Aktivitas Papua Barat Kembali Normal

News | Rabu, 21 Agustus 2019 11:17
Aktivitas Papua Barat Kembali Normal

Reporter : Maulana Kautsar

Warga diimbau tak terpancing hoaks.

Dream - Pasca-aksi menolak rasisme yang berujung ricuh, aktivitas warga Kota Sorong, Papua Barat, sudah kembali berjalan normal. Masyarakat sudah beraktivitas seperti biasa.

Dilaporkan Liputan6.com, yang mengutip Antara, jalan utama di depan Bandara Domine Eduard Osok, Sorong, sudah ramai dengan warga yang melintas.

Sementara itu, aktivitas di Bandara Sorong telah mulai terlihat sejak pukul 06.00 WIT. Kendaraan bebas masuk keluar tanpa dikendalikan karena fasilitas halaman parkir masih rusak.

Di lokasi lain, terpantau waga bergotong royong membersihkan puing kayu dan batu. Material itu sebelumnya digunakan massa untuk memblokade jalan.

Kapolres Sorong Kota, AKBP Mario Siregar mengimbau warga setempat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi hoaks dan isu yang menyesatkan.

" Mari kita menenangkan diri dan tidak melakukan aksi-aksi yang mengganggu kamtibmas yang pada akhirnya merugikan kita semua selaku warga Kota Sorong," ucap dia.

Sumber: Liputan6.com

2 dari 6 halaman

BPIP: Jangan Libatkan Ormas di Masalah Papua

Dream - Badan Pembinaan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) akan menggunakan pendekatan kulturan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di Papua.

" Kalau ada konflik-konflik yang melibatkan mereka, harusnya jangan libatkan ormas-ormas lain. Harusnya dibangun persuasif," kata Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP, Romo Benny Susetyo, dilaporkan Liputan6.com,  Selasa, 20 Agustus 2019.

Benny mengatakan, pendekatan kultural harusnya juga dilakukan para kepala daerah. Dengan cara itu, para kepala daerah bisa membuka dialog dengan mahasiswa asal Papua.

Benny menyebut, kerusuhan yang sempat terjadi di Papua dipicu trauma sejarah. " Papua itu harus mendapat perhatian khusus dalam berbagai bidang. Terus menampilkan di ruang publik orang Papua yang berprestasi," ucap dia.

Selain membuka ruang dialog, Benny juga meminta kepala daerah mengklarifikasi berita yang beredar di media sosial.

" Jangna seperti kemarin itu seolah dipertontonkan. Sekarang ini kan gampang diviralkan, semua orang punya hp," kata dia.

(Sumber: Liputan6.com/Yopi Makdori)

3 dari 6 halaman

Kirim 4 SSK Polisi, Mabes Polri: Situasi Papua Barat Kondusif

Dream - Demonstrasi masih berlangsung di Sorong, Papua Barat. Meski demikian, Mabes Polri, mengklaim, kondisi di Papua dan Papua Barat sudah kondusif.

" Alhamdulillah sangat kondusif," kata Kabiro Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, Selasa, 20 Agustus 2019.

Dedi mengatakan, demonstrasi yang berujung di depan Kantor Gubernur, berjalan dengan damai. " Saat ini di Jayapura dan Manokwari aktivitas masyarakat juga berjalan dengan baik," kata dia.

Dedi mengatakan, unjuk rasa di Sorong diikuti sekitar 500 orang. Dia menyebut, TNI-Polri dan tokoh masyarakat di sana telah bernegosiasi dan komunikasi secara intensif.

" Baik TNI-Polri dan tokoh masyarakat yang ada di sana, yang jelas apa yang menjadi aspirasinya teman-teman mahasiswa maupun masyarakat di Sorong juga akan ditampung dan akan diserahkan nanti ke pemerintah pusat," kata dia.

Dedi mengatakan, terdapat penambahan personel polisi di Manokwari dan Sorong, Papua Barat. Hal itu guna menjamin situasi di kawasan tersebut berjalan dengan aman dan tertib.

" Ada empat Satuan Setingkat Kompi (SSK) dari Polda Sultra, Polda Sulut dan Polda Maluku, ke Manokwari dan dua SSK ke Sorong," kata Dedi.

Sumber: Liputan6.com/Adi Anugrahadi

4 dari 6 halaman

Dampak Demo Papua, 258 Napi di Sorong Kabur

Dream - Kerusuhan yang sempat meluas hingga Sorong Kota, Papua Barat, berdampak aksi pembakaran dan pengerusakan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sorong Kota. Akibat aksi tersebut 258 narapidana melarikan diri.

" Telah terjadi pembakaran dan penjebolan tembok lapas sehingga terjadi pelarian," kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Ade Kusmanto, Selasa, 20 Agustus 2019.

Dilaporkan Liputan6.com, Ade mengatakan, kebakaran bermula ketika massa yang berdemo mendatangi Lapas Sorong Kota, Papua. Mereka memprovokasi narapidana.

Selain itu, para pendemo juga melempari Lapas Sorong Kota. " Sehingga terjadi kerusuhan berujung adanya perlawanan kepada petugas dan pelarian dan pembakaran," ujar dia.

Ade mengatakan, Lapas Sorong Kota berisi 547 narapida. Napi yang bertahan ada 289 orang.

5 dari 6 halaman

Soal Demo Massal di Papua, Jokowi: Mari Saling Memaafkan

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat Indonesia untuk saling memaafkan. Imbauan itu disampaikan presiden menyusul aksi demonstrasi massal yang terjadi di Manokwari dan Jayapura, Papua.

Demontrasi tersebut diduga dipicu aksi penangkapan sejumlah mahasiswa di Malang dan Surabaya, Jawa Timur. Sempat beredar jika kata-kata tak santun memicu aksi massa warga di Papua.

" Sebagai saudara sebangsa dan setanah air, yang paling baik adalah saling memaafkan. Emosi itu boleh tetapi memaafkan itu lebih baik, sabar itu juga lebih baik," kata Jokowi, dilaporkan , Senin, 19 Agustus 2019.

Jokowi mengatakan telah memonitor kasus aksi massal yang terjadi. Dia menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperhatikan kesejahteraan masyarakat di Papua dan Papua Barat.

" Dan yakinlah pemerintah akan terus menjaga kehormatan dan kesejahteraan pace, mace, mama-mama yang ada di Papua dan Papua Barat," ucap dia.

(Sah, Sumber: Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin)

6 dari 6 halaman

Ajak Demonstran Tak Merusak, Kepala Suku Papua: `Siapa yang Membangun ke Depan?`

Dream - Dewan Adat Papua meminta presiden Joko Widodo membuka dialog dengan rakyat Papua. Langkah itu diperlukan guna mencegah munculnya kasus demonstrasi massal yang dipicu kesalahpahaman di kemudian hari.

" Kami harap Presiden Jokowi harus ambil langkah tepat untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah harus membuka diri untuk melakukan dialog atau dengan rakyat Papua. Jangan alergi dengan dialog," kata Dewan Adat Papua, Leo Imbiri, dilaporkan Liputan6.com, Senin, 19 Agustus 2019.

Leo menyebut langkah diagloh harus segera dilakukan karena masyarakat Papua kerap mengalami diskriminasi dari aparat keamanan.

Aksi unjuk rasa yang terjadi hari ini juga menjadi puncak dari kejadian diskriminasi yang telah diterima oleh masyarakat Papua.

" Saya heran, justru diskriminasi ini dilakukan oleh aparat keamanan. Ini menunjukkan bahwa aparat tak melakukan tugasnya untuk perlindungan dan penegakan hukum," kata dia.

Suasana Cair Roger Danuarta dan Ayah Cut Meyriska di Meja Makan
Join Dream.co.id