Pemerintah Akui Data Kasus Covid-19 Tak Sinkron

News | Senin, 6 April 2020 16:30
Pemerintah Akui Data Kasus Covid-19 Tak Sinkron

Reporter : Maulana Kautsar

Memang masih ada kendala seperti itu, kata Agus.

Dream - Pemerintah mengakui adanya ketidaksinkronan data kasus Covid-19 antara pusat dan daerah. Ketidaksinkronan itu disebabkan oleh sejumlah hal. 

Demikian disampaikan oleh Kapusdatinkom Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo.

" Ya betul, masih banyak yang tertutup karena pertama kan masih banyak ada hal-hal kan, misalnya banyak masyarakat yang belum tahu, banyak yang di-bully dan sebagainya, itu salah satu kendalanya," kata Agus dilaporkan , Senin, 6 April 2020.

Pemerintah menyebut sebanyak 2.273 kasus pasien positif Covid-19 tercatat di Tanah Air, pada Minggu, 5 April 2020. Ada 198 orang meninggal dan 164 sembuh.

Beberapa kali, angka yang disampaikan pemerintah melalui juru bicara penanganan Covid-19, Achmad Yurianto kerap tidak sinkron. Salah satu cataran, data di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Banten beberapa waktu lalu.

Agus mengaku baru mengetahui prosedur rinci Kementerian Kesehatan saat melaporkan kasus positif corona ke WHO.

" Saya juga baru tahu juga kalau Kementerian Kesehatan itu setiap hari melaporkan data ke WHO itu nomor, kemudian jenis kelamin kemudian sama umurnya, sama statusnya seperti apa, baru tahu juga kalau ada data-data seperti itu. Memang masih ada kendala kendala seperti itu," kata dia.

Agus tak menepis kecurigaan masyarakat terhadap data yang disampaikan pemerintah. Tetapi, dia memastikan data milik BNPB dan Kementerian Kesehatan.

" Saya juga belum tahu kok bisa tidak sinkron, tapi kita punya data dua-duanya. Jadi BNPB mengumpulkan data, baik dari sisi daerah laporannya ada juga kita, dari sisi Kemenkes juga kita punya dua-duanya, kita sandingkan. Tapi yang dipublikasi, karena yang jubirnya Pak Yuri, jadi yang publikasi apa yang disampaikan Pak Yuri itu yang kita publikasikan," ujar dia.

2 dari 7 halaman

Membuat Aplikasi

" Tapi di belakang layar kita punya seluruh data. Kita juga mendapatkan data dari telekomunikasi (provider). Untuk kita akan track kita catat seluruh nomor telepon dari kasus positif tadi. Sehingga kita bisa tahu dengan siapa saja orang ini berhubungan. Jadi kita bisa tahu, tracing-nya kita tahu semua," ucap dia.

Untuk mengatasi data yang tidak sinkron ini, pemerintah sedang menyempurnakan aplikasi yang diberi nama Lawan Covid-19. Aplikasi ini akan menampilkan secara rinci temuan kasus di berbagai daerah.

Data yang ada di aplikasi itu, katanya, adalah laporan resmi dari semua lembaga resmi yang bertugas terkait penanganan Covid-19.

" Jadi kita mengerahkan banyak tenaga kerja, baik dari sisi BNPB, BPBD, maupun dari militer,  polisi untuk meng-entry data di seluruh (Indonesia), nanti langsung connect ke aplikasi langsung ke seluruh Indonesia langsung," ujar dia.

Sumber:

3 dari 7 halaman

Waspadai Silent Carrier Covid-19, Penyebar Corona Tanpa Gejala

Dream – Pada akhir Januari dan awal Februari ketika virus corona Covid-19 mulai menyebar ke luar China, para ahli kesehatan termasuk WHO telah menyatakan bahwa penularan dari orang yang tidak bergejala kemungkinan besar adalah hal yang langka.

" Dalam semua sejarah virus yang ditularkan melalui pernapasan jenis apa pun, penularan asimptomatik tidak pernah menjadi pendorong timbulnya wabah," ucap Dr. Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular.

Penilaian tersebut didasarkan pada data awal penyebaran virus di Tiongkok, tempat virus tersebut berasal pada akhir Desember 2019. Beberapa bulan kemudian, fakta mempelihatkan kenyataan yang berbeda.

Ketika virus corona telah menyerang lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia dan membunuh 51.000 di antaranya, para ilmuwan mulai mengetahui lebih banyak tentang perilaku dan cara virus itu menyebar.

Dari kumpulan data tersebut, terdapat sejumlah penularan yang disebabkan oleh orang-orang yang tidak memiliki gejala. Sehingga langkah pencegahan yang dilakukan pun tidak maksimal. Karena mereka menganggap diri mereka tidak sakit.

4 dari 7 halaman

Asimptomatik berbeda dari Presimptomatik

 Virus Corona© Pixabay.com

Asimptomatik adalah seseorang yang telah terinfeksi dan dinyatakan positif namun tidak menunjukkan gejala apapun. Fakta merek atertular virus baru dapat diketahui saat melakukan test secara langsung. Sebaliknya presimptomatik adalah gejala yang awal muncul pada seseorang yang terindikasi mengalami suatu penyakit.

Bagi Jeffrey Shaman, seorang ahli penyakit menular di Universitas Columbia, perbedaan yang lebih sederhana dan lebih penting adalah antara kasus " terdokumentasi" versus " tidak terdokumentasi" . Besar kemungkinan bahwa banyak kasus dari Covid-19 yang tidak terdokumentasi karena memiliki gejala yang cukup ringan. Sehingga mereka merasa tidak perlu ke rumah sakit.

5 dari 7 halaman

Perkiraan Kasus Tanpa Gejala

 Virus Corona© Pixabay.com

Sulit untuk dapat menghitung orang tanpa gejala. Karena mereka tidak melakukan tes sendiri. Namun wabah Covid-19 yang terjadi di kapal pesiar Diamond Princess memberi kesempatan kepada peneliti untuk mempelajarinya.

Setelah dikarantina selama dua minggu pada bulan Februari, banyak orang di atas kapal yang berulang kali diuji namun tidak menunjukkan gejala apapun. Peneliti CDC menemukan bahwa 46,5 persen orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala saat dilakukan pengujian. 

Pada 11 Februari, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China melaporkan bahwa lebih dari 72.000 kasus yang dilaporkan di daratan China, sekitar 1,2 persen tidak menunjukkan gejala.

Laporan gabungan WHO-China tentang coronavirus, mulai pertengahan Februari menyatakan, “ Proporsi infeksi yang benar-benar tanpa gejala tampaknya relatif jarang dan tampaknya bukan pendorong utama penularan.”

Shaman, pakar penyakit menular di Columbia, berpendapat proporsi kasus tidak berdokumen atau orang yang terinfeksi namun tidak didiagnosis secara resmi, bisa mencapai 86 persen. Perkiraan itu, didasarkan pada aktivitas yang diproyeksikan di Wuhan pada minggu-minggu sebelum China memberlakukan lockdown untuk membendung transmisi.

6 dari 7 halaman

Penularan Virus

 Virus Corona© Pexels.com

Masa inkubasi virus yaitu masa antara terinfeksi hingga menunjukkan gejala adalah sekitar lima hari. Hal tersebut mirip dengan virus corona yang menyebabkan SARS. Namun untuk Covid-19 biasanya dilakukan selama 12 hari.

Penelitian lain juga mendukung gagasan bahwa penularan presimptomatik dapat terjadi selama beberapa hari sebelum gejala muncul. Dalam beberapa kasus dimana para peneliti dapat mengkonfirmasi waktu pemaparan hingga penularan terjadi dalam waktu satu hingga tiga hari sebelum pasien yang awalnya terinfeksi mengalami gejala.

Para ilmuwan masih mencari tahu kapan seseorang melewati ambang batas dari terinfeksi hingga dapat menginfeksi orang lain. CDC mengatakan bahwa seseorang dapat menularkan virus hingga 48 jam sebelum gejala berkembang.

7 dari 7 halaman

Berdiam Diri di Rumah

 Stay at Home© Pixabay.com

Kemungkinan bahwa seseorang dapat secara tidak sengaja menyebarkan virus telah menimbulkan perdebatan. Apakah seseorang diharuskan memakai masker baik masker kain atau masker medis ditempat umum. Namun hingga saat ini, CDC sendiri masih melarang penggunaan masker medis untuk orang sehat. Namun seiring waktu, CDC kembali mempertimbangkan hal tersebut. Dengan penggunaan masker kain sebagai solusinya.

Namun  hal yang lebih penting untuk dilakukan adalah dengan tetap menjaga jarak. Melakukan social distancing dengan jarak minimal 1 meter, lebih banyak berdiam diri dirumah, dan mulai menghindari tempat-tempat keramaian hingga sering mencuci tangan dengan sabun dan air.

(Sah, Sumber: buzzfeednews.com)

Join Dream.co.id