Status Gunung Anak Krakatau Naik, Letusan Terjadi Tiap 5 Detik

News | Kamis, 27 Desember 2018 12:22
Status Gunung Anak Krakatau Naik, Letusan Terjadi Tiap 5 Detik

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

"Anak Krakatau tidak benar masuk dalam kategori mematikan"

Dream - Badan Geologi telah menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III), terhitung sejak Kamis, 27 Desember 2018, pukul 06.00 WIB.

Sekretaris Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Antonius Ratdomopurbo menjelaskan keputusan meningkatan status Gunung Anak Krakatau dibuat karena telah terjadi belasan kali letusan per menit yang diserta keluarnya magma. 

" Aktivitas Anak Krakatau itu kan ada dua, gelegarnya (letusan) dan tremornya itu proses magma keluar dari kawahnya. Jadi kalau ada gelegar itu sekarang 14 kali per menit. Itu berarti tiap lima detik," ujar Purbo di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis 27 Desember 2018.

Saat ini, abu vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Anak Krakatau terlihat di ketinggian 2,5 ribu sampai 3 ribu meter.

" Itu kan kebawa angin ke mana-mana," ucap dia.

 

 

2 dari 4 halaman

Masyarakat Diimbau Tak Mendekat

Badan Geologi mengimbau kepada masyarakat jangan mendekat ke Gunung Anak Krakatau dengan radiasi 5 kilometer.

Purbo menjelaskan, Badan Geologi hanya mengeluarkan radius 5 kilometer karena sekitar Gunung Anak Krakatau ini tidak dihuni masyarakat. Selain itu, jarak lontaran magma yang keluar juga tidak lebih dari rekomendasi radius yang dikeluarkan.

" Anak Krakatau tidak benar masuk dalam kategori mematikan," kata dia.(Sah)

3 dari 4 halaman

Awan Panas Anak Krakatau Masuk ke Laut

 Anak Krakatau Semburkan Lava PijarAnak Krakatau Semburkan Lava Pijar © © MEN

Dream - Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada pagi ini menunjukkan peningkatan. Masyarakat diminta bersiap jika terdapat instruksi untuk mengamankan diri dari dampak erupsi.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gede Suantika, mengatakan data visual dan instrumental menunjukkan adanya lontaran material pijar disertai guguran awan panas. Jauhnya sudah melebihi radius 2 Kilometer.

" Lontaran sudah melewati radius 2 kilometer, sudah melewati pantai dan juga awan panas, awan panas jatuh ke lereng masuk ke air laut," ujar Gede saat dihubungi Dream, Kamis 27 Desember 2018.

Gede menjelaskan apabila awan panas masuk ke laut dengan jumlah yang besar dapat mendorong air laut. Sehingga dapat muncul gelombang tinggi atau tsunami.

" Awan panas ke lereng masuk ke air laut dan mendorong air laut. Ombaknya bisa saja ombak tinggi atau tsunami lagi," ucap dia.

Untuk itu, PVMBG merekomendasikan masyarakat tidak mendekat ke Gunung Anak Krakatau dengan radius 5 kilometer.

Selain itu, masyarakat juga diimbau menyiapkan masker untuk mengantisipasi hujan abu. " Sampai pagi ini hujan abu masih terjadi," kata Gede.

Lebih lanjut, Gede juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai isu yang beredar seputar bencana.

Untuk mendapatkan informasi resmi mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau, masyarakat dapat menghubungi langsung Kantor Pusat PVMBG di nomor 72722606 atau pos pengamatan Gunung Anak Krakatau di nomor 0254-651994

4 dari 4 halaman

Cerita Kru Seventeen Saksikan Ganasnya Tsunami Banten

Dream Kisah perjuangan melawan ganasnya tsunami Banten akhir pekan lalu mulai bermunculan. Salah satunya hadir dari kisah Dedy Saputra, salah satu kru band Seventeen yang selamat dari terjangan gelombang ganas dari Selat Sunda itu. 

Dedi Hadi Saputra adalah saksi mata yang melihat dengan jelas detik-detik gelombang laut di pesisir Tanjung Lesung, Banten menghantam panggung kala band Seventeen beraksi. 

Saat kejadian, Dedi yang bertugas sebagai kru sound system berada di sisi panggung saat sang vokalis, Riefian Ifan Fajarsyah, dan ketiga personil lainnya menampilkan aksi terbaik sekaligus terakhirnya. 

Dia menceritakan gelombang tsunami menerjang saat Ifan baru menyanyikan lagu kedua.

" Saat mulai main, stand by, satu lagu, dua lagu, (terdengar) air menggemuruh," ujar Dedi, Selasa, 25 Desember 2018.

Diakui Dedi, sebelum gelombang tsunami datang dia menyadari air laut mulai naik. Dilanda kepanikan, Dedi langsung langsung tanpa memberitahu orang-orang disekitarnya. 

" Saya lari, langsung ada air. Ombak langsung menimpa panggung sekaligus. Sekitar lima meter (tinggi air) di atas panggung," ujarnya.

Dedi bisa selamat dari ganasnya gelombang tsunami, itu karena dia menaiki mobil pick up yang berada tepat disampingnya, sebelum air laut menyeretnya.

" Saya di (mobil) pick up, kena ombak, saya selamat," kata dia.


(Sah, Laporan : Fachrur Rozie/ Liputan6.com)

Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'
Join Dream.co.id