Bakteri Jadi Penyebab Kematian Pasien Positif Covid-19? Cek Faktanya

News | Kamis, 28 Mei 2020 12:00
Bakteri Jadi Penyebab Kematian Pasien Positif Covid-19? Cek Faktanya

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu.

Dream - Kabar tentang bakteri yang menjadi penyebab kematian pada pasien positif Covid-19 beredar di media sosial. Kabar tersebut disebarkan akun Facebook N T S Adi pada 26 Mei 2020.

Akun Facebook N T S Adi mengunggah narasi yang menyebut dokter di Italia telah menemukan obat penangkal Covid-19. Menurut klaim yang disebarkan akun tersebut, Covid-19 berasal dari dokter di Italia yang tidak mematuhi hukum kesehatan dunia yang diterapkan WHO.

Selain itu akun tersebut juga mengklaim gumpalan darah merupakan menyebab kematian pasien Covid-19.

" SECERCAH HARAPAN :

Di ITALIA Obat untuk MENANGKAL VIRUS CORONA-19 AKHIRNYA DITEMUKAN !! ????????????

Dokter Italia, tidak mematuhi hukum kesehatan dunia WHO, untuk tidak melakukan otopsi pada kematian Coronavirus dan mereka menemukan bahwa BUKANLAH VIRUS, tetapi BAKTERIlah yang menyebabkan kematian. Ini menyebabkan gumpalan darah terbentuk dan menyebabkan kematian pasien.

Italia mengalahkan apa yang disebut Covid-19, yang tidak lain adalah " Koagulasi intravaskular diseminata" (Trombosis)

???? Dan cara untuk memeranginya, yaitu, penyembuhannya, adalah dengan " antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan" .

Berita sensasional ini untuk dunia???? telah diproduksi oleh dokter Italia dengan melakukan otopsi pada mayat yang meninggal karena Covid-19.

Menurut ahli patologi Italia. " Ventilator dan unit perawatan intensif tidak pernah dibutuhkan."

Oleh karena itu perubahan protokol pandemi global di Italia, terungkap, penyembuhan ini, sudah diketahui oleh orang Cina dan tidak melaporkan hanya *UNTUK MELAKUKAN BISNIS. *

(Sumber: Kementerian Kesehatan Italia).

Jika mereka terkena Covid-19 ... yang bukan Virus seperti yang mereka yakini, tetapi bakteri ... diperkuat dengan radiasi elektromagnetik 5G yang juga menghasilkan peradangan dan hipoksia.

Mereka akan melakukan hal berikut:Mereka akan minum *Aspirin 100mg dan Apronax atau Paracetamol*...

Mengapa? ... * karena telah ditunjukkan bahwa apa yang dilakukan Covid-19 adalah menggumpalkan darah, menyebabkan orang tersebut mengembangkan trombosis dan darah tidak mengalir dan tidak mengoksigenasi jantung dan paru-paru dan orang tersebut mati dengan cepat karena tidak bisa bernafas.*

Di Italia mereka mengacaukan protokol WHO dan melakukan otopsi pada mayat yang meninggal karena Covid-19 ... mereka memotong tubuh, membuka lengan, kaki dan bagian tubuh lainnya dan menyadari bahwa pembuluh darahnya melebar dan membeku, semua pembuluh darah dan arteri dipenuhi dengan trombosis, mencegah darah mengalir secara normal dan membawa oksigen ke semua organ, terutama otak, jantung dan paru-paru, dan pasien akhirnya sekarat,

Setelah mengetahui diagnosis ini, Kementerian Kesehatan Italia segera mengubah protokol pengobatan Covid-19 ... dan mulai memberikan kepada pasien positif mereka *Aspirin 100mg dan Apronax atau Paracetamol*...,hasilnya : pasien mulai pulih dan hadir perbaikan dan Departemen Kesehatan merilis dan mengirim pulang lebih dari 14.000 pasien dalam satu hari.

URGENT: mengirimkan informasi ini dan menjadikannya viral, di sini di negara kami, mereka telah berbohong kepada kami, dengan pandemi ini, satu-satunya hal yang dikatakan oleh presiden kami setiap hari adalah data dan statistik tetapi tidak memberikan informasi ini untuk menyelamatkan warga negara, adalah bahwa Ini juga akan terancam oleh para elit? ...kita tidak tahu, tiba-tiba semua pemerintah dunia, tetapi Italia melanggar norma ... karena mereka sudah kewalahan dan dalam kekacauan serius karena kematian sehari-hari ..., sekarang WHO. ..akan digugat di seluruh dunia, karena menutupi begitu banyak kematian dan jatuhnya ekonomi banyak negara di dunia ... sekarang dipahami mengapa perintah untuk MEMBEBASKAN atau segera mengubur mayat-mayat tanpa otopsi ... dan menamakannya sebagai sangat berpolusi. ..Di tangan kita untuk membawa kebenaran dan harapan menyelamatkan banyak nyawa ....

Itulah sebabnya gel antibakteri bekerja dan klorindioksida ... Seluruh PANDEMI adalah karena mereka ingin vaksinasi dan chip untuk membunuh massa untuk mengendalikan mereka dan mengurangi Populasi Dunia.

INSYA ALLAH.... TUHAN MENYELAMATKAN KITA????????????????????

Paramedis di Italia sdg mengobati pasien Covid19. ????????," tulis akun Facebook N T S Adi.

Unggah tersebut telah dibagikan sebanyak 429 kali dan mendapat 51 komentar warganet.

 

2 dari 6 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar tentang bakteri yang menjadi penyebab kematian pada pasien positif Covid-19. Penelusuran dilakukan menggunakan situs pencari Google Search dengan memasukkan kata kunci " italy found corona medicine" .

Hasilnya terdapat beberapa artikel yang membantah klaim tersebut. Satu di antaranya artikel berjudul " Fact Check: Blood clot the main reason for Covid-19 death, claims conspiracy theory" yang ditayangkan situs indiatoday.in pada 25 Mei 2020.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa klaim serupa juga beredar di aplikasi percakapan WhatsApp. Berdasarkan penelusuran, klaim tentang Covid-19 disebabkan oleh bakteri adalah salah.

Hal ini disampaikan dr Sharad Joshi, ahli paru-paru senior di Rumah Sakit Max. Ia meminta masyarakat untuk merujuk pada studi Lancet tentang karakterisasi genom dan epidemiologi dari virus corona pemicu Covid-19.

Klaim tentang antibiotik yang diklaim bisa melawan Covid-19 juga tidak benar. Direktur rumah sakit LNJP Delhi, dr Suresh Kumar menyebut bahwa antibiotik ini tidak efektif melawan Covid-19.

Klaim tentang penyebab utama kematian pada Covid-19 adalah trombosis atau gumpalan darah dan bukan pneumonia juga tidak benar. Tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan trombosis adalah penyebab utama kematian untuk pasien COVID-19, demikian juga dengan klaim bahwa obat antikoagulan adalah satu-satunya obat untuk merawat pasien coronavirus.

Sebaliknya, menurut sebuah artikel Lancet, kegagalan pernapasan telah ditemukan sebagai penyebab utama kematian bagi pasien virus corona.

Klaim tentang ventilator dan unit perawatan intensif tidak diperlukan untuk merawat pasien Covid-19 juga tidak benar. Faktanya, semua pasien Covid-19 dengan penyakit pernapasan kritis atau kegagalan multi-organ atau ginjal harus dirawat di ICU dan menggunakan ventilator. Tetapi tidak semua pasien Covid-19 membutuhkan ICU dan ventilator.

 

3 dari 6 halaman

Kesimpulan

Klaim tentang bakteri yang menjadi penyebab kematian pada pasien positif Covid-19 ternyata tidak benar. Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu.

Narasi yang disebarkan akun Facebook N T S Adi tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. Kabar menyesatkan tersebut juga beredar di India.

Sumber: Liputan6.com/Hanz Jimenez Salim

4 dari 6 halaman

Viral 'Bajaj Bajuri' Ramal Corona 17 Tahun Lalu, Cek Faktanya

Dream - Beredar viral kabar menyatakan serial komedi situasi atau sitkom Bajaj Bajuri yang tayang di televisi 17 tahun silam, disebut sudah meramalkan pandemi virus corona.

Penggalan adegan sitkom itu sempat viral di media sosial, lantaran situasinya mirip dengan wabah Covid-19 yang sedang terjadi di dunia.

Salah satu cuplikan tersebut diunggah oleh akun Twitter @pleasedpeople pada 8 Mei 2020.

Pada unggahan video tersebut, akun Twitter @pleasedpeople memberikan keterangan sebagai berikut:

" We've been warned 17 years ago"

Berikut cuplikan percakapan adegan karakter Oneng, Said, dan Mpok Hindun, yang membicarakan penyakit menular.

" Itu penyakit menular dari China Mpok. Gejalanye panas dingin sama batuk, bahaya Mpok, penyakit itu bisa nular, yang udah kena bisa meninggal."

Oneng yang diperankan politisi Rieke Diah Pitaloka yang mendengar itu langsung bergegas lari memanggil Emak.

 

5 dari 6 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com melakukan penelusuran klaim sinetron komedi Bajaj Bajuri, yang memperingatkan Covid-19 sejak 17 tahun lalu menggunakan Google Search dengan kata kunci 'bajaj bajuri corona'.

Penelusuran mengarah pada artikel berjudul " Viral Bajaj Bajuri Dianggap Ramal Penyakit Corona Covid-19, Ini Penjelasannya."

Pengguna Twitter lain, @FioSorale, mengunggah video dalam durasi yang lebih panjang. Rupanya sebelum bagian ini, Said sempat mengungkap gejala penyakit tersebut adalah tanda dari SARS.

Saat episode itu mengudara, SARS memang meresahkan warga dunia. Tak heran, hal ini lantas menjadi tema dalam Bajaj Bajuri.

Dilansir dari situs WHO, SARS memang pertama kali dideteksi di Guangdong, China pada 2002. Penyebabnya juga disebabkan virus Corona, tapi dari strain berbeda dengan yang kini mewabah, yakni SARS-CoV.

Seperti Covid-19, gejala penyakit ini memang mirip dengan influenza, termasuk demam, menggigil, dan sakit kepala.

6 dari 6 halaman

Kesimpulan

Klaim sinetron komedi Bajaj Bajuri telah memperingatkan Covid-19 sejak 17 tahun lalu tidak benar, yang dibahas dalam cuplikan video tersebut merupakan virus SARS yang mirip ciri-cirinya dengan Covid-19.

Jika video dilihat secara utuh, karakter dalam video tersebut membahas tentang virus SARS, namun pengunggah memotong video dan hanya menampilkan cuplikan ciri-ciri penderita SARS yang sama dengan Covid-19.

Sumber: Liputan6.com/Pebrianto Eko Wicaksono

Join Dream.co.id