Kemendikbud Jelaskan Temuan 1.303 Sekolah Jadi Klaster Covid-19

News | Jumat, 24 September 2021 13:00

Reporter : Ahmad Baiquni

Temuan tersebut diklaim merupakan akumulasi sejak 2020, bukan ketika PTM terbatas berlangsung mulai Juli 2021.

Dream - Survei internal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, mencatat sebanyak 1.303 sekolah menjadi klaster penularan Covid-19. Seluruhnya terdiri dari berbagai satuan pendidikan mulai PAUD hingga SMK.

Direktur Sekolah Dasar Ditjen PAUD Dasmen Kemendikbudristek, Sri Wahyuningsih, mengatakan hasil survei tersebut merupakan akumulasi temuan sejak 2020. Data tersebut tidak dihimpun mulai Juli 2021.

" Terkait data klaster penularan Covid-19, data 1.303 sekolah merupakan data akumulasi dari tahun 2020," ujar Sri, dikutip dari Liputan6.com..

Kemendikbud segera berkoordinasi untuk memperbarui data tersebut disesuaikan dengan perkembangan terbaru PTM terbatas. Khususnya usai terjadinya lonjakan kasus Covid-19.

" Periode setelah adanya lonjakan kasus Covid-19 pada pertengahan Juni sampai Agustus, yang memaksa beberapa sekolah untuk tutup kembali," terang dia.

Sri menambahkan, pelaksanaan opsi PTM terbatas tetap mengacu pada SKB 4 menteri. Agar temuan ini tidak terulang, Kemendikbud memperketat monitoring PTM terbatas.

" Pengawasan harus dilakukan oleh semua pihak termasuk masyarakat agar pelaksanaan PTM terbatas dapat berjalan dengan aman," kata dia.

Kemendikbud Jelaskan Temuan 1.303 Sekolah Jadi Klaster Covid-19
Vaksinasi Pelajar
2 dari 8 halaman

6 Fakta Munculnya Klaster Covid-19 di Sekolah Saat Pelaksanaan PTM Terbatas

Dream - Dalam beberapa hari terakhir, kasus Covid-19 di Indonesia memperlihatkan tren penurunan yang signifikan. Beberapa daerah yang sudah dinyatakan berstatus PPKM Level 3 ke bawah bahkan sudah mulai menjalankan kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Namun pelaksanaan sekolah tatap muka ini menimbulkan dampak munculny klaster baru di beberapa tempat pendidikan. Survei internal dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenbudristek) menemukan 2,8 persen atau 1.000 lebih sekolah menjadi klaster penyebaran Covid-19.

Hasil tersebut berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 46.500 sekolah hingga 20 September 2021 kemarin.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut fakta-fakta seputar kemunculan klaster sekolah saat PTM terbatas:

3 dari 8 halaman

1. 1.296 Sekolah Jadi Klaster Baru Covid-19

Kemendikbudristek mencatat ada 2,8 persen satuan pendidikan penyelenggara pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang menjadi klaster Covid-19. Hasil itu berdasarkan survei yang dilakukan pihaknya terhadap 46.500 sekolah hingga 20 September 2021.

" Kasus penularan itu kira-kira 2,8 persen yang melaporkan," kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dasmen) Kemendikbudristek, Jumeri, dikutip dari Liputan6.comJumat 24 September 2021. 

Jumlah 2,8 persen itu sama dengan 1.296 sekolah yang menyatakan ada klaster Covid-19 pada pelaksanaan PTM terbatas yang telah dilakukan.

 

 

4 dari 8 halaman

2. Jumlah Kasus di Masing-Masing Jenjang Sekolah

Dalam penjelasannya, Jumari mengatakan jumlah klaster sekolah tersebut sudah mencakup PAUD, SD, SMA, SMK dan Sekolah Luar Biasa (SLB).

Untuk jenjang pendidikan SD, dari 20.913 sekolah yang menjadi responden, 2,78 persen di antaranya atau 581 sekolah menyatakan terdapat klaster Covid-19 pada pelaksanaan PTM terbatas. Jumlah PTK yang terpapar Covid-19 ada sebanyak 3.174 orang dan jumlah peserta didik yang terpapar Covid-19 ada sebanyak 6.908 orang.

Selanjutnya jenjang pendidikan SMP, dari 7.085 sekolah yang menjadi responden, 241 sekolah di antaranya menyatakan terdapat klaster Covid-19 pada kegiatan PTM terbatas atau 3,40 persen dari keseluruhan responden di jenjang pendidikan SMP. Untuk jumlah PTK dan peserta didik yang terpapar Covid-19 ada sebanyak 1.502 orang PTK dan 2.220 orang peserta didik.

Kemudian, jenjang pendidikan dengan persentase terbesar ditemukan klaster Covid-19 adalah SMA. Dari 2.358 SMA yang menjadi responden, 107 sekolah menyatakan ada klaster pada kegiatan PTM terbatas atau 4,54 persen dari keseluruhan responden di jenjang pendidikan SMA. Ada 794 PTK dan 1.915 peserta didik yang menjadi bagian dari klaster tersebut.

Lalu, di tingkat SMK, dari total 2.267 responden, 70 di antaranya atau 3,09 persennya menyatakan terdapat klaster Covid-19 di sekolah setelah kegiatan PTM terbatas. Ada 609 PTK dan 1.594 peserta didik yang terpapar Covid-19 pada jenjang pendidikan SMK ini.

Di tingkat PAUD, dari 12.994 sekolah yang menjadi responden, 1,94 persen di antaranya atau 252 sekolah menyatakan ada klaster Covid-19 pada kegiatan PTM terbatas yang telah dilaksanakan. Dari angka tersebut, ada 953 PTK dan 2.007 peserta didik yang berstatus positif Covid-19.

Berikutnya, untuk di SLB, dari 391 sekolah yang menjadi responden, ada 13 sekolah yang menyatakan terdapat klaster Covid-19 setelah PTM terbatas dilaksanakan. Dari klaster tersebut terdapat 131 PTK dan 112 peserta didik yang berstatus positif Covid-19.

5 dari 8 halaman

3. Lebih dari 15 Ribu Siswa dan 7 Ribu Guru Positif Covid-19

Dipaparkan Jumeri, terdapat 7.287 guru dan tenaga kependidikan terkonfirmasi Covid-19 selama menggelar PTM terbatas dengan 47.005 sekolah yang mengisi survei. Dari jumlah tersebut sebanyak 1.303 sekolah menjadi klaster Covid-19 atau setara 2,77 persen.

Adapun rincian klaster Covid-19 per jenjang sekolah adalah sebagai berikut:

- PAUD : 1,91 persen ditemukan klaster Covid-19 atau setara 251 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Jumlah guru dan siswa PAUD yang terkonfirmasi Covid-19 masing-masing sebanyak 956 guru dan 2.006 peserta didik.

- SD : 2,77 persen ditemukan klaster Covid-19 pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Angka itu sebanyak 583 SD. Jumlah guru dan siswa SD yang terkonfirmasi Covid-19 selama PTM terbatas sebanyak 3.166 guru dan 6.928 siswa.

- SMP: 3,42 persen ditemukan klaster Covid-19 pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat gelaran PTM terbatas. Jumlah itu setara 244 SMP. Adapun guru dan siswa SMP yang terinfeksi Covid-19 selama PTM terbatas masing-masing sebanyak 1.482 untuk guru dan 2.201 untuk siswa.

- SMA: 4,55 persen Sekolah Menengah Atas (SMA) dilaporkan menjadi klaster penularan Covid-19 selama menggelar PTM terbatas. Angka ini setara 109 SMA. Terdapat 797 guru dan 1.934 siswa SMA yang terkonfirmasi positif Covid-19.

- SMK: 3,07 persen ditemukan klaster Covid-19 pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat pelaksanaan PTM terbatas. Jumlah ini sebanyak 71 SMK. Sementara terdapat 605 guru dan 1.590 siswa SMK yang terkonfirmasi Covid-19.

- SLB: 3,27 persen jenjang Sekolah Luar Biasa (SLB) dilaporkan telah terjadi klaster Covid-19 selama PTM terbatas. Jumlahnya sebanyak 13 SLB. Terdapat 135 guru dan 112 siswa SLB yang terkonfirmasi Covid-19.

6 dari 8 halaman

4. Jawa Timur Paling Tinggi

Jawa Timur menjadi provinsi paling banyak melaporkan temuan klaster Covid-19 di sekolah selama gelaran PTM terbatas. Terdapat 917 guru dan tenaga kependidikan serta 2.507 siswa terkonfirmasi positif Covid-19.

Temuan klaster paling tinggi berada pada jenjang Sekolah Dasar (SD), yakni sebanyak 65 sekolah. Terdapat 235 guru dan tenaga kependidikan SD di Jawa Timur yang positif Covid-19. Serta 831 siswa SD yang juga positif Covid-19.

Pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Jawa Timur mencatat temuan klaster Covid-19 sebanyak 51 sekolah. Terdapat 274 guru dan tenaga kependidikan dan 511 siswa pada jenjang PAUD yang positif Covid-19.

Sementara pada janjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 23 sekolah menjadi klaster Covid-19. Dengan 171 guru dan tenaga kependidikan serta 236 siswa SMP yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Pada janjang Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Jawa Timur masing-masing mencatat temuan klaster sebanyak 8, 16, 1 sekolah.

7 dari 8 halaman

5. Sebaran Temuan Klaster

Berikut sebaran temuan klaster Covid-19 di seluruh provinsi Tanah Air:

DKI Jakarta: 25 sekolah (2,77 persen).

Jawa Barat: 149 sekolah (2,25 persen).

Jawa Tengah: 131 sekolah (3,70 persen)

DI Yogyakarta: 41 sekolah (3,77 persen)

Jawa Timur: 165 sekolah (2,11 persen)

Aceh : 30 sekolah (2,95 persen)

Sumatera Utara: 52 sekolah (2,43 persen)

Sumatera Barat: 51 sekolah (3,88 persen)

Riau: 29 sekolah (2,82 persen)

Jambi: 30 sekolah (3,27 persen)

Sumatera Selatan: 32 sekolah (3,43 persen)

Lampung: 43 sekolah (3,79 persen)

Kalimantan Barat: 50 sekolah (3,16 persen)

Kalimantan Tengah: 49 sekolah (4,94 persen)

Kalimantan Selatan: 29 sekolah (2,64 persen)

Kalimantan Timur: 19 sekolah (4,63 persen)

Sulawesi Utara: 8 sekolah (1,97 persen).

Sulawesi Tengah: 18 sekolah (3,16 persen)

Sulawesi Selatan: 33 sekolah (1,25 persen)

Sulawesi Tenggara: 5 sekolah (0,98 persen)

Maluku: 8 sekolah (1,90 persen)

Bali: 9 sekolah (1,21 persen)

Nusa Tenggara Barat: 32 sekolah (3,06 persen)

Nusa Tenggara Timur: 104 sekolah (6,08 persen)

Papua: 31 sekolah (6,75 persen)

Bengkulu: 15 sekolah (3,59 persen)

Maluku Utara: 6 sekolah (2,71 persen)

Banten: 44 sekolah (2,59 persen)

Kepulauan Bangka Belitung: 16 sekolah (6,69 persen)

Gorontalo: 15 sekolah (2,77 persen)

Kepulauan Riau: 13 sekolah (4,05 persen)

Papua Barat: 9 sekolah (5 persen)

Sulawesi Barat: 2 sekolah (0,72 persen)

Kalimantan Utara: 9 sekolah (2,79 persen).

 

 

8 dari 8 halaman

6. PTM Terbatas Tidak Dihentikan

Meski kondisi PTM Terbatas menyebabkan penemuan klaster baru, Menteri Penidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makariem memastikan PTM terbatas tidak akan diberhentikan.

Hanya saja, Kemendikbudristek akan terus memonitor kasus penyebaran dan penularan Covid-19 di sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka terbatas.

" Itu terus kita monitor. Bukan berarti PTM-nya akan diundur, masih harus jalan. PTM Terbatas masih dilanjutkan," ujar Nadiem kepada wartawan di DPR RI, Kamis 23 September 2021.

Sekolah yang tetap menggelar pembelajaran tatap muka terbatas diminta Nadiem untuk menguatkan protokol kesehatan. Sekolah juga diminta terbuka kepada pemerintah kondisi di lingkungannya.

Nadiem mengatakan, sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka terbatas harus segera menutup sekolah jika ditemukan kasus Covid-19 di lingkungan sekolah.

" Protokol kesehatan harus dikuatkan, tapi sekolahnya masing-masing kalau ada kasus klaster ya harus ditutup segera," tegas Nadiem Makarim.

Join Dream.co.id