Ideologi Taliban Bukan dari Timur Tengah atau Negara Islam

News | Kamis, 9 September 2021 12:00

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Islam versi Taliban berbeda dari asal mulanya yaitu gerakan Deobandi pada akhir abad ke-20.

Dream - Ratusan pemuda berpeci dan berpakaian serba putih duduk bersila di sebuah ruang kelas dengan tulisan Arab di dinding. Dari menara masjid, terdengar suara lantunan Alquran secara serempak. Suara itu terdengar di tengah lingkungan yang dipadati gerobak penjual, becak, dan pedagang asongan.

Di wilayah itulah ideologi Taliban berasal. Bukan Afghanistan, apalgi negara Timur Terngah ataupun negara mayoritas Muslim. Daerah tersebut merupakan kota kecil di India yang berjarak 160 kilometer dari New Delhi.

Lebih dari 150 tahun lalu, sarjana Muslim asal kota tersebut mulai menyebarkan ilmu politik yang terbalut ilmu agama Islam.

Madrasah Darul Ulum Deoband yang didirikan pada 1866 mengajarkan prinsip Islam untuk Muslim India agar mampu melawan kolonial Inggris. Kurang dari satu dasawarsa sebelumnya, Inggris sukses mengambil alih India dari Eat India Company setelah penguasa Muslim India, Mughal, ditaklukkan.

" Inggris mengambil alih. Kehebatan muslim pudar. Jadi ada semacam rasa kepedihan di tengah-tengah muslim," kata Luv Puri, peneliti, penulis dan kolumnis, dikutip dari situs berita NPR, Kamis 9 September 2021.

" Mereka kemudian memutuskan, saat itulah momen terbaik merebut kembali kejayaan Islam melalui sebuah gerakan," tambahnya.

Gerakan tersebut dikenal dengan sebutan Islam Deobandi, merupakan aliran paham Sunni yang berasal dari India dan Pakistan. Setelah India terbelah, mereka mulai menyebarkan Islam ke Asia Selatan dan mendirikan madrasah untuk mengajarkan Islam garis keras terutama di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Dari sana, mereka memberikan pengajara kepada murid yang kemudian dikenal dengan nama Taliban.

Ideologi Taliban Bukan dari Timur Tengah atau Negara Islam
Ilustrasi Taliban (Foto: Shutterstock)
2 dari 5 halaman

Akar Ideologi Taliban

Mendiang pendiri Taliban, Mullah Mummad Umar, merupakan lulusan madrasah Deobandi di Pakistan bersama para pemimpin Taliban lain. Meski Taliban kerap menyebut diri mereka Deobandi, para ulama di tempat lahirnya Islam Deobandi, menganggap mereka berbeda dengan Taliban.

" Taliban mengatakan mereka sedang melakukan apa yang kami lakukan di India. Bagaimana kami mengusir penjajah Inggris dari India, begitulah yang Taliban lakukan di Afghanistan. Mereka sedang mengusir para penjajah: yang pertama Rusia, lalu Amerika," kata Maulana Arshad Madani, pimpinan Darul Ulum yang berusia 80 tahun kepada NPR di rumahnya.

Namun Madani dan muslim Deobandi lain membantah jika mereka punya hubungan erat dengan Taliban. Tak hanya itu, mereka juga merasa tidak nyaman jika dikaitkan dengan kelompok tersebut.

" Mereka menyebut diri sebagai Deobandi, tapi 99 persen dari Taliban bahkan tidak pernah ke India. Kami tidak punya hubungan dengan mereka," kata Madani.

3 dari 5 halaman

Tentang Neo-Deobandi

Sejumlah cendekiawan mengatakan apa yang dikatakan Madani benar, Islam versi Taliban berbeda dari asal mulanya yaitu gerakan Deobandi pada akhir abad ke-20.

" (Versi) Deobandi India itu klasik, sementara yang ada di Pakistan dan Afghanistan itu neo-Deobandi," ujar Soumya Awasthi, pakar keamanan di Yayasan Internasional Vivekananda, lembaga peneliti di New Delhi.

" Saya menyebutnya neo-Deobandi karena paham itu melenceng jauh dari ajaran Islam Deobandi. Mereka punya unsur Wahabisme di dalamnya," kata dia.

Wahabisme merupakan gerakan ultrakonservatif dalam Islam Sunni, diambil dari nama teolog asal Arab Saudi Muhammad ibn Abdul Wahhab. Ini adalah versi Islam yang kini berlaku dalam hukum Saudi dan masih berlangsung praktiknya.

" Setelah terjadi Revolusi Islam Iran pada 1979, Arab Saudi khawatir dunia Islam akan didominasi paham Syiah Iran. Maka mereka mulai menyokong mayoritas Sunni Pakistan untuk mendirikan madrasah-madrasah di perbatasan. Perlahan-lahan budaya Wahabi merasuk ke Islam Deobandi," kata Awasthi.

Seiring waktu, varian Islam Deobandi yang berbeda kemudian dipengaruhi oleh kondisi politik di mana paham itu berkembang.

Varian Wahhabi yang dipraktikkan oleh Taliban, kerap menyerang muslim moderat dan penduduk berbeda keyakinan. Sedangkan varian asli Deobandi kian meluas secara damai di India selama lebih dari 150 tahun.

 

4 dari 5 halaman

Apa yang diajarkan madrasah Deobandi?

Kini madrasah Darul Ulum Deobandi memiliki lebih dari 4.000 murid--semua laki-laki. Mereka kebanyakan dari India, tapi ada juga siswa asing dari negara mayoritas muslim seperti Malaysia dan Indonesia.

Kurikulum madrasah ini menitikberatkan Alquran, teks kisah hidup Nabi Muhammad dan hadits, bahasa Arab dan sastra, hukum Islam dan geografi serta sejarah. Tiap siswa harus menempuh pendidikan selama delapan tahun untuk pelajaran bahasa Arab dan setelah itu mereka bisa melanjutkan ke gelar master di bidang teologi, sastra dan ilmu lainnya.

" Seperti semua madrasah, sekolah ini yang pertama dan utama adalah pembelajaran tentang Islam," kata Brannon Ingram, pakar Islam Deobandi dan profesor studi agama di Universitas Northwestern di Illinois dalam surel kepada NPR.

" Sebagian juga mengajarkan bahasa Inggris dan topik modern lainnya. Mereka tidak mengajarkan 'jihad' meski dalam teks klasik siswa akan membaca dan menemukan tema itu."

5 dari 5 halaman

Upaya Persuasi

Pimpinan Darul Ulum Deoband, Madani mengatakan pada NPR, dia tidak pernah berkomunikasi dengan Taliban sebelumnya namun ia bersedia memulai jika diberi kesemaptan.

" Saya sudah tua dan lemah," kata ulama 80 tahun itu. " Tapi jika diberi kesempatan saya akan pergi ke Afghanistan."

Jika pemerintah India memintanya dan perjalanannya aman, dia mengaku siap berangkat ke Afghanistan untuk membujuk Taliban agar mau berdamai dan lebih melunak.

Sumber: NPR

Join Dream.co.id