Guru Besar Unair Klaim Tanaman Empon-Empon Bisa Tangkal Virus Corona

News | Senin, 17 Februari 2020 15:00
Guru Besar Unair Klaim Tanaman Empon-Empon Bisa Tangkal Virus Corona

Reporter : Maulana Kautsar

Terbaik dan termurah, kata dia.

Dream - Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof.C.A. Nidom mengklaim empon-empon bisa menanggulangi sebaran virus corona, Covid-19. Kondisi ini pula yang membuat masyarakat Indonesia terhindar dari infeksi Covid-19.

“ Di masakan Indonesia sudah terkandung banyak Curcumin, seperti kunyit sereh jahe dan lainnya. Mungkin itulah kenapa hingga saat ini belum ada yang positif terjangkit,” kata Nidom, kepada beritajatim.com, diakses Senin, 17 Februari 2020.

Nidom mengatakan, Curcumin mampu meningkatkan antibodi dan menguatkan sel-sel tubuh. Sehingga, kata dia, masyarakat Indonesia diminta tak perlu panik karena obat dan formulasinya preventif dan mudah ditemukan.

“ Jangan disalahkan virusnya, virus apapun jenisnya akan tetap ada di sekitar kita. Tinggal kita yang harus menjaga kekebalan tubuh kita. Dengan memanfaatkan curcumin, kita bisa mengurangi penggunaan masker dan membeli obat kimia. Gunakan Curcumin, itu pencegahan terbaik dan termurah,” ucap dia.

" Pada dasarnya virus corona ini merupakan satu kingdom dengan influenza yang bisa ditangkal atau dicegah dengan curcumin,” ucap dia.

 

2 dari 6 halaman

Formula Ini Untuk Preventif

Nidom, yang juga peneliti virus flu burung, mengatakan dampak klinis yang ditimbulkan virus flu burung sejatinya lebih berat. Virus flu burung mampu menyebabkan badai sitokin yang merusak paru-paru.

Nidom mengatakan, dia memiliki formula yang ampuh untuk mencegah terjangkitnya virus flu burung saat itu. Dia menyebut, formula ini juga mampu mencegah atau menangkal Covid-19.

" Pada dasarnya formula obat ini digunakan untuk preventif virus corona," kata dia.

Sumber: Beritajatim.com

3 dari 6 halaman

Ahli WHO: Virus Corona Bisa Infeksi Dua Pertiga Populasi Dunia

Dream - Di tengah kabar jumlah kasus virus korona yang melonjak secara drastis di China, seorang ilmuwan penyakit menular memperingatkan kemungkinan yang lebih buruk lagi.

Menurut Profesor Ira Longini, penasihat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengamati penularan virus di China, jumlah korban yang terjangkit bisa mencapai dua pertiga populasi dunia.

Profesor Longini memperkirakan bahwa pada akhirnya akan ada miliaran infeksi virus corona dari hitungan resmi saat ini yang mencapai sekitar 60.000 kasus.

Jika virus benar-benar menyebar dalam tingkat seperti yang diperkirakan, maka itu menunjukkan kegagalan Pemerintah China dalam melakuan isolasi ketat di negaranya, termasuk terhadap wilayah karantina yang dihuni oleh puluhan juta orang.

Pemodelan yang dibuat Profesor Longini didasarkan pada data yang menunjukkan bahwa setiap orang yang terinfeksi biasanya menularkan penyakit kepada dua hingga tiga orang lainnya.

Lambatnya pendeteksian virus dan relatif samarnya infeksi virus pada sebagian orang juga membuat sulit untuk melacak penyebarannya.

4 dari 6 halaman

Bahkan jika ada cara untuk mengurangi penularan hingga setengahnya, tetap saja sekitar sepertiga dari dunia akan terinfeksi.

" Mengisolasi kasus dan mengkarantina orang yang telah melakukan kontak dengan pasien virus Covid-2019 tidak akan menghentikan virus ini," kata Prof Longini.

Bukan hanya Prof Longini saja yang memperingatkan kemungkinan penyebaran yang jauh lebih besar dari virus Covid-2019 ini.

Prof Neil Ferguson, seorang peneliti di Imperial College London, memperkirakan bahwa sebanyak 50.000 orang dapat terinfeksi setiap hari di China.

Profesor Gabriel Leung, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Hong Kong, juga mengatakan hampir dua pertiga dari dunia dapat tertular virus jika dibiarkan tidak terkendali.

Perkiraan penyebaran bisa terungkap seiring dengan perkembangan epidemi, kata Prof Alessandro Vespignani, seorang ahli biostatistik di Northeastern University di Boston.

" Beberapa minggu ke depan mungkin memberikan lebih banyak informasi tentang seberapa mudah penyakit ini menyebar ke luar China, terutama jika lebih banyak tindakan dilakukan untuk mengendalikannya," kata Prof Alessandro.

Sumber: The Straits Times

5 dari 6 halaman

Jepang Laporkan Korban Pertama Meninggal Karena Virus Corona

Dream - Pasien wanita 80 tahun terinfeksi virus corona di Jepang dilaporkan meninggal pada Kamis kemarin. Kematian ini menjadi kasus pertama yang telah dikonfirmasi resmi oleh pemerintah.

Menteri Kesehatan Jepang, Katsunobu Kato mengatakan pasien wanita dari Prefektur Kanagawa itu diketahui belum melakukan perjalanan ke luar negeri. Pasien ini baru diketahui terinfeksi virus dengan nama resmi Covid-19 setelah dia meninggal.

Wanita tersebut didiagnosis menderita radang paru-paru atau pneumonia dan menjalani perawatan intensif sejak 1 Februari. Pernapasannya mulai memburuk pada 6 Februari.

Pasien itu merupakan ibu mertua dari sopit taksi di Tokyo yang terkonfirmasi terjangkit virus pada Kamis.

Pejabat Kota Tokyo menjelaskan sopir berusia 70 tahunan itu tidak mengangkut pengunjung asing dalam dua pekan sebelum dia menunjukkan tanda-tanda terjangkit pada 29 Januari.

Otoritas kesehatan hingga saat ini masih melacak penyebab sopir tersebut bisa terpapar corona.

6 dari 6 halaman

Kasus Terjangkit Capai 251 Orang

Jepang kini tengah bergelut dengan penyebaran virus penyebab pneumonia. Pada Kamis kemarin, ada 44 kasus infeksi tambahan berasal dari kapal pesiar Diamond Princess yang merapat di Pelabuhan Yokohama dan terpaksa dikarantina.

Di Prefektur Wakayama, ahli bedah berusia 50 tahunan menjadi dokter pertama di Jepang yang terpapar virus. Tidak diketahui apakah dia memiliki kontak dekat dengan pengunjung asal China atau tidak.

Kasus terkini, seorang pemuda 20 tahunan asal Prefektur Chiba yang diuji dinyatakan positif terjangkit pada Kamis. Sehingga total kasus infeksi yang terkonfirmasi menjadi 251 di seluruh Jepang, dengan jumlah terbesar yaitu 218 kasus berasal dari penumpang dan kru kapal pesiar Diamond Princess.

Virus corona diketahui masuk ke Jepang melalui para turis dari China, khususnya Wuhan. Tetapi, besarnya kasus penduduk lokal yang terjangkit tanpa sebelumnya bepergian ke luar negeri telah meningkatkan kewaspadaan di negara tersebut.

Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan pemerintah menyiapkan total anggaran mencapai 15,3 miliar yen, setara Rp1,9 triliun, untuk tindakan darurat seperti pengembangan cepat perangkat pengujian. Juga untuk memastikan sebanyak 600 juta masker tersedia dalam sebulan.

Sumber: The Mainichi

Terkait
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya
Join Dream.co.id