Wawancara Khusus: Pembuktian Barli Asmara

Lifestyle | Jumat, 31 Maret 2017 17:10
Wawancara Khusus: Pembuktian Barli Asmara

Reporter : Ratih Wulan

"Saya dari kecil nggak mau jadi seperti orang lain."

Dream - Para pecinta fashion hijab Tanah Air sebaiknya bersiap. Muslim Fashion Festival Indonesia (Muffest) 2017 yang kali ini bertemakan `Digitarian` akan dihelat pada 6-10 April mendatang.

Ajang ini melibatkan 250 label fashion desainer lokal. Muffest turut menjaring desainer muda Tanah Air dengan mengadakan kompetisi bertajuk `Modest Young Designer Competition 2017`.

Nantinya, para peserta kompetisi harus menyajikan garis rancang tegas dengan warna-warna yang harmonis. Sebanyak 20 slot gelaran fashion show akan dipersembahkan kepada fashionista.

Salah satu desainer kondang yang terlibat yakni Barli Asmara. Perancang busana yang sudah 15 tahun berkarya ini bakal turut meramaikan Muffest 2017 yang akan digelar pada 6-10 April mendatang.

Lalu seperti apa persiapan pria yang bergabung ke Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) sejak 2011 ini menghadapi Muffest 2017? Berikut wawancara khusus Barli Asmara dengan jurnalis Dream.co.id, Ratih Wulan Pinandu:

Bagaimana persiapan menghadapi Muffest 2017?
Ada dua pilihan. Kami akan menampilkan yang `White by Barli Asmara` saja yang khusus modest wear. Berarti pilihannya, dia (White by Barli Asmara, single saja. Tapi kemungkinan besar, kami akan styling juga dengan koleksi yang Jambi karena itu juga masih fresh kemarin tanggal 23 Maret 2017 baru launching.

Semoga kita memberi kasih nafas baru lagi. Apalagi poros Jambi ini nafas Islaminya sangat besar. Ini sangat mungkin sekali masuk dalam konsep modest wear.

Berapa banyak looks yang akan ditampilkan? Apa temanya?
Akan ada 15 looks. Sudah termasuk Jambi. Tema lebih ke warna monokromatik, karena akan ada kolaborasi dengan Jambi makanya kami sebut `Royal Jambi`. White by Barli Asmara itu lebih ke power styling. Jambinya sendiri lebih modern dan edgy.

Ada jaket dan outer. Jadi benar-benar siluetnya premium Ready to Wear. Kalau kami gabungkan itu 15 Jambi atau White by Barli Asmara itu bebas. Presentasi lebih ke putih, hitam, abu-abu dan biru.

Siapa target pasar untuk `Royal Jambi`?
Demografi target market kita yakni usia 25 sampai 35 tahun.

Untuk lini busana `White by Barli Asmara` ini sendiri konsepnya seperti apa?
Bukan busana muslim ya, karena muslim itu sendiri nggak ada bajunya. Jangan mengatakan muslim itu jadi baju yang saya keluarkan adalah modest wear yang siluetnya bisa dipakai universe.

Bisa untuk yang berhijab maupun yang tidak. Bahasa fashion modest wear yaitu baju yang tertutup. Punya etika yang berbusana secara santun, tidak terlalu ketat, tidak terlalu transparans dan bisa dipakai untuk menutup aurat sesuai syariat.

Pernah belajar khusus sebelum membuat rancangan modest wear?
Gini, setelah menjalani komunitas karena saya brand ambassador-nya Wardah, kalau untuk belajar khusus nggak. Saya sudah 15 tahun. Saya diberikan berkah dan anugerah menjadi desainer yang otodidak.

Untuk membuat modest wear ini saya dapatkan dari menganalisa dan melihat perkembangan zaman. Saya menganalisa komunitas dan pemakaiannya. Saya melihat tingkat produksi dan konsumsi, buying-selling hijab itu tinggi sekali.

Saya melihat yang diinginkan para wanita pemakai hijab itu bukan busana muslim yang kita kategorikan seperti abaya, tunik yang tidak bisa dipakai sehari-hari. Makanya sekarang ini banyak modest wear yang mengusung temanya layering atau tumpuk-tumpuk.

Apakah untuk tahun ini model layering masih akan bertahan?
Sampai kapan pun menurut saya layering akan terus ada. Karena semakin kita pintar untuk mix and match. Tak akan menutup kemungkinan kita pakai kemeja lengan panjang di luarnya pakai rompi. Atau kemeja panjang di luarnya pakai rompi.

Bagaimana dengan warna?
Dari tahun ke tahun tidak ada pemilihan warna yang akhirnya menjadi patokan warna. Mau warna alam, pastel atau lebih kaya warna awan, warna salju warna bumi, flora atau warna-warna fauna atau solid, akan terus ada.

Sekarang mulai banyak warna-warna alam. Banyak emblem-emblem kaya flora fauna seperti bunga, kupu-kupu, capung dan kumbang.

Ada yang menyebut baju yang sesuai syariat itu tidak boleh menampilkan wujud binatang. Bagaimana tanggapannya?
Buat saya aturan apapun itu balik lagi kepada yang memakai. Kalau memang ada aturan itu ya silahkan saja. Tapi kalau ada yang memang beranggapan memakai emblem fauna, namun tetap tertutup serta tidak melanggar aturan ya silakan saja.

Balik lagi ke yang mengenakannya. Apakah kita sudah yakin apakah diri kita benar, alasannya harus kuat.

 Barli Asmara© Idho Rahaldi

Kapan `White by Barli Asmara` launching?
Start up mulai dari pertengahan 2016. Kami sudah godok maunya seperti apa. Dan kita rilis dari Januari 2017. Harganya dari Rp 300 ribu sampai dengan Rp 1,5 juta, yang styling-nya bisa dipakai untuk segala occasion dengan cara styling-nya mendekatkan komunitas hijab atau tidak.

Untuk white ini artinya dikategorikan luas. Lebih universse bisa diartikan putih bersih dan bisa dikombinasikan dengan segala macam pakaian. Dan tidak menutup kemungkinan warna-warna lain. Karena semua warna, asal-muasalnya putih.

Bagaimana dengan kain, apa saja yang akan dipakai?
Kalau untuk opsi pertamanya kami akan mix dengan Jambi tentunya akan pakai semi sutra, maka akan ada bahan twistcone dan dobby. Juga beberapa seperti shifon, organza. Tapi kalau untuk `White by Barli Asmara` nya akan pakai twistcone, pleats, satin pleats, bahan kaos dan jersey.

Untuk Pleats dan jersey. Apakah masih menjadi tren? Apakah tidak mengurangi kesan glamor baju? 
Pleats sekarang lagi booming. Sedangkan jersey atau bahan kaos itu tergantung cara membuatnya seperti apa. Kalau kita buatnya simpel tapi terlihat glamornya ya bagus.

Untuk siluet seperti apa?
Yang oversize, loose lebih panjang seperti loang coat, long vest, long blouse, long cardigan, long shirt sehingga sudah masuk ke modest wear. Palazzo dari tahun ke tahun dari tahun 80an sampai sekarang selalu ada, karena untuk modest wear tetap aman. Fashion itu akan ditinggalkan kalau tidak sesuai karakter. Misal seperti rok balon itu.

 

 

 

2 dari 3 halaman

Kenapa Jambi?

Selama ini belum banyak desainer yang tertarik mengangkat batik Jambi. Kenapa tertarik? Apa keunggulannya?
Saya punya konsep Kain Negeri. Sebuah project yang ingin mengangkat kekayaan kain-kain kita dari 33 propinsi dengan lebih dari 400 titik kabupaten. Di situ sudah berkembang UKM dan IKM.

Kain Negeri ini berporos untuk menaikan kesejahteraan mereka. Menaikkan taraf ekonomi mereka dengan cara digital. Mereka ini terdiri dari penenun, penyongket, pembatik dan pembuat aksesoris. Kita bantu promosikan dengan cara desainer me-rebranding mereka agar merasa disejajarkan, karena selama ini tidak pernah diekspose.

Hanya motifnya yang diangkat. Saya punya misi untuk mengangkat mereka dengan satu tanda kotak bahwa, hulu ke hilir, atas ke bawah, kiri ke kanan dengan kesejahteraan yang sama.

Kita memilih beberapa kain yang ada di Indonesia. Dan yang menyambut baik itu Propinsi Jambi. Kemudian saya dinobatkan jadi Duta Batik Jambi untuk merubah mindset mereka, agar punya komitment untuk membawa batik Jambi menjadi lebih berwibawa. Sehingga kualitasnya lebih terjaga. Karena yang kita kejar sentra pasarnya ke tingkat nasional.

Kain etnik Jambi itu terdiri dari apa saja?
Kalau Jambi itu memiliki ciri khas dari motif sejak abad 18 yang telah dipatenkan menjadi motif signature-nya Jambi. Mereka menghasilkan batik, karena dulunya terdorong untuk menghasilkan uang, sehingga mereka berguru pada pengrajin pulau Jawa. Sehingga menginspirasi untuk menghasilkan motif flora dan fauna.

Seperti misalnya durian terbelah, bunga pauh, kembang sepatu, melati, bunga sawit dan rotan. Cara mereka bekerja seperti nelayan, batik kapal sangkar. Selain itu mereka juga menyongket yang juga saya pakai.

Apa keunggulan songket Jambi?
Dengan pembinaan, mereka sudah bisa menyejajarkan kualitas dengan penyongket dari daerah lain seperti pakai benang 1, 2 atau tiga. Dengan benang nilon atau sutra. Kalau berani bayar mahal biasanya pakai benang satu dan kualitas sutra.

Kalau untuk sekarang kita tingkatkan yang untuk pemakaian daily wear. Ciri khas motifnya, tapi kalau warna mereka terinspirasi daerah sekitar seperti orange, hijau, kuning, merah yaitu wrana-warna yang masih kaya dulu.

Tapi sekarang Barli akan membimbing dan merubah mindset untuk merubah warna itu, untuk season pertama akan tampilkan monokrom. Putih, biru, abu-abu. Setelah ini kita akan kembangkan warna batik dan songket di warna pastel.

Bagaimana cara monitoring dan edukasi kepada perajin di Jambi?
Untuk menjaga kualitasnya kita pakai cara pendekatan ke mereka. Meyakinkan mereka bahwa batik atau songket mereka akan bisa dinikmati oleh orang banyak. Jadi harus menjaga pemesanan di luar Jambi harus siap. Saya ke Jambi dampingi mereka, workshop bisa sampai 5-10 hari di sana.

Apakah mengolah kain etnik Jambi ini pengalaman pertama? Atau sudah pernah sebelumnya?
Kalau yang menyambut baik dan menjadikan saya duta baru Jambi. Sebelumnya saya sudah pernah mengolah kain Garut, pernah memberangkatkan kain Lombok ke New York, tapi itu hanya hit dan run saja. Cuma sampai situ selesai.

Kalau Jambi ini follow up sampai setahun ke depan. Ini pengalaman saya memberi kontribusi ke orang banyak. Jadi tidak sekadar mengambil kain yang sudah ada, tapi mengolah ulang untuk menjadikan tren warna di Jambi. Menjadi sebuah tren dan wawasan baru untuk para pengrajin. Hanya dibutuhkan waktu dua bulan untuk menentukan perubahan warna yang lebih bisa diterima pasar lebih luas.

 Barli Asmara© Idho Rahaldi

Apa kesulitan mengolah kain etnik?
Nggak ada masalah untuk sampai jadi pakaian. Cuma masing-masing pengolahan dan ritual berbeda. Kalau batik bisa salah motong motif, sedangkan kalau tenun bisa salah penyatuan benang. Kesulitan mengubah mindset mereka. Muncul pro dan kontra karena mereka menganggap ini hanya picisan.

Mengubah batik itu menjadi lebih modern, mereka tidak melihat ranahnya, bahwa yang memuja itu pasarnya ada di Jakarta. Gloden Key di Jakarta bukan hanya di lokal mereka saja. Kita harus merubah style dan siluet.

kita nggak mau merusak sejarah dengan mengubah motifnya. Mereka menilai bahwa kurang unsur Islami, karena tidak melihat fleksibilitas rancangan saya. Makanya Muffest ini kesempatan besar untuk membuktikan bahwa, kain Jambi ini untuk membuktikan hal itu.

Bagaimana dengan harga?
Sudah bisa menjual dengan harga Rp 2,5 juta dengan full songket. Kalau untuk pengerjaan kain songket sendiri bisa sampai sebulan untuk 2-3 kain.

3 dari 3 halaman

Selama 15 Tahun...

Selama 15 tahun berkarya, siapa designer favorit yang menjadi inspirasi?
Yang menjadikan saya seperti ini keluarga besar saya. Dari Kakek-Nenek. Mama-Papa saya, karena saya ingin menjadi laki-laki yang tidak hanya meminta, hanya memberikan kehormatan atau men-declare gelar sarjana.

Saya ingin membuktikan, saya bisa menjadi pemimpin karena pemimpin itu bisa memberi banyak hal. Memberi untuk ide, tidak pelit membagi ilmu, tidak egois dan membuka lapangan pekerjaan.

Saya dari kecil nggak mau jadi seperti orang lain. Dari kecil saya mau punya baju banyak karena dari umur 3 tahun sudah pakai atribut fashion. Baik itu jam tangan, tas dan sepatu. Atau mungkin perlengkapan fashion lebih rapi. Dari umur 3-10 tahun inspirasi fashionnya dari orangtua.

Darah fashion mengalir dari orangtua?
Ada, nenek saya itu legenda sebagai orang yang mendidik saya. Dia sebagai orang yang punya sekolah kepribadian, dia punya sekolah kebaya dan bisa bikin kebaya sendiri, makeup sendiri, rias pengantin, bikin sewaan busana-busana tradisional Sunda, pengajar untuk memakai dan cara berjalan. Mama saya capster rambut dan juga makeup, tante saya tahun 90-an itu desainer eranya Poppy Darsono. Tante saya lagi designer perhiasan.

Sudah 15 tahun sudah berhasil menghasilkan berapa line?
Barli Asmara Bride, Barli Asmara Couture untuk presentasi sama Made by Order, Premium Ready to Wear yang namanya All The Horses, White by Barli Asmara, Belle untuk anak-anak yang cewek, Tofftop8 untuk anak-anak yang cowok.

Terus kita mau publish mens wear-nya Barli itu start up tapi belum mulai itu Big Om. Ada Bello untuk anak-anak yang cowok tapi beda dengan Tofftop8 yang preppy. 

 Barli Asmara© Idho Rahaldi

Tips bertahan selama itu?
Saya mengikuti perkembangan zaman. Kalau tidak mau ketinggalan zaman ya sekarang beralih ke era digital untuk mengimbangi genarasi Z. Saya juga memperkuat networking pada sosialita, media, pada artis dan networking di online digital. Yang paling banyak membantu Facebook adds, sistem Facebook yang bisa mempromote produk, Instagram, Website.

Dari semua line itu, mana paling kesayangan?
Sekarang kebutuhan laki-laki banyak. Kadi kita sediakan dengan harga yang addorable. Tapi kalau untuk yang paling suka itu Belle karena baju anak kecil cewek itu lucu, menyenangkan.

Tapi tantangannya juga banyak, karena tidak semua anak kecil bisa membeli baju karena masih harus tergantung orangtuanya. Tapi untuk semua pemesanan semua imbang. Semua bisa diorder di Barliasmara.id.

Apa rencana ke depan untuk pengembangan bisnis? 
Mau persiapan koleksi raya (koleksi Hari Raya). Bekerjasama dengan perusahan pakaian ternama. Lalu mau bergabung dengan e-commerce khusus pakaian modest wear juga dan akan ada kolaborasi dengan Dian Pelangi dalam mengeluarkan label mens wear.

(Ism)

Join Dream.co.id