Jenderal Tewas Diserangan AS, Iran Tingkatkan Pengayaan Uranium untuk Nuklir

News | Senin, 6 Januari 2020 13:00
Jenderal Tewas Diserangan AS, Iran Tingkatkan Pengayaan Uranium untuk Nuklir

Reporter : Ahmad Baiquni

Iran tidak lagi mengindahkan kesepakatan yang terjalin pada 2015 lalu.

Dream - Gesekan antara Iran dengan Amerika Serikat semakin memanas. Terutama setelah petinggi militernya, Jenderal Qassem Soleimani, terbunuh oleh serangan udara yang dilancarkan AS pada Jumat pekan lalu.

Buntut dari peristiwa itu, Iran mengambil keputusan besar dalam sejarah negara itu dengan mengibarkan bendera merah sebagai pertanda balas dendam. Selain itu, Iran juga tidak lagi memberlakukan pembatasan pengayaan uranium yang merupakan bahan baku pembuatan nuklir.

Iran menyatakan tidak lagi mengindahkan kesepakatan nuklir yang terjalin dengan AS pada 2015 menyusul meningkatnya ketegangan. Kesepakatan itu dimaksudkan untuk membatasi Teheran dari kepemilikan bahan baku mencukupi guna membuat bom atom.

Keputusan ini diambil setelah Jenderal Qassem yang merupakan Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran itu terbunuh di Baghdad, Irak.

Sepanjang Minggu kemarin, ratusan ribu orang memenuhi jalanan Iran. Mereka mengusung sebuah peti mati, tanda berkabung atas meninggalnya perwira tinggi militer yang disegani di negara itu.

2 dari 6 halaman

Serangan Balas Dendam

Terbunuhnya Jenderal Qassem juga memicu amarah kelompok paramiliter yang berafiliasi dengan Iran, seperti Hezbollah Libanon. Pimpinan Hezbollah mengeluarkan ancaman dengan menyatakan pangkalan militer, kapal perang, dan seluruh warga AS di Timur Tengah menjadi target serangan balas dendam tersebut.

Selain itu, serangan balas dendam juga ditargetkan ke kota-kota terkenal Israel seperti Haifa, terutama Tel Aviv.

Stasiun televisi Iran mengutip pernyataan Presiden Hassan Rouhani yang tidak lagi memberlakukan pembatasan pengayaan uranium. Termasuk juga tidak akan lagi membatasi penelitian untuk pengembangan nuklir.

Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) yang merupakan pengawas resmi PBB atas program nuklir Iran tidak segera merespon pernyataan tersebut. Sedangkan Iran menyatakan kerja sama dengan IAEA akan berlanjut seperti semula.

Sumber: Metro.co.uk

3 dari 6 halaman

Donald Trump Dimakzulkan DPR AS, Ini 2 Kesalahan Sang Presiden

Dream - House of Representative atau DPR-nya Amerika Serikat (AS) mengambil keputusan memakzulkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dasarnya, Trump dituduh menyalahgunakan kekuasaan dan merendahkan Kongres.

Keputusan ini menjadikan Trump sebagai presiden ketiga dalam sejarah yang didakwa melakukan kejahatan tingkat tinggi dan pelanggaran ringan, serta mengabaikan Senat.

Keputusan ini diambil lewat pemungutan suara yang berlangsung Rabu malam waktu setempat. Sebelumnya, terjadi perdebatan yang alot sepanjang hari hingga malam.

Dilansir New York Times, sebanyak 230 anggota parlemen sepakat memakzulkan Trump dengan dasar penyalahgunaan kekuasaan. Sedangkan 197 sisanya menyatakan penolakan.

Terjadi perdebatan hingga 10 jam setelah pemungutan suara pertama. Usai debat, digelar pemungutan suara kedua. Hasilnya, sebanyak 229 suara setuju Trump dimakzulkan dengan tuduhan merendahkan wewenang Kongres sementara 198 sisanya menolak.

4 dari 6 halaman

Trump Ngamuk

Namun keputusan pemakzulan Trump tersebut belum final. Usai pemungutan suara pemakzulan, Trump akan menghadapi persidangan di depan Senat awal tahun depan.

Sidang ini akan menjatuhkan keputusan final terhadap masa depan Trump sebagai Presiden AS.

" Presiden dan orang-orang sudah merencanakan. Bahaya sedang terjadi, risikonya nyata, demokrasi kita sedang dalam bahaya," ujar anggota Kongres AS, Adam Benneth Schiff.

Bukannya merenung dan menyesali yang terjadi, Trump malah marah dan mengamuk kepada Kongres. Dia menulis cuitan kasar di Twitter.

" Ini adalah kebohongan kaum kiri radikal, Demokrat tak lakukan apapun,"  cuit Trump.

5 dari 6 halaman

Langkah Pemakzulan Donald Trump Dimulai

Dream - Juru bicara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS), Nancy Pelosi mengumumkan rencana pemakzulan Presiden AS, Donald Trump.

Pelengseran kekuasaan ini diumumkan karena diduga terjadi pelanggaran konstitusi oleh Trump.

" Hari ini saya mengumumkan DPR bergerak maju dengan penyelidikan pemakzulan resmi," kata Pelosi di Capitol, diakses dari CBS, Rabu, 25 September 2019.

Penyelidikan yang dilakukan DPR ini menandai keempat kalinya dalam sejarah AS seorang presiden menghadapi ancaman pemakzulan.

Politisi senior Demokrat ini telah lama menolak seruan banyak anggota parlemen, untuk memulai proses impeachment terhadap Presiden.

Tetapi Partai Demokrat tampaknya telah mencapai titik puncak karena penolakan pemerintah menyerahkan bukti keterlibatan Trump dengan pemimpin asing.

" Pekan ini, Trump mengakui telah meminta presiden Ukraina untuk mengambil tindakan yang akan menguntungkan secara politis," kata Pelosi.

 

6 dari 6 halaman

Kasus Trump

" Kebijakan itu membuktikan kebijakan Trump yang tak terhormat dan berkhianat atas sumpah jabatannya, terhadap keamanan nasional dan pengkhianatan integritas pemilu kita," ujar dia menambahkan.

 Juru bicara DPR AS Nancy Pelosi© Juru bicara DPR AS Nancy Pelosi (Foto: Shutterstock)

Kehebohan ini bermula dari telepon Trump kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky pada Juli 2019. Telepon itu berisi diskusi Trump yang mengakui peran Joe Biden dalam konteks memerangi " korupsi" di AS.

Trump dan rekannya, pengacara pribadi Rudy Giuliani, menyebut Biden mendorong penggulingan seorang jaksa penuntut Ukraina untuk menguntungkan putranya.

Selain kasus itu, pada Agustus 2019, seorang anggota anonim intelijen mengajukan diri sebagai whistleblower ke inspektur jenderal komunitas intelijen atas kasus itu.

Tetapi, setelah berkonsultasi dengan Departemen Kehakiman dan Gedung Putih, penjabat direktur intelijen nasional menolak untuk menyampaikan keluhan itu kepada komite kongres.

Pelosi mengatakan penolakan pemerintah untuk menyampaikan isi pengaduan itu merupakan " pelanggaran hukum" yang " merusak keamanan nasional dan intelijen kita."

Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak
Join Dream.co.id