Kasus Covid-19 Dua Pekan Usai Lebaran Lebih Baik dari Tahun Lalu, Alhamdulillah!

News | Jumat, 4 Juni 2021 14:01

Reporter : Ahmad Baiquni

Peningkatan kasus baru dan kematian tidak setinggi tahun lalu.

Dream - Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat adanya peningkatan kasus Covid-19 baik positif maupun kematian dua pekan usai lebaran Idul Fitri 1442 H/2021 M. Tetapi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, angka saat ini cenderung lebih baik.

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan kenaikan kasus pada dua pekan usai lebaran 2020 mencapai 65,55 persen. Sedangkan pada 2021, kasus positif naik di angka 56,6 persen.

Untuk kematian, angka kasus meninggal akibat Covid-19 di tahun 2020 sebesar 66,34 persen. Sementara pada tahun ini, angka kematian bertambah di angka 3,52 persen.

" Melalui data perbandingan ini menegaskan bahwa dampak kenaikan kasus dalam dua minggu paska Idul Fitri tahun ini, tidak setinggi pada Idul Fitri tahun 2020 lalu," ujar Wiku.

 

Kasus Covid-19 Dua Pekan Usai Lebaran Lebih Baik dari Tahun Lalu, Alhamdulillah!
Ilustrasi (Shutterstock.com)
2 dari 5 halaman

Perbandingan Pada Provinsi

Dari data sebaran kasus, kata Wiku, tercatat lima provinsi dengan kenaikan tertinggi dalam dua pekan usai lebaran tahun 2020. Lima provinsi tersebut yaitu Jawa Tengah naik 368 persen, Sulawesi Selatan naik 280 persen, Kalimantan Selatan naik 99 persen, Jawa Timur naik 45,36 persen dan DKI Jakarta naik 33,2 persen.

Sedangkan usai momen lebaran tahun ini, kenaikan terjadi dengan angka yang tidak setinggi sebelumnya. Sebarannya yaitu di Jawa Tengah naik 103 persen, Kepulauan Riau naik 103 persen, Riau naik 69 persen, DKI Jakarta naik 49,5 persen dan Jawa Barat naik 25 persen.

Secara rata-rata, Wiku mengatakan persentase kenaikan tidak terlalu besar dibanding tahun lalu. Dia mengatakan kondisi ini berkat peran aktif pemerintah daerah.

" Atas peran aktif pemerintah daerah juga, kita saat ini berada pada kasus yang sudah cukup terkendali, dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat secara bertahap mulai kembali beroperasi," ujar Wiku.

 

3 dari 5 halaman

Daerah Sudah Beradaptasi

Selanjutnya, Wiku mengatakan data ini juga menunjukkan pemerintah daerah sudah beradaptasi dengan kondisi Covid-18 selama satu tahun. Pemerintah daerah juga terus meningkatkan kapasitas testing dan masyarakat semakin patuh pada protokol kesehatan.

Meski kondisi membaik, Wiku mengingatkan masyarakat untuk tidak terlena. Sebab, kondisi ini baru terlihat dalam dua pekan usai lebaran, karena diperkirakan puncak penambahan kasus akan terjadi dalam beberapa pekan lagi.

" Pilihan ada di tangan kita semua, jika kita patuh protokol kesehatan dan meningkatkan testing dan kualitas pelayanan, maka perkembanganan akan tetap stabil. Namun jika kita abai, maka bukan tidak mungkin kenaikan paska Idul Fitri akan lebih tinggi dari tahun lalu," kata Wiku, dikutip dari Covid19.go.id

4 dari 5 halaman

Varian Covid-19 Hasil Mutasi Pengaruhi Tingkat Efikasi Vaksin

Dream - Virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab penyakit Covid-19 terus mengalami mutasi. Muncul sejumlah varian baru yang ternyata dapat berpengaruh terhadap tingkat efikasi vaksin.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan, sebaran varian baru terdeteksi hampir di seluruh Indonesia, dengan temuan didominasi dari Pulau Jawa. Hal ini didasarkan pada pelacakan Whole Genome Sequencing (WCS).

" WHO berdasarkan studi yang dilakukan beberapa peneliti menyatakan beberapa varian memiliki pengaruh yang sedikit hingga sedang terhadap angka efikasi tiap vaksin pada kasus positif dengan varian tertentu," ujar Wiku, disiarkan kanal YouTube BNPB.

Menurut WHO, tambah Wiku, sejauh ini terdapat beberapa varian utama yang sudah terdeteksi. Varian tersebut yaitu B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, B11281 dari Brasil atau P1 dari Jepang, dan B1617 dari India, yang kesemuanya berpengaruh pada tingkat efikasi vaksin.

Dia menjelaskan, varian B117 mempengaruhi vaksin AstraZeneca. Varian B1351 mempengaruhi vaksin Moderna, Pfizer, AstraZeneca dan Novavac.

Kemudian, varian P1 maupun B1617 mempengaruhi Moderna dan Pfizer. Ini karena vaksin-vaksin tersebut masih menggunakan jenis asal virus yang ditemukan di Wuhan, Hubei, China.

5 dari 5 halaman

Pengaruh Bersifat Sementara

Namun demikian, WHO menyatakan pengaruh tersebut masih bersifat sementara. Pengaruh bisa berubah, sehingga diperlukan studi lanjutan yang saat ini sedang berjalan.

Selain itu, kata Wiku, perubahan efikasi tidak sampai menurunkan khasiat vaksin hingga di bawah 50 persen. Bahkan sejumlah vaksin masih memiliki tingkat efikasi di atas 90 persen.

Untuk itu, diperlukan solusi paralel untuk mencegah penambahan varian baru hasil mutasi. Beberapa cara yang perlu dilakukan yaitu mengefektifkan testing dan karantina pelaku perjalanan.

Kemudian, menggiatkan pelacakan dengan metode WGS secara komplit. Selain itu, protokol kesehatan ditegakkan di semua sektor agar tidak terjadi penularan massif di masyarakat.

Langkah berikutnya, vaksinasi terus dijalankan. Sebab vaksin yang dipakai saat ini masih cukup efektif mencegah penyakit maupun menghindari risiko mengalami gejala parah.

 

Join Dream.co.id