Kisah Pilu Tentara Lebanon di Tengah Krisis Ekonomi: Tak Mampu Nafkahi Keluarga

News | Senin, 12 Juli 2021 13:46

Reporter : Ahmad Baiquni

Lebanon menghadapi ancaman kolaps, sementara kekuasaan masih sibuk dengan urusan mengisi jabatan.

Dream - Helikopter Angkatan Udara Lebanon terbang di atas kawasan berkabut di antara lahan hijau dan pegunungan bersalju. Pemandangan tampak begitu indah dari udara.

Gambar itu terpajang di laman resmi angkatan bersenjata Lebanon dengan kualitas pengambilan buruk. Tetapi, di balik gambar itu ada pesan miris.

Militer menawarkan paket wisata menikmati keindahan alam Lebanon dari udara. Cara yang tampak aneh namun dibutuhkan di tengah keputusasaan negara itu menghadapi krisis ekonomi terburuk ketiga di dunia.

Tarifnya dipatok hanya US$150, setara Rp2,1 juta, sekali terbang namun harus dibayar tunai. Dolar AS menjadi mata uang langka di Lebanon yang mengalami kemerosotan ekonomi parah.

Paket wisata itu dibuat agar intitusi militer Lebanon punya pendapatan sehingga tetap bisa menggaji para tentaranya. Dalam kondisi sekarang ini, semua anggota militer Lebanon bernasib sama dengan sipil yang diterpa kemiskinan dan berjuang memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Ketika pounds Lebanon jatuh pada pertengahan bulan lalu hingga kehilangan 95 persen nilai tukarnya, angkatan bersenjata turut terkena dampaknya. Sebanyak 80 ribu tentara yang biasanya berpenghasilan rata-rata US$800, setara Rp11,5 juta, per bulan kini hanya bisa membawa pulang antara US$70-90, setara Rp1-1,3 juta.

Jumlah tersebut sangat rendah dan tidak bisa mencukupi kebutuhan untuk membeli makanan, biaya perjalanan, biaya pendidikan anak maupun biaya berobat. Sejumlah pihak menilai kondisi ini sangat mengkhawatirkan.

Analis politik Sami Nader, memberikan peringatan akan segera berlaku hukum rimba jika militer tidak segera ditolong.

" Dengan hanya US$2-3 (setara Rp28 ribu-43 ribu) yang mereka peroleh sehari, para prajurit tidak mampu menutupi biaya transportasi. Bagaimana mereka diharapkan untuk menjaga perbatasan dan menjaga perdamaian di dalamnya?" kata Nader.

Kisah Pilu Tentara Lebanon di Tengah Krisis Ekonomi: Tak Mampu Nafkahi Keluarga
Militer Lebanon (Shutterstock.com)
2 dari 4 halaman

Garda Terdepan Penjaga Perdamaian Terancam Bubar

Sejak berakhirnya perang saudara pada 1990, militer Lebanon melangkah dengan sangat hati-hati dan efektif di antara banyak kubu di negara tersebut. Institusi ini terus menjaga keamanan dalam negeri dengan sangat baik.

Mereka mampu mempertahankan situasi tenang di perbatasan dengan Israel yang bergejolak. Sejak perang 2006 antara Israel dan Hizbullah, sebuah milisi yang didukung Iran yang menentang Israel.

Militer Lebanon juga harus memantau keseimbangan kekuatan dengan Hizbullah. Milisi itu sering dianggap sebagai penantang oleh militer Lebanon karena kerap membuat provokasi.

Mereka menjaga perbatasan Lebanon dari kelompok bersenjata ISIL (ISIS) yang berkembang di negara-negara tetangga. Juga mampu menahan ancaman Jabhat al-Nusra, kelompok milisi yang pernah berafiliasi al-Qaeda yang muncul di lokasi konflik Suriah.

Selain itu, ini adalah satu-satunya institusi di Lebanon yang dihormati oleh rakyat dan memberikan semacam otoritas moral di tengah kelakuan para politisi yang korup dan tidak efisien.

Kantong kosong telah menimbulkan kepanikan bahkan hingga hierarki tertinggi militer. Sampai pejabat tertinggi angkatan bersenjata merasa khawatir tidak bisa menggaji para tentara dan kelurganya sehingga bisa kembali menjaga perbatasan negara dari segala masalah.

Panglima Militer Lebanon, Jenderal Joseph Aoun, memperingatkan Pemerintah tentang ancaman yang akan terjadi jika tentara tidak segera dibantu.

" Bagaimana bisa tentara mendukung keluarganya dengan gaji yang tidak lebih dari US$90?" kata dia.

" Ke mana kita akan berjalan? Apa yang Anda tunggu? Apa rencana Anda? Kami sudah memperingatkan lebih dari sekali tentang bahaya dari situasi ini," tegas dia, mendesak para politisi untuk menghilangkan rasa tidak peduli atas penderitaan rakyat.

 

3 dari 4 halaman

Elite Politik Tak Peduli

Elit yang berkuasa, bagaimanapun, tidak mengindahkan dan terus berdebat mengenai jabatan kabinet yang menghentikan pembentukan pemerintah yang diperlukan untuk merundingkan paket penyelamatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Akhir bulan lalu, Aoun bergegas ke Prancis untuk menggalang dukungan dari komunitas internasional dan menyelamatkan angkatan bersenjata.

" Panglima Militer Lebanon memberi tahu kami tentang masalah ini dan kami sangat khawatir tentang kemungkinan disintegrasi tentara Lebanon,” kata seorang sumber diplomatik Prancis.

" Prancis sudah mulai membantu dengan jatah makanan, obat-obatan, dan peralatan dasar tetapi lebih banyak yang dibutuhkan. Kami mencoba memobilisasi mitra internasional dalam konferensi tersebut," ucap dia.

Lebih dari 20 negara berpartisipasi dalam konferensi di Paris pada pertengahan Juni. Tetapi mereka tidak mengungkapkan secara terbuka niatan untuk membantu militer Lebanon.

Komunitas internasional khawatir jika angkatan bersenjata hancur, milisi sektarian lokal akan bangkit di negara yang siap untuk melontarkan kekacauan total.

 

© Dream
4 dari 4 halaman

Peran Vital Militer Lebanon

Lebanon telah menjadi oasis stabilitas di kawasan yang bergulat dengan segudang konflik dan pos terdepan pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang yang melarikan diri ke Eropa.

Kelangsungan hidup tentara Lebanon sangat penting untuk menghindari gelombang migrasi lain ke Eropa dan benteng dalam setiap konfrontasi di masa depan antara Hizbullah dan Israel.

Elias Farhat, seorang pensiunan jenderal Lebanon, mengatakan tentara membutuhkan dukungan uang tunai dan bukan hanya bantuan.

" Paris tidak menyebutkan uang tunai, mereka tidak mengizinkan uang tunai diberikan dalam bantuan luar negeri dan hanya membantu materi seperti amunisi dan lain-lain," kata Farhat.

Farhat menegaskan yang dibutuhkan tentara Lebanon saat ini hanyalah uang tunai. Dia mengingatkan jika seorang tentara hanya digaji US$70, US$80, atau US$90, moral mereka akan terganggu.

" Jika Anda dapat menambahkan US$100-200 (setara Rp1,4 juta-2,8 juta) ke gajinya sehingga dia setidaknya bisa bertahan hidup, maka itu akan jauh lebih baik.

Jika tidak, dia memperingatkan, sebagian besar tentara mungkin akan meninggalkan pasukan. " Banyak yang berpikir untuk mencari pekerjaan lain untuk mencari nafkah. Yang lain ingin meninggalkan negara ini," kata Farhat, dikutip dari Aljazeera.

Terkait
Join Dream.co.id