Stylish di Rumah dengan Koleksi Homedress Batik Lia Mustafa

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2020 17:24

Reporter : Annisa Mutiara Asharini

Ia menggandeng para pengrajin batik yang tidak bisa berjualan karena pasar ditutup akibat pandemi.

Dream - Yogyakarta identik dengan kerajinan batik. Apalagi setelah di tetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Council pada 2014 silam.

Namun Yogyakarta kini dilanda kesedihan. Para pedagang pasar Bringharjo di jalan Malioboro ikut terdampak dengan adanya pandemi corona.

Daerah yang semula menjadi jantung kota itu meredup. Pasar ditutup untuk waktu yang tidak ditentukan. Imbauan pyshical distancing diterapkan demi memutus rantai penularan Covid-10.

Lia Mustafa, fashion desainer dari Yogyakarta berkolaborasi mengajak para pembatik untuk tetap berkarya. Kain-kain batik tersebut diolah menjadi koleksi homedress atau daster stylish.

" Melihat semua keluarga tinggal di rumah akhirnya kami memasarkan produk homedress yang tentu sudah sangat dikenal baik dari kalangan bawah sampai atas," kata Lia dalam rilisnya, Kamis 14 Mei 2020.

Stylish di Rumah dengan Koleksi Homedress Batik Lia Mustafa
Foto: Dok. Lia Mustafa
2 dari 4 halaman

Lihat Koleksinya

Baju rumahan dirancang agar tetap terlihat stylish meski hanya dipakai di rumah. Koleksinya terdiri atas baju dan celana setelan hingga daster maxi dress.

 Homedress Lia Mustafa
© Foto: Dok. Lia Mustafa

Lia menerapkan siluet asimetris di sejumlah rancangan untuk memberi kesan stylish. Setelan baju dan celana dirancang dengan bentuk oversized agar nyaman dikenakan.

Sedangkan untuk daster, Lia mencoba siluet dress menyerupai cheongsam yang sleek dan stylish. Ada juga siluet gamis yang cocok dikenakan oleh muslimah.

 Homedress Lia Mustafa
© Foto: Dok. Lia Mustafa

" Daster atau baju rumahan ini laku pesat, semoga prediksi tidak salah sehingga baju rumah ini justru akan menjadi divisi baru House of L’Mar di Yogyakarta," kata Lia.

3 dari 4 halaman

Desainer Wignyo Rahadi Lawan Covid-19 Lewat Koleksi Masker Tenun

Dream - Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker kain selama pandemi Covid-19. Masker ini merupakan alternatif dari masker medis yang mahal dan mulai langka.

Pemakaian masker kain ditujukan untuk menekan penyebaran virus corona. Kebutuhan akan masker kain turut dipenuhi oleh pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di bidang fashion.

Tak terkecuali desainer Wignyo Rahadi yang merilis produk masker tenun melalui brand Tenun Gaya. Desainer kelahiran Solo itu kembali mengusung kain Nusantara.

 Masker Kain
© Foto: Dok. Wignyo Rahadi

Koleksi masker ini terbuat dari tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) jenis spunsilk dobi dengan kombinasi ragam warna dan corak bernuansa etnik kontemporer.

Motif tersebut antara lain modifikasi kawung yang diberi sentuhan tenun ATBM beraksen full bintik dan salur bintik yang menjadi signature dari brand Tenun Gaya.

 Masker Kain
© Foto: Dok. Wignyo Rahadi

Masker juga dirancang dengan konsep patchwork bernuasa etnik kontemporer. Setiap masker tenun memiliki kombinasi motif yang berbeda sehingga dapat dikoleksi.

4 dari 4 halaman

Berdonasi untuk Sesama

Wignyo sekaligus menggagas program donasi melalui koleksi masker tenun ini. Terutama dengan jatuhnya momen Ramadhan di tengah pandemi corona yang berdampak pada perekonomian di berbagai sektor usaha.

" Masyarakat di daerah pun terkena dampak pandemik ini, seperti di lingkungan sekitar workshop Tenun Gaya di Sukabumi yang banyak kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Untuk itulah, kami beritikad menggalang donasi dari konsumen melalui produk masker tenun," papar Wignyo dalam rilisnya, Senin 11 Mei 2020.

 Masker Kain
© Foto: Dok. Wignyo Rahadi

Sahabat Dream dapat berdonasi dengan membeli satu set produk masker tenun yang terdiri dari tiga buah masker senilai Rp100 ribu.

Hasil penjualan masker ini akan didonasikan berupa sembako yang dibagikan ke sekitar workshop Tenun Gaya yang berada di Desa Padaasih, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat setiap Jumaat selama bulan Ramadan.

Join Dream.co.id