Sumatera Diguncang 3 Gempa, Pusat di Zona Megathrust

News | Selasa, 15 Oktober 2019 13:00
Sumatera Diguncang 3 Gempa, Pusat di Zona Megathrust

Reporter : Maulana Kautsar

Dua gempa susulan berkekuatan 4,8 magnitudo.

Dream - Tiga gempa terjadi di laut barat Pulau Sumatera, Selasa 15 Oktober 2019. Masyarakat diimbau untuk berhati-hati terhadap dampak gempa tersebtu.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dengan Magnitudo 5,9 terjadi sekitar pukul 05.23 WIB. Pusat gempa berlokasi di laut pada jarak 154 Kilometer arah Barat Daya Kota Bengkulu, pada kedalaman 36 kilometer.

Hingga pukul 06.15 WIB, terjadi dua aktivitas aftershock atau gempabumi susulan dengan kekuatan terbesar Magnitudo 4.8.

Dikutip dari Liputan6.com, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono, meminta masyarakat menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan gempa.

Masyarakat disarankan memeriksa dan memastikan bangunan tempat tinggalnya mampu menahan getaran gempa. " Ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah," kata Rahmat.

2 dari 6 halaman

Penyebab

Rahmat mengatakan, guncangan gempa yang dirasakan di daerah Bengkulu dan Seluma berada pada skala III-IV MMI. Kemudian di Kepahiang getarannya dirasakan nyata dalam rumah setara dengan getaran seakan akan truk berlalu atau skala III MMI.

Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan dampak kerusakan akibat gempa bumi tersebut.

Menurut Rahmat, gempa bumi ini terjadi karena lokasi episenter dan kedalaman hiposenter akibat jenis gempa bumi dangkal yang muncul dari aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menujam bawah Lempeng Eurasia tepatnya di zona Megathrust yang merupakan zona subduksi lempeng yang berada di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik.

Sumber: Liputan6.com/Arie Nugraha

3 dari 6 halaman

Biota Laut Terdampar di Maluku Akibat Upwelling Bukan Gempa, Fenomena Apa Itu?

Dream - Warga di Kecamatan Tanimbar Utara, Maluku resah akibat fenomena terdamparnya ratusan ikan berbagai jenis biota laut di pantai Desa Lelingulan, pada 13 Oktober 2019 lalu. 

Kejadian langka tersebut memicu spekulasi adanya kaitan dengan gempa yang menguncang disusul beberapa getaran perut bumi di Maluku beberapa waktu lalu. 

Menanggapi fenomena tersebut, ahli tsunami Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, memastikan belum ada keterkaitan antara biota laut permukaan dengan aktivitas kegempaan dari laut yang biasanya bersumber pada lempeng dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter.

" Biota-biota yang selama ini seringkali mati dalam jumlah besar kemudian terdampar di pantai adalah biota permukaan atau biota laut dangkal-karang, bukan biota laut dalam," ujar Muhari, Senin, 14 Oktober 2019.

Muhari menjelaskan, fenomena terdamparnya biota laut dangkal sering kali disebabkan fenomena upwelling.

Fenomena ini adalah arus naik ke permukaan yang biasanya membawa planton atau zat hara yang menjadi makanan biota laut dangkal, bukan merupakan efek aktivitas lempeng atau sesar.

Fenomena yang terjadi tidak merujuk pada tanda-tanda akan muncul gempa besar.

4 dari 6 halaman

Ribuan Unit Rumah Rusak

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan, BMKG mencatat 1.516 gempa susulan pascagempa Maluku M 6,5 yang terjadi pada 26 September lalu.

Dari jumlah tersebut, 175 gempa susulan dirasakan oleh warga. Terkait dengan gempa tersebut, perkembangan terkini per 14 Oktober 2019 BNPB mencatat 148.619 warga masih mengungsi.

Total rumah rusak di wilayah terdampak, yaitu Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat dan Kota Ambon mencapai 6.355 unit dengan rincian total rusak berat 1.273 unit, rusak sedang 1.837 unit dan rusak ringan 3.245 unit.

Korban meninggal tercatat 41 jiwa dan mereka yang masih terluka sebanyak 1.602.

Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat masih melakukan upaya penanganan darurat. Sedangkan Provinsi Maluku dan Kota Ambon sudah melakukan upaya-upaya transisi darurat ke pemulihan.

5 dari 6 halaman

Ribuan Ikan Mati Misterius di Pantai Ambon, Warga Geger

Dream - Ribuan ikan ditemukan dalam kondisi mati dan terdampar di pantai wilayah Kecamatan Litimur Selatan, Kota Ambon, Provinsi Maluku, sejak Sabtu 14 September 2019.

Warga Desa Laehari, Vin Maitimu, merasa khawatir dan menduga fenomena ini sebagai pertanda bakal terjadi tsunami. Sehingga pada Sabtu malam, mereka bersiap menyelamatkan barang berharga dan dokumen penting.

" Bahkan saat malam hari senantiasa berjaga-jaga sehingga terganggu waktu tidur karena mengkhawatirkan kemungkinan tsunami melanda secara tiba-tiba," ujar Vin, dilaporkan Liputan6.com, Senin 16 September 2019.

Menurut Vin, belum ada penjelasan resmi dari Pejabat Kepala Desa Leahari, Jhon Sitanala, dan perangkat desa terkait. " Saya konfirmasi ke Pejabat Kepala Desa diberitahu bahwa staf Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Ambon bersama Balai Karantina Ikan Ambon dan UPTD terkait telah mengambil sampel ikan yang mati untuk diteliti," ujar dia.

6 dari 6 halaman

Laporan Warga

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon, Steven Patty, mengatakan, dinas bersama Balai Karantina Ikan Ambon dan Unit Pelaksana Teknis Daerah masih meneliti penyebab ribuan ikan di pantai Desa Leahari dan Rutong.

" Dugaan sementara karena ledakan getaran yang kuat, sehingga ikan-ikan mati dengan kondisi tulang retak, dan mata copot," ujar Steven.

Dia menambahkan, masyarakat setempat mengaku mengonsumsi ikan-ikan tersebut. Namun belum ada laporan adanya warga yang keracunan. " Sehingga kami masih terus melakukan analisa kematian ikan ini," kata dia.

Sementara itu, akun Facebook, Glen Kailuhu Leiwakabessy mengunggah foto ikan-ikan yang mati di pantai.

" Sudah dua hari ikan mati terdampar di Pantai Rutong dan Leahari, belum tahu penyebabnya," tulis Glen.

Terkait
Join Dream.co.id