Alquran Kuno Ditulis 43 Tahun Pasca-Perang Diponegoro Ditemukan di Cilacap

News | Kamis, 6 Agustus 2020 11:01
Alquran Kuno Ditulis 43 Tahun Pasca-Perang Diponegoro Ditemukan di Cilacap

Reporter : Sugiono

Alquran kuno ini dibuat secara manual dan ditulis dengan tangan.

Dream - Khazanah peninggalan Islam di Nusantara kembali bertambah. Sebuah Alquran kuno yang ditulis di era setelah Perang Jawa atau Perang Diponegoro ditemukan di Cilacap, Jawa Tengah.

Alquran kuno tersebut dibungkus dengan kain berwarna gelap. Begitu dibuka, lembaran Mushaf itu dilindungi oleh anyaman bambu yang cukup kuat.

Alquran kuno ditulis tangan pakai tinta China.© Liputan6

Meski kondisi kertas di beberapa bagian sedikit rusak termakan usia, tulisan dalam mushaf Alquran itu begitu jelas terbaca. Alquran itu ditulis dengan tinta China.

Bagi para santri, tinta China memang dikenal tahan lama. Terlebih jika digoreskan ke kertas yang berkualitas baik.

2 dari 7 halaman

Awalnya Hanya Dianggap Warisan Keluarga

Alquran kuno ini awalnya hanya dianggap sebagai warisan keluarga. Tidak banyak bukti tertulis yang ditemukan tentang Alquran kuno ini.

Penyimpan Alquran kuno peninggalan pasca-perang Diponegoro ini adalah keluarga KH DR Fathul Amin Aziz yang jadi pimpinan Yayasan Elbayan. Yayasan tersebut yang menaungi pesantren hingga perguruan tinggi di Cilacap.

Keluarga Kiai Amin Aziz sendiri tinggal di Desa Pesahangan, Cimanggu, Cilacap. Secara turun turun-temurun, keluarga ini dikenal sebagai tempat lahirnya ulama karismatik dengan segala keistimewaannya.

3 dari 7 halaman

Dibuat Secara Manual dan Ditulis dengan Tangan

Yang membuat Alquran kuno ini menarik adalah dibuat secara manual dan ditulis dengan tangan. Amin Aziz mengatakan Alquran tersebut disimpan keluarganya sejak ratusan tahun silam.

Alquran tersebut jarang dibuka dan hanya disimpan karena takut rusak. Hanya orang-orang tertentu yang boleh membukanya. Itu pun untuk kepentingan perawatan.

Tidak diketahui siapa penulisnya atau kapan Alquran kuno ini dibuat. Keluarga Amin Aziz hanya tahu bahwa Alquran ini diwariskan oleh Kiai Nur Jalin, yang sekarang jadi nama Yayasan Pendidikan di Cilacap.

4 dari 7 halaman

Selesai Ditulis 43 Tahun Pasca Perang Diponegoro

Amin Aziz mengatakan Alquran kuno itu diwariskan secara turun-temurun, mulai dari leluhur, canggah, buyut, kakek, dan ayahnya.

Misteri Alquran kuno ini mulai terungkap ketika Amin Aziz dan kakak iparnya Kamil mencoba menelusuri petunjuk yang mungkin ada di dalamnya.

Di salah satu lembaran Juz'ama, tertulis angka Arab bulan Rajab 1294 Hijriyah. Jika dijadikan Masehi, maka didapat angka tahun 1873.

Sedangkan Perang Jawa atau Perang Diponegoro sendiri berlangsung antara 1825-1830. Artinya, Alquran kuno ini kemungkinan ditulis 43 tahun setelah Perang Diponegoro.

5 dari 7 halaman

Diwariskan Secara Turun-Temurun

Jika ditelusuri, Kiai Nur Jalin adalah putra dari Kiai Muhammad Nur Zein. Sedangkan Kiai Nur Zein adalah putra dari Kiai Muhammad Nur Saleh.

Karena Kiai Nur Jalin tidak memiliki keturunan, Alquran tulis tangan tersebut diwariskan kepada saudara kandungnya, atau canggah dari Amin Aziz, yakni Kiai Muhammad Nur Kandar.

Dari Kiai Nur Kandar, Alquran kuno itu kemudian diwariskan kepada kakeknya, yakni Kiai Muhammad Sayuti. Dari Kiai Sayuti, Alquran kemudian diwariskan kepada ayahnya, Kiai Muhammad Muslim.

" Jadi yang generasi sekarang adalah generasi keenam," katanya.

Menurut Amin Aziz, Alquran kuno itu sekarang dirawat oleh adik bungsunya yang kebetulan menempati rumah induk atau rumah keluarganya.

6 dari 7 halaman

Masih Kerabat dengan Pangeran Diponegoro

Anggota keluarga lainnya, Kiai Mahmud, menambahkan Kiai Nur Saleh diyakini masih memiliki nasab hingga Kesultanan Mataram.

Hal itu karena Kiai Nur Saleh merupakan salah satu punggawa Perang Jawa yang ikut menemani Pangeran Diponegoro saat dibuang ke Celebes atau Sulawesi.

Seperti diketahui, hampir semua orang kepercayaan Pangeran Diponegoro adalah kerabat keraton, baik dari Kesultanan Mataram maupun Kasunanan Surakarta.

Tentu tak mudah untuk menjadi orang di dalam lingkaran Pangeran Diponegoro. Dia harus setia dan memiliki keistimewaan.

Dua syarat itu dimiliki oleh Kiai Nur Saleh. Selain berkerabat dengan Pangeran Diponegoro, dia juga dalam ilmu agamanya.

7 dari 7 halaman

Kembali ke Jawa dan Berdakwah Diam-diam

Namun, untuk sebuah alasan kuat, Kiai Nur Saleh kembali ke tanah Jawa, setelah bertahun-tahun diasingkan bersama Pangeran Diponegoro. Selain berperang, salah satu tugas orang kepercayaan Pangeran Diponegoro memang menyebarkan agama Islam.

Dalam catatan sejarah, nama Kiai Nur Saleh memang tak ditemukan. Hal itu terjadi lantaran gerakannya memang sangat dirahasiakan.

Bahkan, puluhan tahun usai perang Jawa sekalipun, jejak kepahlawanannya masih ditutup-tutupi oleh anak keturunannya.

“ Saya mendapat cerita ini dari Mbah Sayuti (keturunan generasi ke-4 Kiai Nur Saleh-red). Dan itu tidak boleh diceritakan, terkecuali memang keadaan sudah memungkinkan dan diperbolehkan oleh keturunannya,” kata Kiai Mahmud.

Itu artinya, hingga lebih dari 120 tahun, kisah kepahlawanan Kiai Nur Saleh masih tertutup tabir. Termasuk juga dengan kisah keberadaan Alquran kuno tersebut yang jadi misteri hampir 150 tahun.

Sumber: Liputan6

Join Dream.co.id