Filipina dan Thailand Adopsi Pola Pendidikan Madrasah

News | Rabu, 12 Februari 2020 14:02
Filipina dan Thailand Adopsi Pola Pendidikan Madrasah

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Dua negara itu tertarik dengan pola pendidikan di madrasah.
Dream - Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin mengatakan, Filipina dan Thailand berencana mengadopsi pola pendidikan madrasah yang selama ini dilakukan di Indonesia.
 
" Bahkan Filipina akan mengadopsi seratus persen pola pendidikan di madrasah, untuk diterapkan di sana," ujar Kamaruddin dikutip dari laman resmi Kemenag, Rabu, 12 Februari 2020.
 
Secara khusus, kata dia, Kemenag diundang oleh Pemerintah Filipina untuk menjelaskan mengenai pengelolaan madrasah yang selama ini dijalankan. Ketertarikan dua negara ASEAN itu untuk mengadopsi pola pendidikan madrasah, karena mereka telah menyaksikan langsung.
 
" Teman-teman dari Filipina dan Thailand sudah pernah datang ke sini untuk mengetahui tentang bagaimana pengelolaan Pendidikan Islam yang telah terselenggara di Indonesia," ucap dia.
 
Dalam kunjungan itu, Filipina dan Thailand menyukai model pendidikan yang diajarkan di madrasah. Selama ini, Ditjen Pendis telah mengelola ribuan madrasah dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga Madrasah Aliyah (MA).
 
" Madrasah di Indonesia adalah yang termodern di dunia," kata dia.
2 dari 5 halaman

British Council Tingkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Siswa Madrasah

Dream - Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, A Umar, berupaya meningkatkan penguasaan bahasa asing siswa madrasah. Salah satu upaya Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng British Council.

" Rencana besar ini kami eksekusi, salah satunya bekerja sama dengan British Council untuk program prioritas bahasa Inggris," kata Umar, diakses dari laman Kemenag, Kamis 16 Januari 2020.

Umar mengatakan, kerja sama dengan British Council melahirkan kesepakatan untuk meningkatkan pembelajaran bahasa Inggris di madrasah. Salah satu caranya menggelar riset pemetaan kondisi pembelajaran bahasa Inggris yang selama ini berjalan.

Pemetaan diperlukan agar kebijakan yang diambil selaras dengan pokok persoalannya. “ Ini akan jadi landasan Kemenag untuk menata kurikulum misalnya atau bisa juga meningkatkan mutu gurunya, atau sebagainya,” kata Umar.

3 dari 5 halaman

Ada Kompetisi

 Pertemuan British Council dengan Ditjen Kemenag (Foto: Kemenag)© Kemenag

Pertemuan British Council dengan Ditjen Kemenag (Foto: Kemenag)

Selain pemetaan, British Council juga siap memfasilitasi program “ Theater Competition” atau kompetisi drama berbasis Bahasa Inggris. Program ini sudah diterapkan di beberapa negara dan berhasil.

“ Dari situ diyakini akan banyak skill yang banyak digali, ada speakingwriting saat menulis naskah, reading. Poinnya adalah exciting, lomba tapi anak-anak senang,” kata dia.

Terakhir, British Council berupaya memfasilitasi kemampuan online untuk guru dan siswa.

“ Kualitas dan metodologi yang guru ajarkan akan kami fokuskan dengan training dan teknologi. Sehingga bisa menggunakan teknik yang benar. Speakingreadingwriting and how to improve, digital teknologi sangat penting,” kata Colm Downes, Director Education, English & Society British Council.

4 dari 5 halaman

Modul Bahasa Inggris

Tim Ditjen Pendis dan Biritsh Council menyepakati metode pembelajaran yang akan diterapkan, yakni, kombinasi antara pendekatan lokal dan tradisional, termasuk juga pendekatan digital atau teknologi.

Untuk itu, Umar ingin diterbitkan modul pembelajan bahasa Inggris khusus untuk siswa madrasah. Di modul itulah akan dimasukkan konten lokal, konten-konten berbasis Islam, nasional, nilai-nilai moderasi beragama, dan nilai-nilai toleransi.

Umar berharap agar kerja sama ini menjadi solusi penguatan kompetensi bahasa Inggris sebagai bekal siswa madrasah dalam bersaing di kancah global.

Tidak hanya bahasa Inggris, Kemenag juga berupaya memperkuat kemampuan bahasa asing lain, misalnya bahasa Arab, Mandarin, dan lainnya. Selain mahir dalam komunikasi, kemampuan berbahasa asing itu juga diharapkan menjadi bekal lulusan madrasah saat akan kuliah di luar negeri.

5 dari 5 halaman

Kemenag Dorong Siswa Madrasah Minimal Kuasai 3 Bahasa Asing

Dream - Kementerian Agama (Kemenag) berencana mempersiapkan program bagi lulusan madrasah agar berdaya saing tinggi. Direktur Kurikulum Saranan Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A. Umar menyebut agar berdaya saing, siswa madrasah diwajibkan untuk menguasai minimal tiga bahasa asing.

“ Untuk meningkatkan daya saing, Pak Menteri mintanya satu, anak madrasah harus menguasai satu di antara tiga bahasa asing,” kata Umar, di kantornya, di Jakarta, Selasa, 7 Januari 2020.

Tiga bahasa asing yang harus dikuasai siswa yaitu, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Mandarin.

Umar mengatakan, setiap sekolah tidak harus mewajibkan anak didiknya memilih bahasa Mandarin. Siswa bisa menggantinya dengan bahasa asing lainnya, seperti bahasa Perancis, Italia, dan Jerman.

“ Tidak harus bahasa Mandarin,” ucap dia.

Pemilihan bahasa yang harus dikuasai yaitu yang lebih sering digunakan dan menyesuaikan.

Umar juga menerangkan, tiga bahasa ini akan berguna untuk nantinya saat melamar pekerjaan dan akan lebih mempunyai kompetensi penilaian yang lebih bagus.

Ke depan, Kemenag juga akan meningkatkan daya saing siswa madrasah dengan memberikan eduksi untuk menguasai IT serta tambahan Pendidikan Vokasi.

(Sah, Laporan: Diah Tamayanti)

Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair
Join Dream.co.id