Fenomena Langka! Bulan Purnama Sejajar di Atas Kabah pada Pekan Ini

News | Selasa, 26 Januari 2021 07:00
Fenomena Langka! Bulan Purnama Sejajar di Atas Kabah pada Pekan Ini

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Fenomena di langit itu termasuk langka dan akan terjadi pada hari Kamis pukul 12:43 waktu setempat.

Dream - Bulan purnama akan sejajar tepat di atas bangunan ka'bah, tempat paling suci umat Islam, di Mekah, Arab Saudi pada Kamis, 28 Januari. Fenomena ini cukup langka dan bisa disaksikan dengan mata telanjang

Menurut astronom, fenomena posisi bulan purnama tepat di atas Kabah akan terjadi pada hari Kamis pukul 12:43 waktu setempat. Masyarakat Mekkah akan dapat melihat bulan purnama yang muncul secara vertikal di atas Masjidil Haram.

Presiden Asosiasi Astronomi Jeddah, Majed Abu Zahira dalam wawancara dengan Al Arabiya, menjelaskan bulan akan terbit dengan matahari terbenam dari ufuk utara / timur laut, dan terbenam di ufuk utara / barat laut. 

" Berarti bahwa ia akan mensimulasikan jalur tinggi matahari musim panas setelah enam bulan melintasi langit malam, tetapi di utara Lingkaran Arktik, bulan tetap 24 jam di atas cakrawala, seperti matahari tengah malam di musim panas," jelas Majed.

2 dari 6 halaman

Dapat Dijadikan Arah Kiblat

Menurut Abu Zahra, bulan purnama akan sejajar dengan Ka'bah pada 12:43:34 setelah tengah malam waktu Saudi (09:43:34 pm GMT) pada ketinggian 89,57,46 derajat dan piringannya diterangi sepenuhnya sebesar 99,9 persen pada jarak 381,125 km dari bumi.

“ Bulan akan tetap terlihat di langit selama sisa malam sampai terbenam dengan terbitnya matahari Jumat,” tambahnya.

Ia menyebut, fenomena langit ini dapat digunakan sebagai arah kiblat (arah menuju Ka'bah) dengan cara yang sederhana dari beberapa wilayah di dunia, karena umat Islam yang berada di lokasi geografis yang jauh dari Masjidil Haram dan dapat mengandalkan arah bulan.

(Sah, Sumber: Al Arabiya)

3 dari 6 halaman

Arab Saudi Larang Jemaah Haji Pegang Kabah dan Cium Hajar Aswad Selama Pandemik

Dream - Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan pembatasan jamaah haji 2020 dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Keputusan tersebut dibuat untuk melindungi para jemaah haji dan warga Saudi dari pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Pada awal Juni lalu, Menteri Kesehatan Arab Saudi, Dr. Tawfiq Al Rabiah secara resmi mengumukan pembatasan jumlah jemaah haji 2020.

Keputusan itu diambil kerajaan Saudi sebagai salah satu upaya mengurangi kemungkinan tingkat infeksi dan memastikan keselamatan jemaah. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Arab Saudi juga telah menetapkan protokol khusus untuk seluruh lokasi ibadah haji.

4 dari 6 halaman

Salah satu protokol khusus yang dikeluarkan adalah larangan menyentuh Kabah dan Hajar Aswad.

Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Mohammed Saleh Benten, mengatakan keputusan untuk membatasi jumlah jemaah tersebut diambil dengan tujuan melindungi orang di atas segalanya, yang telah menjadi prioritas negara Kerajaan sejak pandemi mulai muncul" .

Mulai 19 Juli, pihak berwenang akan membatasi akses masuk ke Mina, Muzdalifah, dan Arafah bagi yang tidak memiliki izin, demikian seperti dilansir dari Liputan6.com, Selasa 7 Juli 2020.

5 dari 6 halaman

Tindakan Pencegahan dan Aturan Ibadah Haji

Selain itu, petunjuk dan peringatan terkait pencegahan Corona COVID-19 akan ditempatkan di semua area dan ditulis dalam berbagai bahasa.

Penyelenggara diharuskan mengatur jamaah haji untuk mengurangi kepadatan pengunjung di area Tawaf di sekitar Kabah. Penjagaan jarak hingga setidaknya 1,5 meter akan diminta bagi para jamaah.

Adapun aturan lainnya adalah jemaah haji harus mengikuti garis yang telah disediakan pengurus Masjidil Haram saat melakukan ibadah Sai yaitu berlari kecil di antara bukit Safa dan Marwah. 

Petugas dipastikan akan membersihkan area ibadah itu sebelum dan sesudah para jamaah tiba.

Dengan adanya larangan untuk menyentuh Kabah dan Hajar Aswad, penghalang akan dipasang untuk mencegah jamaah mendekati situs suci tersebut.

Karpet-karpet juga tidak akan dipasang dan setiap jamaah dianjutkan membawa sajadah pribadi ketika hendak beribadah untuk mengurangi risiko infeksi. Selain itu, para jamaah juga tidak akan diizinkan untuk makan di masjid.

Pemeriksaan suhu tubuh secara wajib akan diberlakukan bagi para jamaah maupun pemandu di setiap lokasi ibadah haji, termasuk masker dan pelindung wajah yang harus dikenakan setiap saat.

Sedangkan untuk lontar jamrah, jamaah yang tidak lebih dari 50 orang per kelompok yang hendak memasuki lokasi pun harus diatur oleh penyelenggara.

 

6 dari 6 halaman

Sterilisasi Fasilitas Umum

Protokol kesehatan dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Arab Saudi juga menyarankan bahwa tidak ada personil yang diizinkan untuk bekerja jika mereka mengalami gejala yang diantaranya seperti flu (demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau tiba-tiba kehilangan indera penciuman atau rasa) sampai gejala hilang dan berdasarkan oleh dokter.

Putaran desinfektan dan sanitasi harus dijadwalkan dan diorganisir Untuk memastikan kebersihan bagian fisik dari fasilitas tempat ibadah seperti pegangan pintu dan meja, hingga area tempat duduk umum dan area tunggu, desinfetan dan sanitasi harus diberikan secara berkala dan teroganisir.

Selain itu, sanitasi juga harus diberikan pada fasilitas ATM, termasuk mesin penjual otomatis sementara semua majalah cetak dan surat kabar akan dicabut untuk mengurangi risiko penularan.

Tak hanya itu, fasilitas pendingin air juga harus diberhentikan di Masjidil Haram dan di situs-situs suci.

Alih-alih, air Zamzam akan tersedia dan didistribusikan kepada para peziarah, termasuk makanan pra-paket individu.

Tanpa melupakan risiko penularan, pekerja yang mendistribusikan makanan tersebut harus mengikuti protokol ketat yang mencakup mencuci tangan tidak kurang dari 40 detik dengan menggunakan sabun dan air selama shift mereka.

Tetapi ketika mereka tidak dapat mengakses fasilitas cuci tangan, pembersih berbasis alkohol harus digunakan sebagai gantinya selama tidak kurang dari 20 detik.

(Sah, Sumber: Liputan6.com)

Join Dream.co.id