Akhiri Konflik, Saudi Bersiap Buka Kembali Kedutaan di Qatar

News | Senin, 18 Januari 2021 18:01
Akhiri Konflik, Saudi Bersiap Buka Kembali Kedutaan di Qatar

Reporter : Ahmad Baiquni

Menlu Saudi menyatakan hubungan diplomatik akan pulih sepenuhnya.

Dream - Arab Saudi bersama negara anggota Dewan Kerjasama Teluk sepakat mengakhiri perseteruan dengan Qatar. Hal ini ditandai dengan penandantangan Deklarasi Al Ula di awal Januari 2021.

Kini, Saudi tengah bersiap membuka kembali kantor kedutaan besarnya untuk Qatar di Doha. Sayangnya, pembukaan tersebut tidak bisa langsung dijalankan karena terkendala masalah logistik.

" Kedutaan besar kami akan kembali dibuka di Doha dalam beberapa hari ke depan setelah menyelesaikan prosedur yang diperlukan," ujar Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, dikutip dari Aljazeera.

Pangeran Faisal menyatakan negaranya akan menjalin hubungan diplomatik secara penuh dengan Qatar.

 

2 dari 6 halaman

Pemicu Konflik

Saudi bersama Uni Emirat Arab, Bahrain, serta Mesir mengakhiri hubungan dengan Qatar dan menerapkan embargo terhadap negara kecil namun kaya tersebut. Penyebabnya, Qatar dituduh memberi dukungan kepada kelompok ekstremis Ikhwanul Muslimin serta menjalin kedekatan dengan Iran.

Negara-negara tersebut lalu mengajukan 13 tuntutan untuk mengakhiri blokade. Salah satunya, mendesak Qatar menutup kantor stasiun televisi Aljazeera yang berbasis di Doha.

Qatar membantah tudingan tersebut dan menolak memenuhi 13 tuntutan yang dilayangkan negara-negara Teluk. Qatar menegaskan blokade itu hanya bertujuan untuk menjatuhkan negara kecil itu.

3 dari 6 halaman

Qatar dan Negara Kawasan Teluk Akhirnya Berdamai

Dream - Negara-negara kawasan Teluk meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain resmi mengakhiri kebuntuan hubungan dengan Qatar. Hal yang sama juga dilakukan Mesir.

Para pemimpin dari sejumlah tersebut menandatangani perjanjian damai dengan Qatar, Deklarasi AlUla pada Selasa, 5 Januari 2020 waktu setempat. Perjanjian ini juga menandai pemulihan hubungan diplomatik yang sempat terputus selama 3,5 tahun lamanya.

" Apa yang terjadi hari ini adalah... membalik halaman atas semua inti perbedaan dan kembalinya hubungan diplomatik secara penuh," ujar Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, dikutip dari Arab News.

Pangeran Faisal mengatakan Deklarasi AlUla menekankan perluya memerangi entitas yang mengancam keamanan negara-negara kawasan Teluk.

Dia menyatakan seberapa pun banyaknya ketidaksepakatan di kawasan yang sama, " kebijaksanaan mampu mengatasi semua ini dan menggerakkan kawasan pada keamanan."

Selain Deklarasi AlUla, para pemimpin negara-negara Teluk tersebut juga menandatangi perjanjian Komunike Terakhir. Perjanjian ini memuat kesepakatan bersama untuk memerangi terorisme dan mengupayakan persatuan di antara negara-negara tersebut.

 

4 dari 6 halaman

Perangi Terorisme Bersama

Perjanjian tersebut juga menandai solidaritas antar negara mengenai campur tangan secara langsung maupun tidak terkait urusan dalam negeri masing-masing.

" Dan semua anggota sepakat tidak ada kedaulatan yang dilanggar atau keamanannya menjadi target," kata Pangeran Faisal.

Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Counsil/GCC), Nayef Al Hajraf, menyatakan negara-negara Teluk terbiasa menghadapi tantangan dengan kekuatan dan tekad bersama.

Deklarasi AlUla ini, kata dia, menekankan tujuan GCC dan memperkuat ikatan persahabatan dan persaudaraan di antara negara-negara anggota.

Sebelumnya, Putra Mahkota Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman memeluk Emir Qatar, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, saat menyambutnya di bandara sebelum Konferensi Tingkat Tinggi GCC. Keduanya lalu terlibat pertemuan empat mata.

Deklarasi ini muncul setelah Saudi mencabut embargo terhadap Qatar. Negara kaya yang berbatasan langsung dengan Saudi itu sempat dikucilkan negara-negara Teluk karena dituduh memberikan dukungan terhadap kelompok ekstremis Ikhwanul Muslimin.

5 dari 6 halaman

Obsesi Saudi Bangun Kanal Pemisah untuk Kucilkan Qatar

 Obsesi Saudi Bangun Kanal Pemisah untuk Kucilkan Qatar© Dream

Saudi benar-benar ingin Qatar terpisah dari jazirah Arab.

 

Dream - Arab Saudi mempertimbangkan rencana pembangunan kanal sepanjang garis perbatasan dengan Qatar. Lewat kanal tersebut, Saudi berniat menjadikan Qatar sebagai negara yang terpisah dari jazirah Arab.

Dikutip dari Alaraby, surat kabar Sabq melaporkan rencana tersebut masih menunggu izin dari pejabat kerajaan. Begitu izin didapat, pembangunan konstruksi kanal dimulai.

Proyek ini diprediksi menghabiskan dana mencapai US$750 juta, setara Rp10,2 triliun. Ditargetkan proyek ini akan rampung hanya dalam waktu satu tahun.

Nantinya, kanal ini akan dibangun sepanjang 60 kilometer dengan lebar 200 meter dan kedalaman antara 15 sampai 20 meter. Kanal ini benar-benar akan memisahkan Qatar dari Saudi dan kawasan Teluk.

 Rencana pembangunan kanal pemisah Saudi-Qatar© dream.co.id

Jalur perairan ini efektif mengakhiri perdagangan darat antara Saudi dengan Qatar. Tidak hanya itu, pengiriman komoditas dari Uni Emirat Arab ke Qatar lewat jalur darat bakal berakhir.

Juni tahun lalu, Saudi menerapkan blokade darat, laut, dan udara bersama UEA, Bahrain, dan Mesir. Namun, blokade tersebut mendapat kecaman dan disebut ilegal.

Proyek kanal ini tampaknya bakal memperketat blokade yang diterapkan Saudi atas Qatar. Nantinya, kanal ini bisa dilewati kapal tanker dan kontainer.

Sepanjang kanal tersebut juga akan dibangun sejumlah resort mewah sehingga kapal pesiar bisa berlabuh. Saudi juga berencana menjadikan kawasan sekitar kanal sebagai pusat ekonomi dan industri.

Tetapi, kebanyakan pengamat menilai rencana pembangunan kanal tersebut merupakan proyek propaganda yang dijalankan Saudi bersama UEA.

6 dari 6 halaman

Saudi dan 3 Negara Putus Hubungan Diplomatik dengan Qatar

 Saudi dan 3 Negara Putus Hubungan Diplomatik dengan Qatar© Dream

Qatar dituduh mendukung terorisme.

 

Dream - Arab Saudi bersama Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA), menyatakan memutuhkan hubungan diplomatik dengan Qatar, Senin 5 Juni 2017. Keempat negara ini menuduh Qatar mendukung terorisme.

" Ini hak kami dalam menjalankan kedaulatan yang dilindungi hukum internasional serta untuk melindungi rakyat dari ancaman terorisme dan ekstremisme," demikian bunyi pernyataan resmi Kerajaan Saudi, sebagaimana dikutip Dream dari Channel News Asia.

Saudi telah memutus jalur kontak darat, laut, dan udara, dengan Qatar. " Mendesak seluruh negara sahabat untuk melakukan hal yang sama," lanjut pernyataan sikap tersebut.

Saudi menuduh Qatar telah melakukan pelanggaran berat dalam beberapa tahun belakangan. Salah satunya seruan agar negara-negara koalisi Arab pimpinan Arab Saudi mendukung Iran.

Langkah serupa dijalankan UEA. Negara Teluk ini menuduh Qatar mendukung ekstremisme dan merongrong stabilitas regional.

UEA memutus hubungan diplomatik dan memberi waktu 48 jam bagi diplomat Qatar untuk meninggalkan wilayah kedaulatan Keemiran. Alasannya, karena Qatar memberikan dukungan, pembiayaan, serta berhubungan baik dengan organisasi teroris, ekstremis, dan sektarian.

Kementerian Luar Negeri Mesir juga menuduh Doha (ibukota Qatar) telah mendukung terorisme dalam pernyataan terkait pemutusan hubungan kerja dua negara. Melalui pernyataan resmi, Pemerintah Mesir menegaskan sejumlah pelabuhan dan bandara akan ditutup untuk kapal dan pesawat Qatar.

Kantor berita Bahrain melaporkan kerajaan tersebut telah memutus hubungan dengan Doha karena desakan dari Qatar yang dinilai telah mengguncang keamanan dan stabilitas situasi Bahrain.

Koalisi Arab pimpinan Saudi yang memerangi pemberontak Yaman juga mengumumkan rencana penghentian keanggotaan Qatar. Keputusan ini diambil setelah sejumlah negara kawasan Teluk memutuskan hubungan dengan Doha di tengah meningkatnya ketegangan antar negara-negara tetangga.

" Tindakan Qatar telah memperkuat terorisme, dan telah mendukung organisasi teroris di Yaman, termasuk Al Qaeda dan ISIS serta milisi pemberontak," ujar pengumuman tersebut.

Maskapai milik Abu Dhabi, Etihad Airways, menyatakan akan menunda semua jadwal penerbangan dari dan menuju Doha mulai Selasa pagi besok. Penerbangan terakhir dari Abu Dhabi ke Doha dijadwalkan pada Selasa pukul 02.45 waktu setempat.

Ketegangan antara Qatar dengan sejumlah negara Teluk terjadi setelah kantor berita setempat memuat pemberitaan tentang Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamid Al Thani, mendesak negara-negara Timur Tengah mendukung Iran. Pemerintah Qatar sempat membuat klarifikasi atas berita dengan menyebut server kantor beritanya telah diretas.

Sayangnya, kabar tersebut terlanjur tersebar.

Join Dream.co.id