Buntut Kematian Dua Mahasiswa Demonstran, Kapolres Kendari Dicopot

News | Rabu, 9 Oktober 2019 18:02
Buntut Kematian Dua Mahasiswa Demonstran, Kapolres Kendari Dicopot

Reporter : Maulana Kautsar

Alasannya?

Dream - Kapolres Kendari, AKBP Jemi Djunaidi, Kasat Reskrim, AKP Diki Kurniawan, dan lima bintara polisi dipindahkan dari tempat tugasnya.

Pemindahan itu karena buntuk tembakan yang terlontar dan membuat dua orang mahasiswa Universitas Halu Oleo tewas.

Jemi Junaidi dimutasi ke Polda Kalimantan Tengah sebagai Kabag Dalpres. Sementara itu, Diki Kurniawan dicopot dari jabatannya.

Diki dan lima bintara Polres Kendari berstatus bebas tugas. Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara, AKBP Harry Goldenhardt mengatakan, Diki dan lima bintara Polres Kendari itu bebas tugas sejak 5 Oktober 2019.

Keenamnya tidak diizinkan melaksanakan tugas kepolisian, meski harus tetap masuk kantor.

" Mereka tidak diberikan kewenangan lagi untuk melaksanakan tugas," kata Harry, dikutip dari Liputan6.com. Rabu, 9 Oktober 2019.

 

2 dari 6 halaman

Sebelum dibebastugaskan, Diki sempat pindak ke posisi baru sebagai perwira menengah di Biro Operasional Polda Sulawesi Tenggara.

Lima orang bintara polisi lainnya dari Polres Kendari, ikut dipindahkan ke Bagian Pelayanan Masyarakat (Yanma) Polda Sulawesi Tenggara. Kelimanya ikut dalam pengamanan aksi demonstrasi berdarah yang menewaskan Randi (21) dan Muhammad Yusuf Kardawi (19).

" Status Kasat Reskrim kan masih terperiksa, karena diduga melanggar SOP saat unjuk rasa," kata dia.

Harry menjelaskan, pelanggaran SOP dimaksud adalah membawa senjata api saat demonstrasi. Padahal, sehari sebelumnya, sudah ditekankan agar tidak membawa peluru karet dan tajam.

" Selanjutnya akan kami rilis perkembangan mengenai pemberkasan kasus mereka dan sidang," ujar dia.

3 dari 6 halaman

Korban Demo Kendari Bertambah, 2 Mahasiswa Tewas

Dream - M Yusuf Kardawi, mahasiswa jurusan Teknik D-3 Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, dinyatakan meninggal dunia. Yusuf yang sempat kritis menjalani perawatan intensif di RSU Bahteramas, Kendari.

" Iya pasien Muh Yusuf Kardawi (19) menjalani perawatan intensif pascaoperasi di RSU Bahteramas Kendari, Sulawesi Tenggara meninggal dunia Jumat, 27 September 2019 sekitar pukul 04.00 WITA," kata Plt Direktur RSU Bahteramas, dr Sjarif Subijakto, dilaporkan Liputan6.com.

Antara melansir, Yusuf merupakan pasien rujukan dari RS Ismoyo Korem 143/Haluoleo yang menerima operasi karena cedera serius saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis, 26 September 2019.

Yusuf menjadi korban kedua yang tewas setelah aksi ini. Sebelumnya, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan UHO, Randi meninggal saat bentrokan, Kamis, 26 September 2019.

Kapolres Kendari AKBP Jemi Junaidi yang dikorfirmasi tidak bersedia memberikan penjelasan.

" Silahkan konfirmasi ke Polda Sultra," kata Kapolres Jemi melalui saluran telepon.

4 dari 6 halaman

1 Orang Sempat Kritis

Dream - Satu orang mahasiswa Universitas Halu Oleo tewas saat berunjuk rasa. Randi, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan angkatan 2016, meninggal.

Randi diduga tewas akibat luka tembak di bagian dada sebelah kanan. Satu mahasiswa lainnya dilaporkan kritis. 

Muhammad Yusuf Kardwi, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2018. Dilaporkan Inikata Sultra, Yusuf kritis akibat luka di bagian kepala.

Kepala Penerangan Korem 143/HO, Mayor Arm Sumarsono. Dia meninggal pukul 18.15 Wita.

" Benar. Satu korban kritis yang sempat ditangani RS TNI dan dirujuk ke RSUD Bahteramas sudah meninggal dunia," ujar Sumarsono.

Sesaat sebelum insiden, terjadi kericuhan antara mahasiswa dan polisi di depan Kantor DPRD Povinsi Sulawesi Tenggara sekitar pukul 16.40 Wita.

Saat itu, massa demo mahasiswa berusaha masuk ke depan gedung sekretariat DPRD sejak aksi mulai digelar pukul 13.00 Wita.

Polisi kemudian melepaskan ratusan tembakan gas air mata dan peringatan.

5 dari 6 halaman

Ada Seorang Korban

Dream - Menteri koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto, mengatakan, aksi demonstrasi mahasiswa pada Selasa 24 September 2019 telah diambil alih kelompok tak bertanggung jawab.

" Saya kira yang dihadapi atau dengan lain kelompok yang mengambil alih demonstrasi mahasiswa itu, bukan murni lagi untuk mengoreksi kebijakan pemerintah tapi telah cukup bukti bahwa mereka ingin menduduki DPR dan MPR agar DPR tidak dapat melaksanakan tugasnya, dalam arti DPR tidak dapat dilantik," kata Wiranto, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 26 September 2019.

Wiranto mengatakan, para perusuh melawan aparat polisi menggunakan batu, kembang api, dan panah. Para perusuh itu bergerak pada malam hari dan berusaha menimbulkan korban.

Dia menyebut, kelompok perusuh itu ingin menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 2019.

6 dari 6 halaman

Ada Seorang Korban

Sementara itu, Kapolri, Jenderal Tito Karnavian mengatakan, tidak ada pendemo yang tewas akibat luka tembak. Dia membantah kabar yang beredar di media sosial bahwa ada mahasiswa tewas dan dirawat di RS Bhayangkara.

" Ada infonya (pendemo) pingsan dan kemudian dibawa ke RS Polri. Dan info sementara yang bersangkutan meninggal dunia bukan pelajar, bukan mahasiwa, tapi kelompok perusuh," ujar Tito.

Tito menyebut, kemungkinan massa yang tewas karena kekurangan oksigen. Sebab, dia memastikan, tidak ada anggota yang tidak dibekali dengan senjata.

" Sehingga diduga kemungkinan besar yang bersangkutan meninggal karena kekurangan oksigen. Karena di sana saat demo kan panas itu atau mungkin kondisi fisiknya sedang drop karena kita kan enggak tahu bagaimana kondisi fisik seseorang," kata dia.

Sumber: Liputan6.com/Putu Merta Surya

Bukan Pertama Kali, Ini Deretan Kebrutalan Anjing Milik Bima Aryo
Join Dream.co.id