Kasus 'Azan Jihad', Kapolda Metro: Saya Kejar Meski Sembunyi di Lubang Tikus

News | Jumat, 4 Desember 2020 17:30
Kasus 'Azan Jihad', Kapolda Metro: Saya Kejar Meski Sembunyi di Lubang Tikus

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Polisi akan menangkap seseorang yang mengganti kalimat azan menjadi seruan jihad.

Dream - Polda Metro Jaya telah menangkap H, pemilik akun Instagram @hashophasan yang menyebarkan video azan yang diubah menjadi seruan jihad. Penangkapan dilakukan di Cakung, Jakarta Timur, beberapa hari lalu.

" Perkembangan terkait dengan penangkapan pelaku yang mengganti lafadz azan dari 'hayya alal solah' menjadi 'hayya alal jihad' akan kami kejar terus," kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran, Jumat 4 Desember 2020.

Fadil memastikan polisi tidak berhenti setelah menangkap H. Polisi akan terus mengejar pelaku lain. " Mau sembunyi di lubang tikus juga akan saya kejar," tegas dia.

2 dari 6 halaman

Tangkap Penyebar Video Seruan Jihad

Sebelumnya, Polda Metro Jaya meringkus seorang pria berinisial H pemilik akun Instagram @hashophasan yang diduga menyebarkan video azan dengan seruan jihad ke media sosial. H ditangkap di rumahnya di kawasan Cakung, Jakarta Timur.

" Dari hasil penyelidikan dan berhasil mengamankan satu (pemilik akun) instagram @hashophasan, dengan biodata pemilik berinisial H," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, saat konferensi pers, Kamis 3 Desember 2020.

Yusri menjelaskan, H selaku pemilik akun @hashophasan mengakui mendapatkan video azan jihad dari sebuah grup WhatsApp bernama fmconews. Kemudian H menyebarkan video unggahan itu pada 29 November 2020.

" H ini terungkap jika mengunggah video mengumandangkan azan tetapi lafaznya diubah 'hayya ala sholah' menjadi 'hayya alal jihad'," katanya.

3 dari 6 halaman

Terjerat UU ITE

Yusri menyebutkan, dari pelaku penyidik mengamankan satu buah handphone dan akun @hashophasan.

" Untuk sementara kita kembangkan apakah masih ada tersangka lainnya, dan kita juga koordinasi dengan Kominfo untuk menghapus konten video itu. Karena mengganggu kegaduhan di masyarakat," jelasnya.

Atas perbuatannya, H telah ditetapkan sebagai tersangka dan terancam pasal berlapis yakni, Pasal 28 juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE ancamannya 6 tahun dan denda Rp1 miliar, dan atau Pasal 156a KUHP dan atau Pasal 160 KUHP ancaman 6 tahun.

4 dari 6 halaman

Pembuat Video 'Azan Hayya `Alal Jihad' di Majalengka Minta Maaf

Dream - Video ajakan jihad melalui azan yang diubah sempat viral di media sosial dan memicu kecaman dari banyak pihak. Tidak hanya satu video, melainkan cukup banyak, dibuat oleh kelompok-kelompok dengan lokasi berbeda.

Salah satunya terlacak di Majalengka, Jawa Barat. Para pelaku diduga merupakan warga Desa Sadarsari, Kecamatan Argapura.

Pemerintah Kabupaten bersama Kepolisian Resor Majalengka segera melakukan penelusuran asal video tersebut. Setelah video ajakan jihad itu viral, tak berapa lama muncul video berisi permintaan maaf dari para pelaku.

Bupati Majalengka, Karna Sobahi, membenarkan para pelaku merupakan warga yang tinggal di daerahnya. Dia mendapat kepastian tersebut dari laporan Camat Argapura.

" Ya betul, dari laporan Pak Camat Argapura salah satu video viral azan jihad itu salah satunya warga kami. Tapi Alhamdulillah mereka sudah diberikan pengarahan dan sudah menyadari kesalahannya," ujar Karna.

 

5 dari 6 halaman

Pelaku Minta Maaf

Menurut Karna, pada Selasa, 1 Desember 2020 malam, para pelaku membuat video permintaan maaf. Lalu mengunggahnya ke media sosial.

Karna mengatakan begitu mendapat kabar tentang video tersebut, dia langsung memerintahkan Camat Argapura melakukan penelusuran terkait kebenaranna. Dia juga meminta camat mengambil langkah strategis agar masalah tidak meluas.

Sedangkan video permintaan maaf tersebut dibuat tujuh orang pelaku disaksikan Plt Desa Sadasari, Abdul Miskad dan sejumlah saksi. Para pelaku juga membuat permintaan maaf secara tertulis dibubuhkan materai.

" Melalui surat pernyataan ini kami tujuh orang memohon maaf kepada semua pihak, atas video yang sempat viral sebelumnya. Permohonan maaf ini kami sampaikan kepada warga Desa Sadasari, Pemerintah Desa dan seluruh umat Islam di seluruh Tanah Air," ujar salah satu pelaku, Anggi Wahyudin mewakili enam rekannya.

 

6 dari 6 halaman

Tak Berniat Memfitnah

Anggi menyatakan pembuatan video tersebut tidak ada maksud untuk memfitnah, menuduh, atau menyerang pihak tertentu. Jika video tersebut membuat tidak nyaman, Anggi bersama rekan-rekannya memohon maaf.

" Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, kami mengaku khilaf dan berjanji tidak akan mengulangi hal serupa di lain kesempatan," ucap dia.

Kapolres Majalengka, Ajun Komisaris Besar Bismo Teguh Prakoso, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman. Kasus tersebut masih dalam penyelidikan

" Masih dalam penyelidikan ya. Informasi lebih lanjut akan diberitahu kembali," ucap Bismo.

Sumber: Liputan6.com/Panji Prayitno

Terkait
Join Dream.co.id