : Ahmad Baiquni

Salamat kini menjalani perawatan di RS Porsea.

Dream - Salamat Sianipar, 45 tahun, menjadi korban kekerasan warga Dusun Bulu Silape, Desa Sianipar II, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Dia diikat dan dipukuli warga lantaran positif Covid-19.

Insiden yang dialami Salamat sempat terekam kamera dan viral di media sosial setelah diunggah di akun Instagram @jhosua_lubis. Peristiwa tiu sendiri terjadi pada Kamis, 22 Juli 2021.

Sepupu korban, Anderson Regen Silaen, mengatakan Salamat dinyatakan positif Covid-19 pada Rabu, 21 Juli 2021. Salamat sempat berobat ke sebuah klinik.

" Kondisi korban tidak enak badan, hasil pemeriksaan menyatakan dia positif Covid-19," ujar Anderson.

Salamat kemudian dianjurkan menjalankan isolasi mandiri. Salamat pun menurut dan dia menjalani isoman di sebuah gubuk.

 

Geger Pasien Covid-19 Dianiaya Warga di Toba, Ini Fakta Sebenarnya
Penganiayaan Pasien Positif Covid-19 Di Toba (Instagram @jhosua_lubis)
2 dari 5 halaman

Klaim Dianiaya Saat Isoman

Di tengah isoman, kata Anderson, Salamat malah dianiaya warga. Seperti pada video, Salamat sempat diikat dan dipukuli sampai tak berdaya.

Anderson menyebut penganiayaan terjadi lantaran warga tak terima Salamat terinfeksi Covid-19. Bahkan ada juga perangkat desa yang ikut menganiaya.

" Kami tak terima. Dia dianiaya karena Covid-19, padahal saat penganiayaam dia sudah diikat pakai tali dan dipukuli pakai kayu panjang," kata dia.

Saat ini, Salamat sudah dirawat di sebuah rumah sakti di Kecamatan Porsea. Anderson menyebut luka Salamat mulai mengering.

" Kakinya bengkak semua akibat dipukuli, dia sudah depresi," kata dia.

Tidak terima dengan perlakuan yang diterima Salamat, Anderson mengatakan pihak keluarga melayangkan pengaduan ke Polisi. Ini lantaran kondisi Salamat sudah mencapai depresi.

" Kami akan buat laporan ke Polres Toba," kata dia.

 

3 dari 5 halaman

Keterangan Berbeda Tim Satgas Covid-19

Sekretaris Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Toba, Audy Murphy Sitorus, buka suara atas peristiwa ini. Menurut dia, penganiayaan terjadi akibat Salamat bertingkah aneh-aneh dengan berusaha menularkan Covid-19 kepada orang lain, padahal seharusnya menjalani isoman.

" Ditemuinya orang, kemudian dipeluknya, semua orang dipeganginya, akhirnya marah massa," kata dia.

Audy menjelaskan Salamat baru menjalani isoman di rumah setelah dinyatakan positif Covid-19. Proses isoman dijalankan dengan pengawasan Satgas.

Dia pun menyayangkan tingkah Salamat. Karena penganiayaan tersebut, Salamat kemudian dirawat di RS Porsea.

" Saat ini diisolasi di RS Porsea, yang kami lakukan saat ini mentracing siapa-siapa saja yang kontak erat. Tujuannya mengantisipasi agar tidak menyebar luas," kata Audy.

 

4 dari 5 halaman

Bupati Toba Bantah Penganiayaan

Bupati Toba, Poltak Sitorus, kemudian memberikan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dia menyatakan Salamat bukan dianiaya melainkan diamankan oleh warga.

" Jadi, bukan kekerasan, hanya mengamankan. Saya lihat, masyarakat desa sangat peduli dengan Pak Salamat," kata dia.

Poltak mengaku telah bertemu dengan pihak keluarga Salamat untuk mengetahui kejadian sebenarnya. Salamat pun sudah mendapat perawatan.

" Beliau (Salamat) sudah kita posisikan di RSUD Porsea," kata dia.

 

5 dari 5 halaman

Keterangan Kades dan Istri Korban

Sementara Kepala Desa Pardomuan, Timbang Sianipar, mengatakan Salamat sebelumnya diisolasi di tempat yang disetujui pihak keluarga. Kebutuhan sehari-hari Salamat bahkan sudah dipenuhi 0leh Satgas Covid-19 Desa Pardomuan.

" Kebutuhan seperti beras 1 karung, telur 1 papan, dencis 2 kaleng, garam, minyak goreng, sabun mandir, sudah kami siapkan," kata dia.

Sayangnya, meski sudah menempati fasilitas isoman, Salamat masih kembali ke rumahnya. Mengetahui informasi tersebut, Timbang mengaku langsung mendatangi rumah Salamat.

" Iya, kembali ke rumah, jadi saya langsung ke rumah Salamat," kata dia.

Istri Salamat, Risma Sitorus, memberikan keterangan senada. Dia mengataua Salamat dianiaya warga lantaran hendak menularkan Covid-19 kepada dia dan anaknya.

" Anakku mau dipeluknya, enggak mau, lari kami, Jadi warga yang nangkapnya," kata dia, dikutip dari Liputan6.com.

Join Dream.co.id