39 Tahun Ziarahi Nenek, Ternyata Salah Makam

News | Jumat, 18 Oktober 2019 07:02
39 Tahun Ziarahi Nenek, Ternyata Salah Makam

Reporter : Ahmad Baiquni

Marn baru tahu setelah penggalian makam untuk kremasi neneknya.

Dream - Berziarah ke makam orangtua atau kakek nenek sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, namun juga di sejumlah negara.

Demikian halnya dengan Marn Chuan Lee. Warga Singapura ini punya kebiasaan yang sudah dijalaninya selama 39 tahun, berziarah ke makam nenek.

Marn datang ke makam neneknya setiap tiga bulan sekali. Dia membersihkan dan merapikan, bahkan sampai memasang lampu taman di tempat neneknya dikuburkan di Pemakaman China Choa Chu Kang Singapura.

Selama ini, dia tidak tahu telah berziarah ke makam yang salah. Dia baru menyadari ketika menemukan boneka mainan, pensil warna, dan kalung tak dikenali saat makam itu digali pada Agustus lalu

Pria 50 tahun itu terkejut. Dia tidak pernah menyangka telah salah menziarahi makam selama ini.

" Saya pikir ini sudah gila. Rasanya seperti ada orang yang menculiknya dan kami tidak tahu di mana dia berada," kata Marn, dikutip dari Strait Times.

 

2 dari 5 halaman

Batu Nisan Tak Sejajar

Dia lalu melaporkan temuannya ke Badan Lingkungan Nasional (NEA). Pada 2 Oktober, badan itu menggali dua kuburan yang tidak diketahui pemiliknya, yang terletak bersebelahan dengan makam nenek Marn.

Hasil analisis NEA menyebutkan terdapat batu nisan yang terpasang tidak selaras. Hal itu menyebabkan batu nisan lainnya berdekatan sehingga ditandai secara salah.

Sementara kuburan yang letaknya berdekatan berisi barang-barang pria. Tidak ada satupun barang milik nenek Marn yang ditemukan.

Marn akhirnya berhasil menemukan makam neneknya pada 11 Oktober. Penemuan itu setelah NEA menggali lagi lima kuburan lainnya.

 

3 dari 5 halaman

Gara-gara Satu Makam Tak Bernisan

Juru bicara NEA mengatakan, pemakaman dilakukan suatu hari 39 tahun lalu. Salah satu keluarga tidak mendirikan batu nisan.

" Dan karena ketidaksejajaran, salah satu batu nisan berada di antara dua plot kuburan," kata juru bicara tersebut.

Hal ini berdampak pada sembilan makam lainnya. Juru bicara itu menambahkan, NEA telah melakukan verifikasi sisa-sisa yang terkubur kepada keluarga terdampak dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang timbul.

Kasus batu nisan ini merupakan masalah pertama kali yang dihadapi NEA dari 16.800 penggalian makam hingga 30 September 2019.

Marn mengaku stress menunggu NEA membantu menemukan jenazah neneknya. " Saya tidak bisa fokus kerja, makan atau tidur," kata Marn.

 

4 dari 5 halaman

Ada 8.500 Makam Tak Bertuam

Juru bicara NEA awalnya tidak bisa melanjutkan proses lebih jauh. Karena perlu menggali kuburan yang berdekatan dan memverifikasi isinya.

Tetapi, ada beberapa kuburan yang tidak diklaim. Pihaknya juga membuka kesempatan klaim hingga 30 September 2019.

Data NEA menyebutkan ada 8.500 makam yang tidak diketahui pemiliknya. Setiap jenazah yang terkubur dalam makam tak bertuan akan dikremasi dan disimpan selama tiga tahun sebelum akhirnya ditebarkan ke lautan.

 

5 dari 5 halaman

Kremasi Nenek, Simpan Abu di Rumah

Sejak itu, Marn kemudian mengkremasi jenazah neneknya. Tetapi dia mengaku takut menyimpan abunya di krematorium, khawatir akan tercampur lagi dengan jenazah lainnya.

Marn memang sangat dekat dengan neneknya. Bersama enam saudaranya, Marn diasuh oleh sang nenek hingga meninggal saat dia berusia 12 tahun.

Dia memilih menyimpan abu nenek di rumahnya, sembari menunggu waktu untuk menempatkannya di klenteng. " Saya baru saja mendapatkannya kembali, saya takut kehilangan dia lagi," ucap Marn.

(ism, Sumber: Strait Times)

Terkait
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara
Join Dream.co.id