Cerita Guru TK Nyaris Bunuh Diri Diteror Pinjol, Pinjam Rp2,5 Juta Ditagih Rp40 Juta

News | Senin, 25 Oktober 2021 12:00

Reporter : Ahmad Baiquni

SU terpaksa gali lubang tutup lubang dengan meminjam ke 29 pinjol.

Dream - Seorang guru TK di Kota Malang, Jawa Timur, menceritakan pengalaman pahitnya berurusan dengan pinjaman online. Dia sampai nyaris bunuh diri lantaran teror penagihan.

SU, 32 tahun, kala itu sangat membutuhkan uang Rp2,5 juta untuk biaya kuliah jenjang Strata-1. Biaya tersebut merupakan kebutuhan pendidikan terakhir bagi dia, mengingat sebentar lagi akan lulus.

Guru TK tersebut sudah berusaha mencari pinjaman namun tidak mendapatkannya. Saat itu, pandemi baru beberapa bulan melanda Indonesia sehingga kondisi ekonomi banyak orang sedang sulit.

Namun begitu, kewajiban biaya kuliah tidak gugur. Sehingga dia harus mencari cara untuk bisa menutup biaya kuliah.

 

Cerita Guru TK Nyaris Bunuh Diri Diteror Pinjol, Pinjam Rp2,5 Juta Ditagih Rp40 Juta
Ilustrasi (Shutterstock.com)
2 dari 6 halaman

Dikenalkan Pada Pinjol

Di sisi lain, SU juga dalam kondisi terpepet. Dia sama sekali tidak memiliki aset barang berharga untuk digadaikan.

" Salah satu teman saya ngasih tahu, dia enggak salah, ngasih saran 'Coba sih, Bu, ke sini, ke pinjol itu," ujar SU.

Mendapat saran tersebut, SU berpikir mungkin pinjol menjadi alternatif bagi dia untuk menyelesaikan masalah. Apalagi, prosedurnya cukup mudah lantaran hanya melalui aplikasi ponsel.

" Awalnya saya tidak tahu. Kantornya di mana? Saya mengira ada kantornya di Malang. 'Ndak, itu cuma di HP, upload, gini-gini dijelaskan, akhirnya dari situ saya tahu tentang pinjol," kata dia.

 

3 dari 6 halaman

Tak Bisa Langsung Dapat Rp2,5 Juta

Masalah ternyata belum selesai. Meski sudah mengajukan pinjaman, SU tidak bisa mendapat Rp2,5 juta lantaran nasabah baru. Dia lalu menggunakan jasa pinjol lain agar uang sebesar itu didapat.

" Saya kan untuk bayar kuliah itu Rp2,5 juta, untuk awal kan enggak bisa Rp2,5 juta langsung," kata dia.

SU sampai menginstal sejumlah aplikasi pinjol. Dia sampai lupa berapa aplikasi yang dia instal di ponselnya.

" Jadi saya pinjam di beberapa Pinjol. Saya lupa berapa aplikasi, supaya uang itu jangkep (genap) sesuai kebutuhan Rp2,5 juta itu. Kira-kira lima pinjol, supaya uangnya pas," kata dia.

Sayangnya, SU tidak punya pengetahuan mengenai pinjol legal dan ilegal. Dia hanya mengajukan pinjaman dan hanya berharap mendapatkan uang.

 

4 dari 6 halaman

Gali Lubang Tutup Lubang

Dia pun diberi waktu pelunasan tujuh hari setelah pencairan. Baru berjalan lima hari, dia sudah ditelepon tukang tagih atau debt collector.

Mulailah teror demi teror dia alami. Hidupnya jadi tidak nyaman lantaran selalu ditagih pihak pinjol.

" Sudah ada yang bentak-bentak, sudah mulai ngancam," kata dia.

Akibatnya, SU harus melunasi pinjamannya dalam tujuh hari. Masalah jadi makin berat lantaran SU tak punya uang.

Dari situ, dia terpaksa meminjam uang lagi lewat pinjol lain. Uang hasil pinjaman digunakan untuk melunasi pinjaman sebelumnya.

Cara ini dia lakukan sampai 29 pinjol. Alhasil dalam beberapa bulan saja, pinjamannya membengkak dari kebutuhan awal sebesar Rp2,5 juta menjadi Rp40 juta.

" Saya kan takut, akhirnya saya cari pinjaman lagi untuk bayar di aplikasi A, dan begitu seterusnya. Sampai numpuk, itu sama pokoknya hampir Rp40 juta. Itu kisaran sekitar 4-5 bulanan," kata dia.

 

5 dari 6 halaman

Teror

Teror pun terus menerus dia terima. Para penagih tidak jarang menggunakan kata-kata kotor maupun hardikan melalui aplikasi WhatsApp, tidak jarang pula berisi ancaman.

" Saya simpan semua WA-nya, salah satunya ya itu, 'kalau enggak bayar, keluarga kamu sebagai taruhannya'," ucap SU.

Parahnya, teror juga menyasar sejumlah teman SU. Mereka bahkan dikontak untuk diadu domba.

" Kayak mengadu domba, salah satunya teman saya ini ditelepon, 'Kamu katanya punya utang ke S, utangnya kamu bayar ke saya'. Gitu, kayak mengadu domba gitu. Ada yang seperti itu, pengancaman lewat WA banyak sekali," ungkap SU.

Tak berhenti di situ, SU sampai dibuatkan grup WA berisi teman dan tetangga dia. Kontak tersebut diduga didapat penagih utang dengan cara meretas ponsel milik SU.

Lewat grup itu, SU dipermalukan. Seluruh ungkapan kotor diumbar di grup tersebut.

 

6 dari 6 halaman

Nyaris Bunuh Diri

SU pun semakin tidak berdaya dan hampir menyerah. Dia tak punya pendapatan ditambah kehilangan pekerjaan akibat teror pinjol itu.

" Saya pernah bunuh diri, nggak kuat, apa yang saya bayarkan, di samping itu, malu juga sama tetangga dan teman yang sudah dihubungi," kata dia.

Niat untuk bunuh diri dia urungkan begitu ingat dengan anaknya. Dia berpikir jika mati, siapa yang akan merawat anak-anaknya.

Kasus ini kemudian viral dan menyedot perhatian banyak pihak. Sejumlah otoritas pun turun tangan, mulai dari Pemkot Malang hingga OJK, bahkan tidak sedikit lembaga bantuan hukum maupun keuangan yang menawarkan bantuan kepada SU.

Perlahan, SU dapat menyelesaikan masalahnya. Pinjamannya dengan pinjol legal dapat diselesaikan melalui jalur mediasi, sedangkan pinjol ilegal yang meneror SU seluruhnya sudah tidak bisa dihubungi.

Kini, SU mulai menata hidup kembali. Dia membuka usaha bersama sang suami dengan dana bantuan yang diterimanya dari berbagai pihak, dikutip dari Merdeka.com.

Join Dream.co.id