Hari Ini 27 Tahun Lalu, Tsunami 36 Meter Terjang Flores

News | Kamis, 12 Desember 2019 16:02
Hari Ini 27 Tahun Lalu, Tsunami 36 Meter Terjang Flores

Reporter : Maulana Kautsar

Kisah seorang saksi mata yang selamat dari tsunami.

Dream - Tepat hari ini sekitar 27 tahun lalu, tsunami menerjang pesisir Flores, Nusa Tenggara Timur. Bencana alam itu menewaskan 2.100 orang tewas.  

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono membagikan catatan tsunami yang terjadi pada 12 Desember 1992. Sebelum tsunami terjadi, ada gempa berkekuataan 7,8 magnitudo sekitar pukul 13.29 WITA.

" Gempa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Flores, menyebabkan tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan rumah di pesisir Flores dan sekitarnya," tulis Daryono, di akun Instagramnya, Kamis, 12 Desember 2019.

Daryono mengatakan, peristiwa bencana ini menyebabkan setidaknya 2.100 orang meninggal, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan 5.000 orang mengungsi.

Dilaporkan Liputan6.com, peristiwa gempa dan tsunami itu mengagetkan saksi mata, Hendrikus Belang Koten. Tak banyak pikir, dia pun langsung bergegas pergi menyelamatkan diri agar tidak dilumat oleh tanah bercampur air.

 Kapal terhempas karena tsunami (Foto: Instagram @daryono)
© Instagram

Kapal terhempas karena tsunami (Foto: Instagram @daryono)

2 dari 5 halaman

Terombang Ambing Selamat

Dia berlari sekencang-kencangnya ke arah laut untuk mengambil sampan, namun tiba-tiba melihat air kering. Ada jurang di dalam laut.

Tak lama berselang, tiba-tiba ia melihat dan menghitam menghampiri dirinya.

Menyaksikan itu, dia hanya terpaku. Tak bisa berbuat apa-apa. Kakinya sudah tidak bisa bergerak lagi untuk berlari kencang ke arah daratan.

Dia pasrah. Badannya pun dihempas gelombang besar yang penuh lumpur. Hendrikus terombang-ambing tsunami. Namun begitu, dia mengaku bersyukur masih diberi keselamatan dari bencana dahsyat itu.

Sementara 16 angota keluarganya di Turubean Kecamatan Tanjung Bunga Flores Timur, meninggal dunia tersapu gelombang dahsyat.

3 dari 5 halaman

Alasan Kenapa Tsunami Setengah Meter Tetap Harus Diwaspadai

Dream - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikora Karnawati menjelaskan alasan memberi peringatan meski potensi tsunami setinggi 0,5 meter.

" Kenapa ketinggian maskimal setengah meter tetap diberi peringatan dini karena pantai Indonesia morfologi beragam jadi pada teluk atau pantai tertentu bisa melompat ketinggian jadi beberapa meter," ujar Dwikorita, Jumat, 2 Agustus 2019.

Dwikorita mengatakan, ada beberapa wilayah yang berpotensi mengalami potensi pasca gempa yang berpusat di barat daya, Sumur, Banten.

" Daerah potensi tsunami yaitu bagian Pandeglang Selatan, ancaman siaga, ketinggian maksimal 3 meter. Pulau Panaitan, Lampung Barat, Pesisir Selatan," ujar dia.

 

4 dari 5 halaman

Tetap Memperhatikan Informasi

Selain itu, wilayah lain yang berada di Pandeglang bagian utara, Lebak, Banten juga berpotensi mengalami tsunami setinggi setengah meter.

Dwikora meminta masyarakat untuk tetap tenang ketika melakukan evakuasi dan tetap memperhatikan informasi yang berasal dari BMKG dan juga aparat terkait.

BMKG baru akan mengakhiri peringatan dini tsunami ini selama dua jam setelah ditetapkannya peringatan tersebut.

" SOP kita mewajibkan menunggu dua jam," kata dia.

5 dari 5 halaman

Misteri 7000 Tahun Tsunami Aceh di Goa 'Kotoran Kelelawar'

Dream - Gua Ek Leuntie, Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar menyimpan fenomena tsunami Aceh dari masa ke masa.

Menurut penelitian dari Earth Observatory of Singapore (EOS) bencana tsunami di area BumI Rencong sudah terjadi sebanyak 14 kali.

" Kejadian-kejadian tsunami di Aceh ternyata terjadi berulang, dengan periode perulangannya yang sangat beragam," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Sunawardi, kepada Liputan6.com, Selasa, 10 September 2019.

Tsunami, yang oleh masyarakat Aceh disebut semong, sudah terjadi sejak 7.000-an tahun silam. Tsunami menghancurkan 9 dari 10 komunitas di pesisir pantai Aceh antara 1394 hingga 1450.

 Peneliti asal Singapura menemukan fakta terbaru mengenai sejarah tsunami di Aceh yang tersimpan di Gua Ek Leuntie (Liputan6.com/Rino Abonita)
© Peneliti asal Singapura menemukan fakta terbaru mengenai sejarah tsunami di Aceh yang tersimpan di G

Peneliti asal Singapura menemukan fakta terbaru mengenai sejarah tsunami di Aceh yang tersimpan di Gua Ek Leuntie (Liputan6.com/Rino Abonita)

Goa yang berarti nama tahi kelelawar itu memiliki endapan bebatuan jenis gamping kedap air yang membentuk ornamen estetik. Pemerintah Aceh rencananya akan memugar dan menjadikan goa itu sebagai kawasan geological park (geopark).

" BPBA concern dalam tahun ini sedang melakukan pembebasan lahan warga di sekitar Gua Ek Leuntie, sebagai salah satu upaya menjadikan kawasan itu sebagai geopark tsunami," ujar dia.

Goa Ek Leuntie dinilai dapat menjadi pembelajaran mitigasi bencana di Aceh. Sebagai bencana yang berpotensi terulang, masyarakat Aceh dinilai perlu mendapatkan pengetahuan lebih mengenai tsunami.

" Provinsi Aceh memiliki sebelas bencana nasional yang harus dapat perhatian dan penanganan khusus dari Pemerintah Aceh," kata dia.

(Sumber: Liputan6.com/Rino Abonita)

Join Dream.co.id