China dan AS Suntik Pasien Pakai Vitamin C Dosis Tinggi, Bisa Bunuh Corona?

News | Rabu, 1 April 2020 10:01
China dan AS Suntik Pasien Pakai Vitamin C Dosis Tinggi, Bisa Bunuh Corona?

Reporter : Sugiono

Begini penjelasan dari para ahli.

Dream - Dokter dan ilmuwan di seluruh dunia berusaha mencari cara untuk menghentikan penularan virus corona baru yang menyebabkan Covid-19.

Terbaru, para pasien Covid-19 diberi vitamin C dengan dosis yang tinggi sebagai salah satu cara efektif untuk menyembuhkan penyakit yang belum ada obatnya ini.

Tetapi, beberapa ahli medis memperingatkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung vitamin C dengan dosis tinggi sebagai pengobatan yang valid untuk membendung Covid-19.

2 dari 5 halaman

Sebelumnya, Newsweek melaporkan pada hari Kamis, 26 Maret 2020, bahwa vitamin C dengan dosis tinggi diberikan kepada pasien Covid-19 di rumah sakit di New York, Amerika Serikat.

Menurut laporan majalah AS itu, vitamin C disuntikkan ke pasien dalam dosis yang jauh lebih tinggi dari normal. National Institutes of Health (NIH) merekomendasikan dosis untuk pasien laki-laki sebanyak 90 miligram per hari. Sedangkan untuk pasien wanita dosisnya mencapai 75 miligram per hari.

3 dari 5 halaman

Perawatan serupa juga sedang diuji coba di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei di China, yang menjadi tempat pertama kalinya virus corona baru terdeteksi.

Rumah Sakit Union, yang merupakan tempat merawat pasien Covid-19 parah dalam jumlah besar di Wuhan, mengatakan pihaknya juga telah mencoba terapi tersebut.

" Kami juga melakukan terapi itu, bersama dengan obat lainnya karena sebagian besar dari mereka dalam kondisi parah," kata Profesor Liu Shi, dokter di RS Union.

4 dari 5 halaman

Menurut Profesor Liu, pemberian vitamin C dengan dosis tinggi masih aman dibandingkan dengan vitamin lainnya. Tidak seperti vitamin A dan D, vitamin C tidak akan menyebabkan keracunan jika dikonsumsi dalam dosis tinggi.

" Karena vitamin C mudah larut dalam air sehingga dapat diekskresikan (dikeluarkan dari tubuh) dengan mudah," tambahnya.

Vitamin C sering disarankan sebagai suplemen makanan untuk orang yang terserang selesma, tetapi tidak dianggap sebagai obat untuk penyakit seperti influenza.

5 dari 5 halaman

Sementara itu, Profesor Yang Jinkui, dari Rumah Sakit Tongren di Beijing, mengatakan tidak ada bukti ilmiah yang mendukung penggunaan vitamin C sebagai obat terapi penderita Covid-19.

Setiap saran yang mengatakan bahwa vitamin C bisa menjadi obat yang efektif untuk Covid-19 adalah 'sama sekali tidak berdasar'.

" Dalam pemahaman saya, itu mungkin berfungsi sebagai plasebo karena belum ada obat khusus untuk penyakit baru ini,” kata Yang.

Wang Xiaogang, seorang dokter di Rumah Sakit Beijing, yang telah merawat pasien Covid-19 di Wuhan, pun sependapat dengan Yang.

" Tidak ada bukti klinis untuk membuktikan bahwa vitamin C benar-benar membantu. Ini adalah sesuatu yang sia-sia," kata Wang.

Sumber: SCMP

Join Dream.co.id