Anton Medan, KH Zainuddin MZ, dan Perjalanan Panjang Meraih Hidayah Islam

News | Selasa, 16 Maret 2021 06:01
Anton Medan, KH Zainuddin MZ, dan Perjalanan Panjang Meraih Hidayah Islam

Reporter : Ahmad Baiquni

Anton Medan kini telah tiada. Dia telah menghadap Allah dan meninggalkan jejak begitu berharga bagi umat.

Dream - Nama Anton Medan tidak bisa dihapus dalam ingatan masyarakat Indonesia. Nama ini begitu fenomenal lantaran kisah pergulatannya menjalani hidup hingga akhirnya menemukan cahaya Islam.

Anton Medan telah berpulang ke Rahmatullah pada Senin, 15 Maret 2021. Kisahnya yang panjang dalam mengarungi hidup mengandung hikmah mendalam.

Anton lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada 10 Oktober 1957. Saat lahir, dia mendapatkan nama Tan Hok Liang lalu mengubah nama menjadi Muhammad Ramadhan Effendi setelah memutuskan menjadi mualaf.

Sejak usia 12 tahun, Anton mengenal kelamnya dunia hitam. Semata karena dia harus menjadi tulang punggung keluarga.

 

2 dari 4 halaman

Merasakan Kerasnya Hidup

Saat itu, Anton menjadi calo penumpang di Terminal Bus Tanah Tinggi. Singkat cerita, dia terjerat masalah hukum karena memukul salah satu sopir bus akibat mendapat upah tak sesuai.

Hal sama terulang ketika dia pergi ke Kota Medan. Dia berkelahi dengan sopir.

Satu sopir tewas akibat terkena parang sabetan Anton. Akibatnya, dia harus meringkuk di penjara selama empat tahun.

Bebas penjara, Anton pulang ke kampung halaman. Tak dinyana, dia malah ditolak keluarga karena orangtuanya merasa malu punya anak pernah dipenjara.

Anton pun merantau ke Jakarta dan berniat menemui pamannya. Sayangnya, dia tidak menemukan alamat tinggal sang paman dan terpaksa hidup menggelandang.

Kesempatan bertemu akhirnya didapat. Sayangnya, sang paman juga menolak kehadiran Anton.

Sejak itulah dia menggeluti profesi di dunia hitam. Namanya pun terkenal seantero Jakarta sebagai orang yang ditakuti.

3 dari 4 halaman

Meraih Hidayah

Berulang kali dia keluar masuk penjara. Hingga akhirnya dia mendapatkan hidayah dan memutuskan insyaf dari dunia hitam.

Saat menjalani hukuman di Cipinang, Anton berkeinginan tobat dan memeluk Islam. Sayangnya, keinginan itu harus terwujud dengan sulit.

Dia pernah ditolak Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan Yayasan Karim Oei saat mengutarakan niat ingi masuk Islam. Dua lembaga itu tak mau membimbing Anton karena masa lalunya yang kelam.

Hal itu tidak menyurutkan niat Anton untuk memeluk Islam. Di bawah bimbingan KH Zainuddin MZ, Anton akhirnya mengucap kalimat syahadat dan mengganti nama menjadi Muhammad Ramadhan Effendi.

 

4 dari 4 halaman

Mengabdi untuk Umat

Semenjak itu, Anton mengabdikan diri untuk kesejahteraan umat. Dia mendirikan Majelis Taklim Ata'ibin untuk menampung para narapidana dan pengangguran serta membimbing mereka.

Anton juga mendirikan pondok pesantren agar dapat mengabdi kepada masyarakat secara lebih luas. Pesantren yang berlokasi di Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor ini juga menampung para santri narapidana.

Di dalam pesantren itu, Anton mendirikan masjid dengan ciri khas Tionghoa. Masjid itu diberi nama Masjid Tan Kok Liong.

Begitulah Anton Medan. Pengabdiannya untuk umat begitu besar.

Join Dream.co.id