Dedi Mulyadi: Jadi RT Lebih Sulit Ketimbang Gubernur

News | Kamis, 19 Oktober 2017 18:00
Dedi Mulyadi: Jadi RT Lebih Sulit Ketimbang Gubernur

Reporter : Maulana Kautsar

"Saya tak sanggup jadi RT!"

Dream - Dedi Mulyadi. Hampir sepuluh tahun memimpin Purwakarta. Sejak dilantik pada Maret 2008, namanya terus melambung dengan kebijakan-kebijakan yang dinilai menjadi terobosan baru. Kabupaten yang dulu berjuluk Kota Pensiun, dibuat lebih berdenyut.

Pria 46 tahun ini terbilang sukses menghidupkan pariwisata Purwakarta. Dulu, orang mungkin hanya lewat. Tapi sekarang kota ini telah menjadi tujuan. Menjadi destinasi wisatawan. Banyak tempat bisa dinikmati orang di sini, salah satu ikonnya adalah Sri Baduga, air terjun terbesar di Asia Tenggara.

Selain wisata, Dedi juga dikenal gigih mempertahankan budaya. Dia juga menerapkan pendidikan karakter pada anak-anak sekolah. Sehari dalam seminggu, anak-anak sekolah diminta mendampingi dan membantu orangtua bekerja. Dia sadar, ilmu tak hanya bisa didapat di dalam kelas saja.

Hampir satu dekade duduk di kursi Bupati, tak membuatnya jumawa. Bagi pria kelahiran kampung Sukadaya ini, kerja sebagai Bupati tak seberat Ketua RT yang sehari-hari harus sendirian mengurus masalah warga.

" Jadi RT paling sulit, enggak ada anggaran, kebagian ngurusi tetangga kebakaran, yang sakit bagian RT, yang bertengkar bagian RT. Saya tidak sanggup jadi RT! Bebannya berat," ucap Dedi, saat mengunjungi kantor redaksi KLN Network, Jakarta, Rabu 18 Oktober 2017.

Bagi Dedi, menjadi Ketua RT bahkan jauh lebih berat daripada mengemban jabatan Gubernur. Sebab, Gubernur punya banyak staf yang bisa membantunya kapan saja. " Mulai dari Sekretaris Daerah, Staf Ahli, punya. Bidang perencanaan punya, kepala dinas punya. Cuma nyuruh saja kerjaannya," ucap dia.

Hanya saja, kata dia, proses menjabat itulah yang berbeda. Pemilihan RT lebih mudah ketimbang menjadi Gubernur.

Itulah lelucon Dedi saat ngobrol santai. Sore itu, Dedi bercerita banyak hal, mulai pembangunan Purwakarta hingga kabar terhangat, soal pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun 2018. Berikut petikan wawancara dengan Dedi Mulyadi:

Bagaimana upaya Kang Dedi menata Jawa Barat?

Mengembalikan struktur kota Jawa Barat agar tidak seperti sekarang. Caranya menekan biaya produksi publik melalui sektor pariwisata. Kalau dari rekreasi, pemerintah daerah dapat apa? Pajak hotel dan restoran. 10 persen, makanya punya hotel lebih menguntungkan ketimbang punya pabrik.

 Dedi Mulyadi di Kantor Redaksi Merdeka.com

Konsep pariwisata Purwakarta juga begitu?

Iya begitu. Saya punya konsep konservasi hutan. Jangan berpikir Bekasi tak tergantung pada Purwakarta. Suplai airnya dari mana? Citarum.

Citarum dari mana? Dari Gunung Wayan, Gunung Windu. Problem dua gunung itu apa? Berubah jadi kebun sayur.

Kentang kan nyari daerah dingin, makin ke atas (menanamnya). Dalam jangka panjang bisa hancur.

Bagaimana aplikasi konsep itu?

Orang-orang yang tinggal di gunung itu digaji saja oleh pemerintah. Dia tugasnya apa? Nanem pohon dan ngejagain pohon.

Setelah itu, bikin rumah-rumah adat. Di desain untuk kebutuhan pariwisata. Anak-anaknya, diajari pariwisata. Anak-anaknya diajari bahasa Inggris.

Nah di usia pohon lima tahun, kasih peternakan. Maju itu. Itu pariwisata masuk sudah otomatis. Orang enggak usah lagi nginep di resort di vila. Sudah di rumah penduduk. Berkembang kok di Jepang dan Korea Selatan. Saya terapkan di Kampung Tajur, berhasil kok.

Orang kota tak perlu lagi bebasin tanah buat beli lahan, bangun vila, harus pajak. Tinggal datang seminggu sekali. Ini ekonomi tumbuh di mana-mana.

Transportasi sungai itu harus dihidupkan. Karena Jawa Barat itu cai, cai, artinya sungai. Perbatasan desa sungai, kecamatan sungai, kabupaten sungai. Dan sungainya melingkar, lo, maka dibuat aturan, rumah itu harus dibuat menghadap ke sungai. Sungai itu jadi halaman.

Enggak usah jauh-jauh deh. Di Bekasi itu ada Metropolitan Mall, di depannya ada Kali Malang. Coba kalau jembatannya dibikin melengkung ke atas. Kemudian seluruh pinggir jalannya dikasih taman yang indah. Terus tiap hari Minggu pakai perahu. Dan itu terkoneksi, lo.

Dari situ terkoneksi dari Tarum Barat ke Tarum Timur. Orang Cirebon yang bepergian ke Jakarta bisa menembus pariwisata bantaran sungai dan sawah. Itu bisa dibuat dan tidak mahal. Itu tinggal memberdayakan PJT (Perum Jasa Tirta) seluruh. Konsep itu ada di Belanda. Tinggal dipetakan.

 

Bagaimana perkembangan air mancur Sri Baduga?

Penontonnya masih banyak. Gratis. Bisa bisa bikin gratis orang Jakarta yang datang ke Purwakarta. Berarti kaya Purwakarta ini. Orang lain yang ibukota provinsi, yang ibu kota negara, enggak punya air mancur yang bagus kayak saya. Enggak punya museum-museum yang cakep kayak saya. 

Menurut Kang Dedi, bagaimana kebudayaan Indonesia saat ini?

Indonesia ini, masyarakat kita ini tidak mengalami proses Rennaissance --kebangkitan. Kita langsung, lo. Dari abad tidak mengenal huruf, ke abad kerajaan, ke abad penjajahan, ke abad kemerdekaan. Dari kemerdekaan ke abad teknologi.

Kang Dedi lekat dengan baju Sunda dan salam 'sampurasun', mengapa?

Itu jadi bagian menginternalisasi nilai. Nah, kita ini tinggal di tanah Sunda, maka bajunya harus sesuai dengan nalar yang kita tinggali. Baju itu sudah digunakan oleh leluhur kita, karena itu ada transendensi antara masa lalu dengan masa kini.

Orang itu kan meninggal, fisiknya. Tapi, jiwanya kan tetap hidup. Bagaimana kita bisa menyerap atmosfer jiwa itu jika kita tidak masuk pada apa yang dia sukai.

Ini penting untuk membangun daerah. Untuk apa? Karena kita memimpin makro dan mikro, makanya pemimpin harus punya daya kontemplatif untuk membangun ide original membangun kotanya.

Jika pemimpin kehilangan daya imajinatif dan dia terikat pada administratif yang disodorkan, maka lahirlah pemimpin kosmetik. Dan hasil pembangunan yang mekanikal. Tidak ada nilai imajinatif, spiritualnya, kaku.

Kalau 'sampurasun'?

Ya, sampurasun meminta izin pada orang yang punya rumah, yang meninggali.

 Dedi Mulyadi

Belakangan tak lagi memakai ikat kepala, kenapa?

Ini persoalan menghormati keragaman, ada daerah ada yang tidak pakai iket. Kita nyesuain, ciri khas Indonesia. Dan khas Sunda, ada Kabayan.

Anak-anak sekolah masih menemani orangtua bekerja?

Ooo, masih.

Kenapa pendidikan karakter harus seperti itu?

Alasannya mendekatkan anak-anak pada orangtua dan anak-anak memahami pekerjaan orangtua dengan baik.

Di situ ada transfer teknologi, lo. Transfer kemampuan. Indonesia itu negara kebudayaan. Ada enggak sekolah bikin bangunan macam ini (sembari memukul tembok). Enggak ada.

Biasanya anaknya tukang bangunan, ikut. Ikut kuli. Pintar. Ada enggak sekolah kayu? Enggak ada. Bapaknya tukang kayu, anaknya ngikut. Sekarang itu, bagaimana bapaknya tukang, anak-anaknya ngerti marketing. Maju nanti.

Indonesia ini yang diwujudkan bukan ada sekolahnya. Bikin aspal. Memang ada sekolah bikin jalan aspal? Kagak ada.

Indonesia itu negeri aneh. Yang dibutuhkan oleh negara tidak ada sekolahnya. Yang tidak dibutuhkan dibuat terus. Itu.

Nah, Indonesia itu ke depan akan kehilangan basis kultural itu yang lahir dari alam. Orang enggak mau nekunin lagi karena kalah sama gengsi.

Banyak para tukang bangunan yang membangun tanpa alat pengukur. Melihat dari itu, orang Indonesia ini orangnya bekerja keras dan menghasilkan bangunan megah. Masjid-masjid wali, bangunan peninggalan Belanda, tapi kita dirodikan, diromusakan. Setelah itu tidak ada lagi.

Anda juga meluncurkan ATM Beras, untuk apa?

Begini, orang Sunda dulu itu menyimpan beras dalam bentuk padaringan, semacam tempayan. Disimpan di ruang kecil. Sekarang itu budaya itu mulai hilang. Sekarang, ngambilnya pakai kartu.

Kang, dulu Purwakarta disebut Kota Pensiunan?

Mobil saja jarang lewat. Dulu ada mobil karena ada jalur ke Bandung saja. Setelah tol sepi lo. Enggak ada macet. Sekarang sudah macet lagi. Lumayan.

Suasana Cair Roger Danuarta dan Ayah Cut Meyriska di Meja Makan
Join Dream.co.id