Sholat Dhuha Mas Mono

Lifestyle | Rabu, 27 April 2016 20:35
Sholat Dhuha Mas Mono

Reporter : Arie Dwi Budiawati

"Jangan hanya sekadar bekerja saja, tapi juga ibadah," kata Mas Mono.

Dream - “ Bersyukurlah Anda punya pimpinan yang mendukung segi spiritual,” ujar pria berbaju koko dalam video itu.

Kabah dan Makkah Royal Clock Tower jadi latar. Kalimat Talbiyah berkumandang. Labbaikallaahumma labbaik...

Video berdurasi setengah jam itu terus diputar. Menampilkan ribuan orang berikhram. Menyemut. Berjubal memutari Kabah. Mereka tengah tawaf. Menjalankan rukun umrah. Dan pria berkalung surban itu terus berpetuah.

“ Jangan hanya sekadar bekerja saja, tapi juga ibadah,” pesan pria itu kepada semua orang yang menonton video umrah ini.

Pria dalam video itu adalah Agus Pramono. Pemilik usaha “ Ayam Bakar Mas Mono” itu tengah umrah bersama anak buahnya.

Lewat video itu, dia memotivasi usahawan Muslim untuk menjalankan Spiritual Company, prinsip berbisnis dengan menerapkan nilai agama.

“ Sejak tujuh tahun lalu, saya libatkan Allah dalam usaha lewat Spiritual Company,” kata Mas Mono dalam acara Corporate Gathering PPPA Daarul Quran: Membangun Spiritual Company di Jakarta, pekan lalu.

Dengan Spiritual Company itulah Mas Mono menjalankan sekitar 20 cabang. Konsep itu pula yang dia terapkan untuk membina sekitar 400 karyawan. Usaha dengan omzet puluhan juta sehari ini berhasil dia bangun dengan nilai-nilai agama.

 

2 dari 3 halaman

Bukan perkara mudah...

Tak mudah bagi Mas Mono menjadi miliader. Sukses itu tak datang dalam sekejap mata. Harus menempuh jalan berliku. Jatuh bangun dia jalani dengan sabar sejak merintis usaha ini pada 2001 silam.

Semula, Mas Mono bekerja sebagai office boy. Saat menjadi OB inilah dia merasa tercambuk. Kala itu, sang ayah yang tinggal di kampung, wafat. Tapi sayang, karena tak punya uang, dia tak bisa balik. Sungguh nelangsa.

Tak hanya itu, saat menjadi karyawan pula, Mas Mono merasa kesulitan untuk menjalankan ibadah. Aturan yang diterapkan kantor, terlalu ketat. “ Saya pernah merasakan betapa tersiksanya tidak bisa Sholat Jumat,” tutur Mas Mono mengenang.

Pengalaman-pengalaman itu membuat Mas Mono berhenti kerja di kantor. Dia banting setir. Beralih jadi pengasong. Menjajakan gorengan, berkeliling sepanjang jalan. Keluar masuk gang, dari kompleks ke kompleks, sekolah ke sekolah.

Setelah cukup lama berkeliling, Mas Mono kemudian menyewa lahan untuk berdagang. Dia tak lagi keliling. Gorengan itu dijajakan di atas lahan yang disewa itu.

Tapi kemudian, dia merasa hanya mendapat untung tipis dari gorengan. Sehingga beralih menjual ayam bakar.

Usaha baru ini rupanya berhasil. Kepulan asap dari panggangan mampu menarik pelanggan. Sedikit demi sedikit pelanggan datang. Tak butuh waktu lama, usaha ayam bakar berkembang. Hingga akhirnya mampu mempekerjakan 60 karyawan dan sehari mampu menjual 80 ekor ayam.

Kehidupan manusia memang bak roda. Terus berputar. Kadang di atas, sekejap kemudian di bawah. Itu pula yang dialami Mas Mono. Saat usaha ayam bakar tengah melambung, dia terkena gusuran.

Jelas dia kelimpungan. Usahanya terancam. Belum lagi harus memikirkan nasib 6 anak buah. Saban pelanggan datang, dia ajukan pertanyaan. Dia minta rekomendasi lokasi baru untuk meneruskan usaha. Dan ketemulah satu tempat: Tebet.

 

 

3 dari 3 halaman

Membongkar rahasia...

Dari sanalah dia bangun kembali usaha ayam bakar ini. Hingga 'beranak pinak' menjadi banyak cabang. Di sekujur Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Kini bahkan sudah memakai sistim franchise. Mas Mono menangguk sukses.

“ Kuncinya ada 3S,” kata Mas Mono, membongkar rahasia suksesnya. Menurut dia, 3S ini adalah sabar, syukur, dan sedekah.

Seorang wirausahawan, kata Mas Mono, harus sabar ketika mendapat cobaan. Lantas, bersyukur atas segala pencapaian. Yang terakhir, sedekah.

“ Itu bagian dari upaya kita untuk mengalahkan ego kita. Saat kita menderita, kita tidak sendirian. Ada yang lebih susah daripada kita,” tambah Mas Mono.

Rahasia itu didapat dari konsep Spiritual Company yang dia terapkan sejak 2009. “ Saya menjadikan usaha ini sebagai ladang dakwah saya. Saya bersyukur punya banyak karyawan. Lalu, omongan saya didengar.”

Dengan konsep itu, karyawan Ayam Bakar Mas Mono harus menjalankan kehidupan religius. Berpegang teguh pada ajaran Islam. Salat berjamaah tepat waktu. Membaca Quran, hingga Sholat Dhuha sebagai tanda bukti masuk kerja.

“ Kalau tidak Sholat Dhuha, artinya tidak absen,” kata pria kelahiran 28 Agustus 1974 ini. Mas Mono juga menutup seluruh warung saat Sholat Jumat.

Meski demikian, penerpan konsep ini bukan tanpa kendala. Di antara para karyawannya, ada juga yang merasa tak cocok. “ Kalau ada seribu kepala, pasti ada seribu karakter, kan?”

Namun, Mas Mono tetap menjalankan Spiritual Company. Dia yakin, masih banyak karyawan yang bisa menjalankan prinsip ini. Dan bagi yang tak mampu, mau apalagi, mereka pasti terseleksi secara alamiah.

“ Karyawan akan terfilter dengan sendirinya. Yang niat bekerja akan ketahuan dan ada loyalitas kerjanya,” kata Mas Mono.

Coba lihatlah hasil nyata konsep Spiritual Company ini. Usaha Mas Mono terus berkembang. Sudah begitu, mental positif para karyawan terbentuk. Semakin jujur dan berhati-hati karena merasa selalu diawasi oleh Allah.

Dan kepada karyawan yang bekerja dengan baik dan bisa beradaptasi dengan sistem ini, Mas Mono selalu memberikan hadiah umrah ke Tanah Suci. Seperti terlihat dalam video motivasi yang diputar itu.

“ Mereka harus menyetorkan hapalan Alquran. Ada ustaznya,” ujar Mas Mono.

Ya, Mas Mono telah membuktikan betapa ampuhnya prinsip Spiritual Company pada usaha yang dia bangun.

Dengan prinsip itu, setidaknya para pengusaha bisa melakukan ibadah sambil bekerja. Bisa jadi, kepulan asap panggangan ayam itu membuka pintu surga. Subhanallah.

Join Dream.co.id