Najua Yanti dan Koleksi Syar'i Deluxe

Lifestyle | Jumat, 7 April 2017 08:15
Najua Yanti dan Koleksi Syar'i Deluxe

Reporter : Ratih Wulan

Najua Yanti akan menampilkan empat brand koleksinya di Muffest 2017.

Dream - Muslim Fashion Festival (Muffest) memasuki tahun kedua pagelarannya. Ajang ini ditunggu komunitas fashion Muslim Indonesia.

Sebagai gelaran fashion khusus pakaian Muslim, Muffest menjadi wadah para desainer untuk menampilkan beragam koleksi terbarunya. Apalagi, ajang ini digelar mendekati dua momen istimewa Muslim, Ramadan dan Lebaran.

Desainer busana Muslim terkemuka, Najua Yanti, turut melibatkan diri dalam ajang ini. Dia telah menyiapkan empat brand, Najua, Zyra, La Rose, dan yang terbaru adalah BellaBaric. Empat brand ini akan tampil bersama brand-brand dari sejumlah desainer terkemuka.

Apa saja saja persiapan Najua Yanti? Simak penuturan Najua kepada Jurnalis Dream, Ratih Wulan Pinandu.

Bagaimana persiapan Anda jelang penyelenggaraan Muffest?

Aku akan menampilkan tiga brandku. Yang pertama ada di slot Sabtu bersama member Hijabers Mom Commuity (HMC). Ini suprise banget karena ada non-founder yang melakukan show tersendiri di ajang event besar seperti ini.

Jadi, ini adalah brand kolaborasi dengan dua rekan di HMC yang akan mengeluarkan La Rose Syar'i. Kita akan mengeluarkan busana yang konsepnya kasual romantic syar'i pada pukul 17.00 WIB. Kemudian pada pukul 18.45 WIB di hari yang sama, show bersama Elzatta.

Alhamdulillah, saya dipercaya menjadi salah satu brand yang siap dikibarkan oleh Elzatta, namanya Zyra Syar'i. Meskipun sama-sama syar'i tapi look-nya totally berbeda karena yang ini itu kasual simpel, basic banget. Walaupun ada sentuhan romantic sangat casual jadi lebih kaya ke baju-baju takwa.

Terakhir ada di closing time, saya bareng Monika Jufry, Hannie Hananto, Sofie dan Barli Asmara. Insya Allah akan menampilkan 75 baju. Jadi, satu desainer menampilkan 15 baju dan saya membawa label Najua. Tahun ini BellaBaric nggak keluar.

Apakah Najua ini firstline dan produk pemium?

Iya. Bisa dikatakan kalau Najua adalah produk ready to wear modest deluxe. Najua sebenarnya juga punya produk syar'i yang deluxe untuk mem-provide orang-orang yang ingin berbusana syar'i secara deluxe untuk ke special occasion. Jadi, kalau Najua itu taglinenya Modest dan Syar'i.

Tema apa yang akan diusung ke Muffest?

Saya terinspirasi dari bunga-bunga cherry blossom, lagi suka lihatnya. Jadi nanti warnanya ada peach dan pink. Ini juga untuk memberikan warna baru untuk Najua karena pada dasarnya warnanya nggak terlalu soft dan nggak terlalu pastel. Jadi, warnanya medium tapi untuk lebaran collection di Muffest ini saya tampilkan warna baru. Jadi, nanti namanya ada sakura-sakuranya gitu.

 Najua Yanti© Dream.co.id

Koleksi Ramadan dan Lebaran sudah siap?

Iya semua slot yang saya show-kan memang dipersiapkan untuk puasa dan hari raya.

Selain cuttingan atau looks, sebenarnya apa pembeda brand premium dengan regular?

Tentu yang membedakan adalah pemilihan kain. Kalau Najua pakainya masih shifon, satin, organza silk yang bahan-bahan deluxe, namun pengolahannya dibuat sederhana. Jadi, bisa dipakai dengan konsep mix and match dengan baju lain. Seperti outer-outer yang saya buat dari organza silk, dengan ada bordir-bordirnya.

Tetapi tidak menutup kemungkinan dapat dipakai dengan celana panjang jins. Jadi, bisa dipakai secara kasual yang nggak begitu rapi atau bahkan bisa dipakai ke acara yang sangat resmi.

Siluetnya seperti apa saja nih?

Cutting tetap flowing, tapi saya pakai cutting minimalis, nggak terlalu banyak main layer. Tetapi saya main di potongan mengembang, walaupun jatuhnya nggak terlalu mengembang. Karena organza kan ringan sekali, karena di dalamya ada baju shifon. Hampir 10 -12 dari 15 baju dalam bentuk  outer. Jadi, dalam show nanti saya akan tunjukkan si outer ini bisa dipakai dengan dalaman dress, bisa juga dengan rok. Dimaksudkan bisa dipakai ke mana-mana.

Empat label ini busana Syar'i semua?

Nggak, jadi saya memang ada label yang khusus busana syar'i dengan khimar panjang. BellaBaric sama sekali bukan syar'i karena dia ready to wear. Kalau Najua bisa menyediakan busana syar'i yang mewah. Kalau Zyra, busana syar'i yang sangat sehari-hari, misal untuk umrah. Tapi kalau La Rose itu busana yang romantic daily wear tapi kurang bisa dipakai untuk acara resmi.

Meskipun saya membuatnya dari bahan shifon. Mau nggak mau saya akhirnya membuat Najua bisa menjadi syar'i meskipun awalnya konsepnya modest.

Brand La Rose tergolong baru, apakah Muffest untuk rilis perdana?

Iya, Alhamdulillah, ini pertama kali tampil. Kenapa kita tampilkan sekarang, bukan di ajang-ajang sebelumnya? Jika kita membranding, akan lebih terasa karena spesifik. Kenapa? Karena itu event Muslim Fashion Festival. Itu event khusus busana Muslim, nggak campur dengan lainnya.

 

2 dari 3 halaman

Berharap Besar pada Muffest

Anda berharap besar pada Muffest tahun ini?

Selalu, insya Allah punya harapan besar sebagai member dan founder komunitas hijab yang, Alhamdulillah, terbesar di Indonesia saat ini, HMC. Saya bersyukur diajak berkolaborasi oleh Indonesia Fashion Chamber (IFC). Saya percaya bahwa Muffest ini akan membawa perubahan, gebrakan baru dan angin segar untuk pelaku bisnis fashion Muslim.

Bedanya Muffest tahun lalu dengan tahun ini apa saja?

Harapannya kita setiap tahun itu membuat yang spesial, classy, afordable dan selalu dinanti-nantikan. Sayangnya tahun lalu itu kita sudah kehabisan tempat yang nyaman kalau mau mengadakan sesuatu yang classy. Tapi tempatnya nggak nemu sampai akhirnya diputuskan di Lapangan Parkiran Timur Senayan.

Alhamdulilah sambutannya bagus. Memenuhi harapan kami seutuhnya dan Alhamdulillah tahun ini kami menemukan venue di JCC yang semoga dapat menaikkan kelas komunitas ini sebagai ajang yang sebenarnya.

Berbagi panggung dengan beberapa desainer, apa yang Anda rasakan?

Alhamdulillah, saya terbiasa berbagi panggung baik di dalam maupun di luar negeri. Nanti malah di slot closing, saya bersama founder HMC. Kita malah sering bareng-bareng malang melintang untuk menggaungkan busana Muslim ke mana-mana.

Kalau untuk Barli baru pertama kali. Sedangkan sama Sofi di asosiasi yang lama sudah pernah beberapa kali.

 Najua Yanti© Dream.co.id

Anda memiliki empat brand fashion Muslim. Adakah yang spesial?

Kalau ngomongin disayang, semua disayang. Tapi pasti ada salah satu yang pertama kali membuka jalan untuk adik-adiknya. Jadi, brand yang sampai sekarang masih melekat ya itu Najua dan BellaBaric. Karena mungkin ya karena lahir untuk pertama kali. Najua yang saya buat pertama kali dan mendapatkan penghargaan seperti Best of UKM Product di tahun 2006. Itu yang pertama kali membuka karir sesungguhnya. Jadi ada perasaan khusus di sana.

Sedangkan kalau BellaBaric mungkin bisa menandi era baru sebagai casual modest wear. Sebelumnya kan busana Muslim selalu tampil dengan look resmi. Jadi, ini gebrakan ya. Waktu itu bukannya saya rilis bareng teman-teman fashion tapi bukan desainer. Itu menjadi megabest seller di Gramedia. Mungkin karena baru pertama kali menawarkan busana yang beda.

Bagaimana dengan Demografi market?

Range market BellaBaric dari SMP dan semua brand itu hingga usia 55 tahun. Saya bersama empat brand ini ingin memberi kesempatan pada wanita berusia matang untuk tampil dengan semangat yang muda. Kalau untuk yang muda penampilannya elegan. Kalau untuk mommy di atas 45 tahun bisa kelihatan muda, bagus dan nggak lebay.

Range harga dari paling rendah hingga tinggi?

Kalau paling rendah itu BellaBaric dari harga Rp 175.000. Bahkan, kalau untuk hijab bisa dari Rp 75.000 pokoknya, sampai yang paling mahal itu Rp 975.000. Kalau untuk La Rose dengan material shifon, kita bermain di harga Rp 500.000-900.000. Itu satu set sudah dilengkapi dengan khimar. Yang paling up itu Najua, arena premium baik modest hingga syar'i itu mulai dari Rp1.250.000 hingga Rp4.500.000.

 

3 dari 3 halaman

Muffest dan Cita-cita Fashion Muslim

Bicara Muffest, tahun ini akan ada apa saja?

Nanti akan ada 200 brand dan desainernya. Nggak cuma pakaian aja tapi ada juga perhiasan dan tas. Member yang dari Perancis itu akan menampikan perhiasan. Jadi, Muffest ini bukan hanya untuk pakaian Muslim saja, tapi benar-benar lifestyle. Akan ada sepatu, tas, aksesoris yang menunjang gaya hidup Muslimah.

Sejauh ini, Muffest menargetkan business to business (B2B) atau business to consumers (B2C)?

Dua-duanya ya, meskipun masih kelihatan yang B2C-nya. Kita melihat respon pasar dari B2C. Karena kalau cuma B2B event ini nggak akan bisa seramai ini ya.

Target pengujung harusnya ratusan ribu. Saya sih optimistis, di tengah lapangan, di bawah tenda, bahwa brand BellaBaric itu sold out apalagi tahun ini kan lebih adem. Harapannya bisa membawa hasil yang lebih baik.

Sudah idealkah Muffest digelar pra-Ramadan?

Untuk event besar, salah satunya Muffest itu sendiri, idealnya diadakan sebelum lebaran. Karena orang itu ramai, berbondong-bondong mencari tren baru, baju baru dan pemain baru atau pemain lama yang mengeluarkan tren baru. Tepatnya sebelum lebaran. Festive-nya busana Muslim itu sebelum Ramadan.

Jadi kalau Fashion Week itu untuk memprediksi tren forecasting, kalau Muffest-nya untuk jualannya. Jadi, kita lebih siap untuk berlaga di penjualannya. Kalau JFW kita memang selalu untuk tren. Kita nggak akan berjualan di situ, kita nggak akan pernah berharap respon pasar. Tapi kalau Muffest, ini  ajangnya memang untuk mengetes pasar. Bisa nggak sih produk dijual, sekaligus menampilkan tren baru, jalan nggak nih.

 Najua Yanti© Dream.co.id

Lebih jauh, apakah Muffest akan dijadikan ajang pemersatu para desainer modest wear untuk mewujudkan Indonesia sebagai kiblat busana Muslim?

Seharusnya iya, daripada diambil yang lain. Karena sekarang saja Malaysia sudah punya Modest Fashion Week. Kalau kita punya goals ke situ, harusnya berbagai pihak menyadari, mengusung seperti itu harus bersama-sama. Nggak bisa sendiri-sendiri. Baik dari desainernya, asosiasi yang mendukung, pemerintah, dari pertekstilan, pokoknya pekerja-pekerja yang bisa mendukung.

Sayang banget kalau nggak bergerak. Karena dari Indonesia itu sudah terkenal dengan desainer yang beragam. Bahkan saat dibawa keluar, orang tidak menyangka itu hasil desainer Indonesia. Mereka pikirnya masih abaya hitam. Yah, itu kan sudah tren 20 tahun silam, apalagi Malaysia itu masih menampilkan busana yang konservatif.

Masih optimistis mengejar cita-cita kiblat busana Muslim di tahun 2020?

Percaya diri, PD-PD aja. Karena kalau kita sudah keluar, melakukan show case, baru kelihatan respon orang. Kalau di dalam saja kan yang melihat orang yang sama. In the same box. Tapi kalau sudah keluar orang  melihat baju kita, akan berpikir we have something different, something good. Mereka sendiri kagum sama kita. Nah, kan lucu orang pada kagum kita malah nggak ngangkat, nggak PD.

Respon di Istanbul Fashion Week bagus banget, karena rancangan kita wearable, nggak baju payet atau nggak terlalu menampakkan baju Muslimnya. Misalnya, baju panjang dengan celana jins, benar-benar yang ditampilkan itu baju Muslim tapi yang bisa dipakai sehari-hari. Bisa dipakai secara kasual juga, yang mereka pikir hanya bisa didapatkan di brand-brand besar seperti Zara, Manggo dan lain-lain. Kalau mau dibawa global itu bisa banget.

Sebenarnya, apa manfaat yang Anda dan para desainer lain dapat dengan sering ikut show di luar negeri?

Masing-masing desainer beda ya. Ada yang berpikir image branding sekalian marketing deh. Yang penting marketing jalan nanti branding juga sudah dapat. Tapi kalau kita mau mengusung Indonesia dikayuh sebagai satu nama besar kiblat busana Muslim di dunia, branding dan marketing harus berjalan beriringan. Itu kenapa saya memecah menjadi beberapa untuk mencari seperti apa pasarnya.

Kalau untuk Najua terlalu berat untuk dibranding karena terlalu wah, nggak bisa go global. Karena bajunya hanya bisa dipakai ke castle, ya, saya bikin yang lain lagi.

Berarti sudah ada rencana go global?

Iyalah ada. Pasti ada dalam 5 tahun terakhir saya menjajaki pasar di luar bagaimana brand itu terjual tapi belum sebagai big company. Saya hanya membawa nama saya sebagai desainer. Tapi harapannya nama ini nanti bisa membawa nama company yang  membawahi beberapa brand.

Di Istanbul Fashion Week responnya nggak cuma dari Turki. Bahkan ada yang dari Eropa. Salah satu mengundang dan mengenalkan kalau punya apparel shop itu berarti ketertarikan.

Lima tahun terakhir busana Muslim sangat bervariasi. Banyak pemain baru, termasuk kehadiran Najua Yanti bersama BellaBaric. Tetapi kenapa semakin ke sini gairahnya seperti sepi?

Sama semua, jadi sebenarnya begini bukan sedikit, banyak. Nggak mungkin kita membuat sesuatu kalau nggak ada impact buat pasar. Kita mau membuat sesuatu yang baru, tapi sama seperti yang lain. Itu malah akan menambah kejenuhan pasar. Bahkan nanti akan membuat brand baru tapi sama saja dengan yang lain, malah akan ikut-ikutan stuck dan marketing-nya jadi nggak bagus.

Beberapa tahun ini lagi banyak banget demand-nya untuk syar'i. Karena eranya banyak orang yang ingin berpakaian lebih istiqomah. Makanya sedikit demi sedikit saya mulai menanggapi. Mulai dari Najua, sedikit-sedikit nyoba pasar. Tapi saya nggak mau sama kaya yang lainnya. Saya ingin membawa sesuatu yang baru, biar dilihat tidak sama seperti yang lain.

Orang kan bosan lihat baju yang itu-itu saja. Kalau yang casual kan juga sangat banyak. Jadi saya tahan dulu BellaBaric untuk nantinya membuat gebrakan baru.

Di luar negeri hijab sport mulai muncul sebagai tren. Bahkan, brand sekelas NIKE ikut melirik bisnis muslim wear. Bagaimana dengan di Indonesia?

Indonesia sudah lama membuat itu. Bahkan dulu brand Irna Mutiara yang up-to-date membuat hijab olahraga. Bahkan yang membuat baju renang juga sudah ada. Hanya saja dunia baru notice kalau pangsa pasar ini sangat besar. Jadi mereka baru mulai.

Tapi balik lagi apakah iya semua orang mampu membeli range market sekelas itu? Nggak perlu takut. Asal kita tampil beda dan spesifik, insya Allah nggak akan ditinggal pasar.

Join Dream.co.id