Mahasiswi IPB Ciptakan Aplikasi Transaksi Perikanan

News | Selasa, 5 November 2019 12:01
Mahasiswi IPB Ciptakan Aplikasi Transaksi Perikanan

Reporter : Ahmad Baiquni

Aplikasi ini menghubungkan transaksi pembayaran komoditas antar pembudidaya.

Dream - Indonesia terus dibuat bangga dengan prestasi anak bangsanya. Kali ini, kebanggaan itu ditorehkan oleh tiga mahasiswi Institut Pertanian Bogor yang kini berganti nama menjadi IPB University.

Mereka adalah Virta Rizki Hernanda, Fathia Ilmiati, dan Dalillah Artaghina. Tiga mahasiswi program studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ini berhasil menciptakan aplikasi Smart Modern Aquaculture (S-MAQ).

Aplikasi ini dirancang untuk membantu aktivitas budidaya perikanan yang terintegrasi dan transparan. Aplikasi ini dibuat atas keprihatinan banyaknya produk perikanan yang mangkrak akibat masalah transaksi pembayaran.

" Ide ini berfokus pada kegiatan penjualan komoditas akuakultur dalam rantai para pembudidaya," ujar Ketua Tim Riset, Virta Rizki Hernanda, melalui keterangan tertulis diterima Dream, Selasa 5 November 2019.

 

2 dari 6 halaman

Raih Juara 1

 para juara lomba menulis karya ilmiah

Virta mengatakan saat ini aplikasi S-MAQ masih dalam proses penyiapan. Namun demikian, timnya telah membuat prototype sederhana untuk fitur-fitur aplikasi.

S-MAQ diklaim memiliki keunggulan yaitu tersedianya sejumlah fitur yang dapat menghubungkan proses penjualan komoditas antar pembudidaya.

Dengan ide ini, tiga mahasiswa tersebut meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Chemistry Friendship Competition (CFC) di Universitas Bangka Belitung pada 22-23 Oktober 2019.

" Semoga ini dapat menjadi salah satu cara untuk meng-upgrade diri kami menjadi lebih baik lagi. Saya pribadi berharap, karya yang dihasilkan ini dapat memberikan manfaat untuk orang lain," kata Virta.

3 dari 6 halaman

Keren, Mahasiswa Brawijaya Ciptakan Listrik dari Kulit Pisang

Dream - Penggunaan energi fosil untuk membuat listrik semakin lama akan mengalami kelangkaan. Ini lantaran cadangan energi fosil terus berkurang.

Hal itu memicu munculnya pelbagai penemuan teknologi baru. Salah satunya seperti yang diciptakan tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Charisma Virginia, Muhammad Errel Prasetyo, dan Sang Aji Arif Setyawan.

Ketiga mahasiswa ini menemukan teknologi pembangkit listrik berbahan bakar kulit sampah. Temuan itu mereka namai dengan 'Mikrobial Fuelcell'.

" Konsep ini masih jarang. Biasanya yang diolah kan limbah cair, tapi kami olah limbah padat. Kulit pisang mudah didapat, mulai dari penjual pisang goreng hingga di daerah industri keripik pisang," ujar Charisma.

 

4 dari 6 halaman

Mengapa Kulit Pisang?

Charisma mengatakan timnya memilih kulit pisang dengan pertimbangan bahan tersebut mudah didapat. Selain itu, kulit pisang termasuk bahan baku yang dapat diperbaharui.

" Kami memilih kulit pisang, karena potensinya sangat besar dan bisa didapatkan kapan saja dan di mana saja," ucap dia.

Mahasiswi ini kemudian menjelaskan cara kerja alat yang dia temukan bersama dua temannya. Menurut dia, kulit pisang terlebih dulu ditumbuk hingga halus menjadi bubur

Tetapi, kulit pisang tersebut tidak boleh ditambah air. Jika ditambah air, kandungan substratnya akan berkurang.

Selanjutnya, bubur kulit pisang itu dimasukkan ke dalam kotak reaktor atau bio chamber. Kotak tersebut dibagi menjadi dua bagian menjadi kotak anoda dan katoda.

Mau tahu selanjutnya, baca link berikut ini edunews.id

5 dari 6 halaman

400 Mahasiswa Baru Butuh Biaya, Alumni IPB Patungan

Dream - Perjuangan sekitar 400 calon mahasiswa baru (camaba) Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 53 terancam gagal. Mereka terancam gugur lantaran tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) karena kekurangan biaya.

Mengetahui persoalan ini, sejumlah Alumni IPB berinisiatif menggalang dana demi menyelamatkan nasib para calon mahasiswa baru itu. Dana tersebut dikumpulkan secara patungan oleh dari tiap alumni lintas angkatan.

" Kita masih terus melakukan penggalangan dana dari para alumni IPB untuk membantu camaba," ujar Sekjen Himpunan Alumni IPB Nelly Oswini, dikutip dari Alumni IPB.

Nelly mengatakan pengumpulan dana itu terus berlangsung. Dia memastikan akan semakin banyaknya camaba yang dapat dibantu seiring bertambahnya jumlah dana.

" Beberapa alumni IPB juga minta beberapa mahasiswa untuk dijadikan sebagai anak angkat yang akan dibiayai kuliahnya sampai sarjana," kata dia.

Kepala Biro Hukum, Promosi, dan Humas IPB Yatri Indah Kusumastuti mengatakan, persoalan ini muncul karena berkurangnya kuota penerima beasiswa Bidik Misi di IPB. Alhasil, banyak camaba yang tidak mampu membayar UKT.

" Hal ini sebagai dampak kuota Bidik Misi IPB yang tahun ini turun drastis," ucap Yatri.

Bidik Misi merupakan beasiswa pemerintah yang ditujukan bagi pada mahasiswa kurang mampu, tetapi tidak berbasis pada prestasi. Meski begitu, kebanyakan camaba penerima beasiswa ini tergolong berprestasi.

 

6 dari 6 halaman

Para Camaba yang Menginspirasi

Yatri mengatakan IPB selalu mendapat kuota Bidik Misi sekitar 800 camaba, dan pernah sekali waktu mencapai 1.100 camaba. Tetapi, jumlah tahun ini menurun karena hanya ada 10 persen mahasiswa diterima dari jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Untuk tahun ini, IPB hanya menerima mahasiswa baru jalur SNMPTN sebanyak 2.700 orang. Dari jumlah itu, maka kuota Bidik Misi hanya ditetapkan 270 camaba.

Sementara minat penerima Bidik Misi mencapai 700 camaba. Sehingga terdapat 430 camaba yang nasibnya belum pasti.

" Kami telah mewawancarai mereka yang belum tercover Bidik Misi tersebut. Mereka umumnya anak-anak yang sangat pintar, banyak di antaranya yang juara umum, namun umumnya mereka secara ekonomi sangat lemah," ucap Yatri.

Bahkan, kata Yatri, sebagian dari mereka merupakan yatim piatu. Ada juga yang tinggal di rumah gurunya ketika masih SMA lantaran orangtuanya tidak mampu.

Untuk bisa sampai ke Bogor, para camaba itu mengandalkan ongkos yang diberikan guru-guru mereka. Setiba di Bogor, mereka ditampung oleh senior mereka yang aktif di organisasi mahasiswa daerah.

" Bertemu dan berdiskusi dengan para camaba tersebut sangat mengharukan. Karena itu, IPB ingin sekali mencari jalan keluar agar jangan sampai mereka gugur hanya karena kendala biaya," kata Yatri.

Yatri telah berkomunikasi dengan Himpunan Alumni IPB. Sejauh ini, kata dia, mereka memberikan respons yang cukup baik.

" Banyak alumni yang memberikan perhatian terhadap masalah ini. Demikian juga para kakak kelas yang sangat aware terhadap adik-adik kelasnya yang baru datang," ucap dia.

Lebih lanjut, Yatri mengatakan setidaknya dibutuhkan biaya mencapai lebih dari Rp1,1 miliar. Uang itu akan disalurkan kepada sekitar 430 camaba.

Selain itu, kata Yatri, pihaknya berharap pemerintah mau menambah kuota Bidik Misi tahun ini. Dia memahami situasi ekonomi nasional sedang berat saat ini.

" Namun kami berharap kuota Bidik Misi tidak dikurangi, sebab ini sangat strategis," tutup dia.

(Ism, Sumber: Alumni IPB)

Terkait
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik
Join Dream.co.id