China Ciptakan Alat Tes Covid-19, Klaim Bisa Deteksi Virus Corona 15 Menit

News | Selasa, 18 Februari 2020 09:00
China Ciptakan Alat Tes Covid-19, Klaim Bisa Deteksi Virus Corona 15 Menit

Reporter : Maulana Kautsar

Diharapkan dapat mendeteksi dengan cepat kondisi pasien.

Dream - Universitas Nankai China telah mengumumkan terobosan dalam mengembangkan alat pendeteksi virus corona, Covid-19. Alat ini diklaim dapat mengidentifikasi infeksi di antara pasien dalam waktu 15 menit.

Dilaporkan Straits Times, produk pendeteksi virus yang baru, yang disebut alat deteksi antibodi IgM/IgG Novel Coronavirus (2019-nCoV), dikembangkan Universitas Nankai dengan perusahaan biofarmasi. Kartu tes cepat, bagian dari peralatan, dapat mendeteksi virus hanya dalam 15 menit.

Peralatan tes dapat mempersingkat waktu pengujian, menyediakan operasi yang lebih mudah, dan lebih cepat, serta membuat diagnosis tepat terhadap pasien yang diduga mengidap Covid-19. Selain itu, peralatan tes berkorelasi dengan orang-orang yang berhubungan langsung di tempat.

Pekan lalu, Kementerian Sains dan Teknologi China meminta proyek penelitian tentang alat tes cepat untuk virus corona. Kementerian tersebut mengatakan bahwa reagen deteksi asam nukleat saat ini membutuhkan waktu lama dan memiliki operasi yang rumit.

Alat tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan pengujian cepat pada pasien yang dicurigai dan mengalami infeksi tanpa gejala. Alat uji Nankai diharapkan akan segera digunakan dalam pencegahan dan pengendalian epidemi.

2 dari 6 halaman

Merinding, Pasien Sembuh Virus Corona Ceritakan Masa-Masa Pengobatan

Dream - Seorang perempuan berusia 47 tahun yang menjalani perawatan intensif di ICU di Singapura karena virus corona, Covid-19, dinyatakan telah pulih, Minggu, 16 Februari 2020.

Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan, perempuan tersebut diketahui bernama Zhang. Dia merupakan pengidap Covid-19 di Singapura.

Zhang, suami dan putranya, termasuk dalam 92 warga Singapura yang dievakuasi dari Wuhan, China pada 30 Januari 2020.

Selama berada di Wuhan, China, Zhang yang merupakan warga naturalisasi Singapura, tidak memperlihatkan simptom virus corona. Tapi, dilaporkan The Star, gejala Covid-19 mulai terlihat saat, Zhang tiba di Singapura.

Dia mengaku mengalami demam selama observasi kesehatan oleh National Centre for Infectious Diseases (NCID). 

" Saya sangat takut. Tim medis memasukkan selang oksigen ke hidung saya, dan menaikkan levelnya sehingga saya bisa bernapas. Tetapi, paru-paru saya tidak berfungsi dengan baik," kata Zhang.

3 dari 6 halaman

Kepala Merekam Percakapan

Zhang mengingat dengan jelas momen saat mengalami kesulitan bernapas yang luar biasa. Dia bahkan sempat berpikir hidupnya sedang sekarat.

" Saya bahkan berpikir `Apakah saya sekarat`," ujar dia.

" Pada waktu itu, saya tidak bisa bergerak, tetapi pikiran saya bekerja. Saya mendengar percakapan mereka (tim medis) dengan jelas," kata dia.

Seorang dokter perempuan terus memegangi kepalanya dan mengatakan agar tidak khawatir. " Jangan khawatir kami akan memasukkan selang untuk membantumu berpanas," katanya.

Suami Zhang tidak terinfeksi virus. Sementara itu putranya, dinyatakan positif dan terus menjalani pengobatan di NCID. Kondisi sang putra terus membaik dan tidak ditemukan simptom di tubuhnya.

4 dari 6 halaman

Pesan untuk Pasien yang Masih Terpapar

Zhang mengatakan, rasa terima kasihnya kepada staf medis di NCID yang memperlakukannya " seperti keluarga" dan " terus membesarkan hatinya setiap hari" .

Sekarang setelah dia dinyatakan sembuh, Zhang berencana untuk kembali ke kehidupannya sehari-hari.

" Aku hanya ingin kembali ke kehidupanku yang biasa, pergi berolahraga bersama teman-temanku, lalu pemasaran, dan minum kopi. Kemudian di malam hari, menyiapkan makan malam untuk suamiku dan anak-anak. Aku pikir itu akan baik," ujar dia.

Kepada pasien lain yang masih menjalani perawatan, dia berkata, " Kita harus melewati. Kita punya keluarga dan teman. Penyakit ini tidak berarti kematian yang tak terhindarkan.

" Saya memiliki kepercayaan pada tim medis kami dan keterampilan mereka. Saya percaya mereka akan bisa menyelamatkan kami," kata dia.

5 dari 6 halaman

Pasien Corona Ikut Konferensi dengan 250 Orang, Semua Panik

Dream - Pemerintah Inggris sedang menghubungi seluruh delegasi yang menghadiri konferensi bus di London karena salah satu peserta dinyatakan positif terpapar virus corona, Covid-19.

Pasien perempuan tersebut berada di Konferensi Bus Inggris di QEII Centre London pada 6 Februari 2020. Setiap orang yang menghadiri Konferensi Bus Inggris telah dikirimi surat elektronik berisi peringatan bahwa mereka mungkin telah melakukan kontak dengan warga China di acara tersebut.

Public Health England memberi pemberitahuan mengenai siapa pun yang memiliki gejala terjangkit virus Corona untuk segera diisolasi dan menghubungi saluran bantuan NHS 111.

" Meskipun tingkat interaksi Anda di KTT tampaknya tidak signifikan, kami mengambil pendekatan pencegahan dan memberi tahu Anda," tulis surat elektronik, tulis Metro.co.uk.

Hampir 800 orang di sekujur Inggris telah dites setelah sembilan orang terkonfirmasi positif virus Corona. Di antara mereka, dua petugas kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit Lewisham yang saat ini sudah dua minggu diisolasi. Sementara, dua sopir taksi online yang mengantar pasien perempuan tersebut ditangguhkan sampai dinyatakan benar-benar bersihd ari virus Corona.

Dua petugas kesehatan di Rumah Sakit Lewisham telah dimasukkan ke dalam isolasi selama dua pengemudi, sementara pengemudi Uber telah ditangguhkan.

Ada kekhawatiran virus Corona telah menyebar di London Underground dan orang-orang yang menunjukkan gejala terinfeksi didesak untuk tinggal di rumah dan menelepon layanan darurat 111.

6 dari 6 halaman

Proses Penyebaran

Pasien perempuan, yang berusia 20-an atau 30-an, merupakan warga negara China yang tinggal bersama keluarganya di London dan terserang Covid-19 di China.

Dia jatuh sakit setelah tiba di bandara Heathrow akhir pekan lalu. Setelah diuji di Lewisham A&E, pasien itu diperbolehkan pulang selama tiga hari, sebelum akhirnya dites kembali dan dinyatakan positif terinfeksi virus Corona.

Dr Robin Thompson dari Universitas Oxford mengatakan, " Secara umum, jika kasus awal berada di daerah berpenduduk padat, maka risiko penularan dari orang ke orang menjadi lebih tinggi. Ini diperburuk oleh fakta bahwa London adalah pusat transportasi, dan bawah tanah dapat menyediakan jaringan untuk menyebarkan virus dengan cepat."

Departemen Kesehatan Inggris mengatakan pada Kamis 13 Februari 2020 bahwa 2.521 orang di Inggris telah diuji. Sebanyak 2.512 dikonfirmasi negatif dan sembilan orang positif.

Terkait
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak
Join Dream.co.id